Menyelami Masa Lalu
Oktober
2010. Tiga hari Ririn remaja pergi bersama rekan-rekannya menuju sebuah hutan
pendidkan guna melakukan acara bina akrab, salah satu bagian dari tiga proses
pengkaderan di kampusnya. Mereka tinggal di dalam tenda-tenda yang didirikan
sepanjang lapangan yang luas. Lapangan itu sedikit kotor, terdapat banyak
‘ranjau’ dan bagian berlumpur. Akses ke lapangan itu pun cukup susah. Harus
mendaki sejauh 4 km ke atas sebelum mencapai daerah yang datar.
Hari
itu, Ririn merasa waktu berjalan begitu lama. Sedetik terasa seperti satu
menit. Mulai dari berkumpul di fakultas, hingga sampai di tempat tujuan, Ririn
tidak memiliki semangat untuk melakukan itu. Semuanya serba terpaksa. Apalagi
ketika mereka semua para mahasiswa baru termasuk Ririn harus memikul tas besar
mereka sendiri dan naik perlahan menuju tempat tinggal mereka selama tiga hari.
“Haaaahhh...
Kakiku?!” gerutu Ririn sambil meregangkan kakinya begitu ia tiba di lapangan.
Ia sudah tidak peduli jika disampingnya terdapat banyak ranjau. Hanya satu hal
yang ada di pikirannya saat ini. Istirahat. Tetapi, istirahat adalah sebuah
impian yang mustahil. Mereka semua datang kesini bukan untuk berlibur melainkan
menyiksa diri sendiri.
Mata
Ririn terbelalak saat masuk ke dalam tenda. Tenda dengan ukuran kecil ini akan
ditempati oleh dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 13-14 orang,
ditambah dengan dua orang kakak pendamping masing-masing kelompok maka total
orang yang akan menghuni tenda seluas 4 x 3 meter adalah 32 orang. Ririn
menempatkan pantatnya di atas karpet, menaruh tasnya yang besar dan mulai
mencari posisi nyaman. Tidak peduli apapun, ia harus merasa sedikit nyaman agar
semua kegiatannya tidak semakin menyesakkan hati.
Saat
hari mulai gelap, bencana besar datang menimpa mereka. Cuaca sangat tidak
mendukung hari ini. Hujan turun sangat deras. Membasahi semua tenda. Air berada
dimana-mana. Di dalam dan di luar tenda. Para senior pria berkeliaran sambil
membagi-bagikan tikar. Kakak damping kelompok dimana Ririn ada pun sibuk
mencari terpal yang tidak tembus air, menutupi bagian-bagian tenda yang terbuka
dan menambal tanah yang berlubang. Setelah satu jam, kondisi tenda bisa
dikuasai.
Ririn
dan kawan-kawan sudah mulai bisa bernafas lega karena air tidak akan masuk
lagi. Dalam diam, Ririn merenungi semua. Menatap teman-temannya satu per satu.
Menangis dalam hati. Apakah harus kita
melalui semua ini? Kenapa kita tidak bermalam di kampus saja?” omel Ririn
atas ketidaknyamanan ini. Saat sedang merenungi nasib, sebuah gerak manuver
terjadi di dalam perutnya. Sudah pukul sembilan malam tetapi belum ada
tanda-tanda mereka akan diberi makan.
“Makan
dulu kue-kue kecil yang kalian bawa. Karena hujan tadi, panitia mendapat
kesulitan untuk memasak” jelas kak Ana, kakak damping kelompok 3 dimana Ririn
berada.
Detik
berikutnya, Ririn tidak merasa bahwa kegiatan ini akan menyenangkan. Setelah
tertidur selama dua jam, mereka dibangunkan dengan kasar dan diminta untuk
datang ke tenda yang lebih besar atau disebut tenda aula. Disana mereka akan
menerima materi di pukul 11 malam ini. Dengan berhati-hati, Ririn menapakkan
kakinya menyebarangi lautan ranjau menuju tenda aula. Sampai disana, rasanya Ririn
ingin menangis sekeras-kerasnya. Kondisi tenda sudah seperti tempat
berkumpulnya puluhan ternak dengan lumpur dimana-mana. Kondisi tenda yang tanpa
lampu membuat Ririn memilih untuk tidur saja selama materi.
Tak peduli akan
tersorot senter panitia ataupun tidak. Satu-satunya orang yang membawa dia
kemari adalah mereka!
Mereka
menghabiskan satu bungkus tissue basah untuk melap kaki-kaki mereka yang penuh
lumpur ‘campuran’ sebelum masuk ke dalam tenda. Secepat mungkin, Ririn mencari
posisi yang nyaman. Namun, ia harus puas dengan tidur dengan dihimpit
teman-temannya. Satu hal yang membuat ia sedikit puas karena ternyata hari itu
tidak sepenuhnya buruk. Saat jam sebelum meninggalkan hari jum’at, Ririn
menangkap sosok yang membuat hari yang buruk akan menjadi indah. Ternyata eh
ternyata, kakak damping kelompok yang bermalam bersama mereka adalah idola Ririn.
Siapa lagi kalau bukan kak Kiky. Tanpa memperdulikan kondisi tidurnya yang
tidak nyaman, Ririn mencoba menutup mata dan berharap kak Kiky masuk ke dalam
mimpinya.
Sebenarnya,
kegiatan bina akrab tidak sepenuhnya buruk. Ada memori-memori lucu yang akan
menjadi kenangan indah di kemudian hari. Misalnya saat tertidur ketika
mendengar materi di alam terbuka, saat mengumpulkan sampah di hari terakhir,
saat berlari menjauhi tempat perkara ketika berlatih aksi, saat mendaki gunung
mencari tetes-tetes air untuk membersihkan diri, saat menahan haus karena
kehabisan air, saat berbagi tetes-tetes kopi panas sebagai pengganti air, saat
mengelabui senior ketika outbond, dan masih banyak saat-saat lain yang akan
menjadi kenangan. Betapapun waktu yang berlalu berjalan dengan lambat, namun
jika semua dinikmati dengan hati senang semua yang berlalu akan menjadi indah.
Ririn
tertawa lepas bersama teman-temannya sambil berharap-harap cemas menunggu
giliran. Acara terakhir sebelum pulang adalah bersalam-salaman dengan
kakak-kakak senior. Apa yang paling ditunggu Ririn adalah berjabat tangan
dengan seorang ‘namja’ di sisi barat. Sayang, kelompok mereka mendapat giliran
tiga terakhir dan ketika Ririn mulai bergerak, kak Kiky sudah beranjak
meninggalkan tempat. Dia lelah T-------T
Mungkinkah
sesuatu yang diawali dengan buruk akan berakhir buruk juga? ‘Molla’! Ririn naik
ke dalam bis dan mulai tertidur sembari menanti pulang kembali ke kamar kostnya
yang nyaman.
Kak Kiky, kita akan bertemu lagi kan?------- ^
===what the hell aku nulis cerita kayak gini ?? -____-

Comments