NEGERIKU KAYA, RAKYATKU MISKIN
Pagi yang mendung di Jayapura, Natalie tetap
bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Dengan
seragam putih biru yang mulai lusuh, Natalie menghampiri Mama di dapur kecil
mereka. Mama yang sedang menggoreng ikan meminta Natalie mendekat dengan
isyarat tangannya. Sambil tersenyum, Natalie mendekat.
“Makan
dulu baru pergi sekolah. Biar di sekolah tidak cepat lapar.” Mama menyendokkan
sesendok nasi dan menambah sepotong ikan goreng di atas piring lalu
memberikannya pada Natalie. “Ayo makan. Bapak pulang bawa banyak uang. Jadi,
kamu bisa makan ikan goreng. Besok kalau Bapak tidak bawa uang kamu makan sagu
lagi.”
Natalie
mengunyah ikan goreng yang lezat itu dengan cepat. Sarapan yang sangat enak
untuk seorang Natalie adalah dengan ikan goreng. Biasanya, ia hanya memakan kue
sagu kering dengan air putih. Anugerah terindah bagi keluarga Natalie adalah
bisa makan nasi setiap harinya.
Natalie
dan keluarganya adalah salah satu dari potret buram kemiskinan yang masih
banyak di Indonesia. Masih banyak warga Indonesia yang tidak tinggal di rumah
yang layak, makan yang layak hingga memiliki perkerjaan yang layak. Menurut
data BPS tahun 2010, jumlah warga miskin Indonesia masih berada pada tingkat.
Meskipun pemerintah mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi meningkat 5% dari
tahun sebelumnya dan jumlah keluarga miskin sedikit berkurang. Peningkatan
angka kesejahteraan hidup akan terus di usahakan pemerintah.
Peningkatan
angka kesejahteraan hidup yang diusahan pemerintah memang patut untuk didukung.
Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, sangat mungkin bagi Indonesia
untuk meretaskan masalah kemiskinan ini. Namun, jika melihat lebih jauh tentang
persoalan kemiskinan, maka kita akan mendapati sebuah kenyataan yang miris.
Indonesia
di kenal dunia dengan potensi sumber daya alam yang amat kaya. Beberapa daerah
di Indonesia pun dikenal dengan potensi sumber daya tersebut. Misalnya Papua
dengan tambang emasnya, Kalimantan dengan tambang minyaknya, dan Aceh dengan area
pertanian yang subur. Tetapi, menurut data BPS dari zaman dahulu kala, daerah
termiskin di Indonesia tetap saja Papua. Kalimantan masih menjadi daerah yang
penuh misteri dengan suku-suku yang menolak globalisasi serta hidup terasing.
Sementara, kekayaan daerah mereka dikeruk oleh pihak lain dengan berbagai macam
kepentingan.
Berikut adalah data BPS 2010 tentang tingkat
kemiskinan di Indonesia.
10 PROVINSI TERMISKIN DI
INDONESIA
|
No
|
Provinsi
|
Angka Kemiskinan (%)
|
|
1
|
Papua Barat
|
36,80
|
|
2
|
Papua
|
34,88
|
|
3
|
Maluku
|
27,74
|
|
4
|
Sulawesi Barat
|
23,19
|
|
5
|
Nusa Tenggara Timur
|
23,03
|
|
6
|
Nusa Tenggara Barat
|
21,55
|
|
7
|
Aceh
|
20,98
|
|
8
|
Bangka Belitung
|
18,94
|
|
9
|
Gorontalo
|
18,70
|
|
10
|
Sumatera Selatan
|
18,30
|
Berdasarkan,
data di atas bisa dilihat bahwa Papua dan Papua barat menempati urutan pertama
dan kedua sebagai provinsi dengan banyak warga miskin. Menurut data bank dunia
tahun 2012, terdapat 213 juta penduduk Indonesia yang hidup di atas garis
kemiskinan atau dalam artian mapan dari 230 juta penduduk Indonesia. Itu
berarti bahwa ada 20 juta lebih penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis
kemiskinan. Jika dihubungkan dengan data di atas, maka bisa dipastika bawah 20
juta lebih penduduk Indonesia itu ada di 10 provinsi di atas termasuk Papua.
Kenyataan
ini menimbulkan banyak pertanyaan. Terdapat tiga provinsi dari 10 provinsi di
atas yang menerima dana otonomi khusus untuk perkembangan daerah. Lalu,
dimanakah semua dana tersebut? Kenapa tidak mampu untuk menyejahterahkan
penduduk setempat. Selain dana otsus yang tidak jelas pengaplikasiannya,
pendapatan asli daerah untuk daerah dengan sumber daya alam melimpah tak mampu
untuk menyejahterakan penduduk setempat. Dimanakah letak kesalahannya? Jajaran
pemerintah daerah yang tidak becus mengelola anggaran atau memang benar adanya
bahwa Papua di anak tirikan oleh pemerintah pusat?
C




Comments