Orang Shaleh dan Shalehan Tidak Pernah Pacaran



            Sebagai manusia yang dianugerahkan perasaan di dalam hatinya tentu pernah mengalami yang namanya patah hati. Patah hati yang membuat seluruh kehidupanmu seolah telah tamat di dunia, meninggalkan luka yang perih di dalam hati dan pikiran. Sekuat apapun kamu, ketika kenangan itu muncul kembali dan mengisi ruang-ruang memori di dalam otakmu maka rasa sakit akan menyertainya. Meskipun perlahan, Allah akan mengajarkan kita bagaimana untuk menerimannya dengan ikhlas.
            Aku pernah menyukai seseorang di dalam hatiku. Menyimpannya sebagai rahasia karena kurangnya keberanian dalam mengungkapkan. Lagipula, rasanya tak pantas bila seorang wanita mengatakan perasaannya terlebih dahulu. Tak peduli berapa banyak orang yang membenarkan emansipasi wanita termasuk ke dalam kategori ‘nembak duluan’, namun bagiku wanita mempunyai kehormatan. Bagiku wanita dikodratkan untuk menunggu. Maka, aku akan menunggu.
            Penantianku terasa tidak akan menemukan titik terang. Ketika pria kusukai justru menyukai orang lain. Ah, sangat klise. Bagiku yang penggemar film, cerita demikian sangat banyak. Begitupun dengan solusinya. Solusinya ya mengikhlaskan. Toh, selama janur kuning belum melambai maka tak ada kata untuk menyerah. Karena itu, aku masih menyukainya.
            Jarak dan waktu yang memisahkanku dengannya tak serta merta membuatku melupakannya. Aku masih menyimpannya di hatiku dan benakku sembari sibuk dengan kegiatanku di kampus. Dua tahun sudah aku tak mendengar kabarnya. Tak pernah sekalipun aku mencari tahu tentang dirinya karena aku tahu itu hanya akan melukaiku. Aku hanya akan mengingatnya dengan caraku sendiri. Hingga suatu hari, aku menemukan sebuah berita yang yang mengejutkan.
            Pernikahan. Aku pernah memikirkan kata ini. Bagaimana jika dia akan menikah? Menikah dengan orang yang ia sukai? Usia kami yang terpaut dua tahun membuatku sedikit khawatir ketika memikirkan pernikahan. Bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana jika dia menghalalkan hubungannya dengan orang lain tanpa mengetahui perasaanku. Bukankah itu berarti memaksa diriku untuk pelan-pelan melupakannya?
            Berita itu datang. Wanita yang ia pacari selama tiga tahun menikah. Bukan menikah dengannya. Melainkan menikah dengan orang yang lebih mapan. Pria yang usianya jauh di atasnya. Aku tidak mengerti kenapa wanita itu menikah dengan pria yang jauh lebih tua darinya. Mungkinkah karena harta? Mengingat pria yang aku suka belum memulai apapun untuk karir dan kehidupannya. Ataukah karena cinta? Aku mengubur prasangka burukku dengan kembali konsen pada kuliah. Walaupun, hati kecilku sedikit bahagia.
            Pernikahan itu membuatku berpikir banyak tentang perasaannya. Aku selalu merasa bahwa kisah cintaku yang paling menyedihkan di dunia ini. Namun, ketika melihatnya, aku sadar bahwa hatinya tergores lebih dalam. Ah, cinta. Kau bisa membuat seseorang melayang di dunia namun kau juga bisa melemparkannya ke neraka.
            Empat tahun yang lalu, saat benih-benih cinta muncul dihatiku. Aku tertampar oleh sebuah prinsip. Hubungan yang halal antara pria dan wanita hanyalah pernikahan. Bagi remaja ingusan sepertiku sangat mudah untuk mengingkari kalimat itu. Toh, sangat banyak remaja sepertiku yang melanggarnya. Anak sekolah dasar pun sudah menjalani hubungan yang dikenal dengan pacaran. Namun, aku sudah bisa berpikir. Aku bukan ingin bertindak sok suci. Aku hanya merasa aku sudak cukup  memiliki banyak dosa. Cukuplah dengan tidak menambahnya lagi sebisa mungkin. Maka, aku menekan erat perasaanku. Menyimpannya dalam-dalam sehingga hanya aku dan Allah yang tahu.
            Ia berpaling. Penolakan dariku membuatnya sakit hati. Aku menyesal sekali. Namun, aku tidak berani melanggar perintah Allah. Hanya satu yang aku yakini bahwa semua akan indah pada waktunya. Jika ia adalah jodohku maka cepat atau lambat kami akan bertemu lagi.
            Hari itu datang. Hari ketika ia kembali menyapaku. Memohon maaf atas kesahalahnnya dulu. Ia menangis sedih di depanku. Kami besar di sekolah sama, dengan ajaran yang sama. Tapi, nafsu dunia telah menguasainya. Menolak mentah-mentah segala macam fakta tentang pacaran. Kini, ia menangis di hadapanku dengan sedih.
            Di saat yang sama, aku baru saja membaca sebuah suplemen berupa buku dari ustad cerdas punya orang muslim. Buku bertajuk “Udah Putusin Aja” membuatku semakin istiqamah. Membuatku semakin bangga menjadi wanita yang mampu menjaga martabatnya. Dan di saat yang tepat dia datang memberikan bukti bahwa apa yang aku yakini selama ini benar.
            Bukan hanya aku yang berani menolak cinta pria dengan permohonan yang tidak sah. Banyak wanita yang ingin dilamar bukan ‘ditembak’. Banyak wanita yang ingin menjalani hubungan yang halal di atas sucinya pernikahan. Meskipun mereka harus sabar menunggu hingga waktu tertentu. Namun, sangat banyak yang tidak mau bersabar.

Sampai kiamatpun kita tidak akan menemukan pacar yang shaleh dan shalehah. Karena orang yang shaleh dan shalehah tidak pernah pacaran.

           
           C

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y