Waktu Aku Sama Mika





            Baca novel kedua dari Indi yang bertajuk “karena cinta itu sempurna”, membuat saya penasaran sekali dengan cerita sebelumnya, “waktu aku sama mika.” Pernah gak sih kita kepikiran untuk berteman dengan seorang ODHA? Sebagai mahasiswi di fakultas kesehatan masyarakat, bertemu dengan ODHA seharusnya menjadi hal yang biasa. Tetapi, tidak bagi saya. Pengetahuan tentang AIDS saat SMA dan ditunjang dengan paman saya yang aktivis tidak membuat saya prihatin dengan AIDS. 

            HIV/AIDS bagi saya adalah sesuatu yang membosankan. Karena sejak SMA tugas saya untuk mata kuliah penjaskes di kala ramadhan adalah membuat makalah tentang HIV/AIDS. Berkali-kali selama ramadhan di SMA. Saya sudah membaca semua buku tentang AIDS yang ada di rumah. kebanyakan buku tersebut adalah tentang apa itu HIV/AIDS. Lengkap dengan gambar agar semakin menarik atau mungkin menakutkan? Anehnya, saya sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Bagi saya dulu, apa yang dikatakan benar adalah apa yang bisa dilihat. 

            Seumur hidup saya (sampai saya mengetik tulisan ini), saya tidak pernah bertemu dengan orang ODHA. Mungkin, pernah sih tapi kita kan tidak tahu. Insidensi HIV/AIDS itu bagaikan fenomena gunung es. Tidak terlihat. Yang kelihatan hanyalah mereka yang ketahuan ataupun mengaku bahwa dia AIDS. Tetapi, who knows kan?

            Buku adalah jendela dunia. Saya selalu percaya apa kata buku. Karena untuk menerbitkan sebuah buku itu menggunakan tahap yang tidak mudah. Apa yang ditulis harus bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Baik oleh penulis, maupun oleh penerbit. Iya kan?

            Maka, ketika membaca buku tentang Mika. Saya mulai percaya sebuah hal yang tidak pernah saya yakini dahulu. Bahwa orang ODHA itu ada banyak dan mereka butuh untuk dihibur. Siapa sih yang bisa tenang hidup jika ia tahu umurnya tidak akan lama lagi. Bahwa ia telah tertular sebuah penyakit yang belum ada obatnya. Bahwa ia telah tertular sebuah penyakit yang sangat mengerikan. Bahwa ia telah menuai sebuah kesalahan yang pernah ia buat dulu. Bahwa ia...

            Tidak seperti Mika. Dengan semangat hidupnya, justru ia yang menjadi penyemangat bagi orang lain. justru ia yang menjadi malaikat bagi orang lain. justru ia menjadi contoh bahwa tidak selamanya ODHA itu harus direhabilitasi. Bahwa mereka ODHA juga bisa hidup berdampingan dengan kita. Bahwa HIV/AIDS tidak akan menular hanya karena kita tinggal bersama, menggunakan toilet yang sama, menggunakan alat makan yang sama. Andai HIV/AIDS menular lewat udara, mungkin penderita HIV/AIDS akan membludak. Syukurlah, Allah masih adil dengan memberikan sebuah cobaan dengan batas kemampuan umatnya.

            Mika menunjukkan sebuah hal baru bukan saja pada Indi, tetapi pada kita semua. Bhawa hidup itu memang perlu dinikmati dengan cara yang benar. Jangan biarkan kita salah jalan tanpa pengetahuan. Maka, buat teman-teman yang duduk di sekolah dengan pengetahuan yang lebih. Mari kita sebarkan pengetahuan bagi-bagi teman-teman yang tidak tahu bahwa menggunakan narkoba suntik dengan bergantian itu SANGAT BERBAHAYA. Bahwa berhubungan seks secara bebas itu SANGAT BERBAHAYA.

            Satu quote yang bagus buat saya dari Mika adalah : kesalahan + kesalahan + kesalahan = pengalaman! Cucok buat saya yang sangat takut berbuat salah. Tetapi, jangan sampai kita menjadi orang bodoh yang sudah tahu salah tapi masih tetap dilakukan :D
           
Caww~ *boww*
C

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y