BERHIJAB, bukan BERHIJAB
Bingung
dengan judulnya? Saya juga! Haha~
Fenomena
sosial menarik tengah bergelut di negeri tercinta kita. Ketika pada tahun
90-an, wanita-wanita berkerudung dianggap aneh di mata masyarakat. Kini, hampir
setiap wanita berbondong-bondong mengenakan kerudung. Meskipun banyak yang
salah, namun saat ini hampir rambut-rambut perempuan ditutupi oleh kain yang
disebut kerudung.
Ini
memang sebuah fenomena, karena hal-hal seperti saat ini ketika wanita-wanita
indonesia banyak yang berkerudung tidak akan kamu dapatkan di zaman bapak-ibu
saya dulu. Dulu, orang yang berkerudung dianggap aneh dan kurang gaul. Disamakan
dengan ibu-ibu dan bahkan bisa masuk penjara (kayak di eropa gitu). Namun
kebalikannya sekarang, wanita-wanita berkerudung dianggap gaul dan mengikuti trend fashion.
“Kenalin,
gue anak hijabers!” kata seorang gadis sambil melambaikan tangannya. Pakaiannya
memang tertutup dari atas sampai bawah. Dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Dan, menurut hukum anak muda saat ini ia masuk dalam kategori “gaul”.
Well,
sambil berpikir keras. Saya mencoba mengartikan arti kata “gaul” tersebut. Gaul
di dalam pikiran saya mungkin tidak jauh-jauh dari tahu banyak tentang justin
bieber hingga boyband korea. Tapi, “gaul” wanita saat ini adalah mampu ‘berhijab’
dengan ‘benar’.
Hmm..
jika kita melihat pada zaman ibu dan bapak saya, dimana gadis mengenakan
kerudung disamakan dengan ibu-ibu dan terkesan tidak gaul. Maka, saat ini untuk
membuat kerudung menjadi fesyen dan
dianggap gaul. Berbagai modifikasi dilakukan. Mulai dari cara menggunakan
kerudung yang dililit-lilit bagaikan ular hingga kerudung yang kain-kainnya dikaitkan
hanya dengan jarun-jarun yang berbahaya sekali. Tak lupa dipadukan dengan
baju-baju panjang yang gemerlap dan berwarna-warna cerah atau dengan jeans
belel yang ketat berwarna cerah. Maka, jadilah wanita berkerudung yang trendi
dan gaul.
Ketika
fesyen seperti itu merebak,
wanita-wanita yang dulunya enggan berkerudung mulai berubah pikiran. Apalagi mereka-mereka
yang sangat mengikuti trend busana. Sayangnya, banyak dari mereka yang hanya
menganggap kerudung sebagai fashion
tanpa melihat arti sebenarnya dari kewajiban menutup aurat. Sehingga, kerudung
hanya dikenakan untuk momen-momen tertentu. Semisal ke sekolah atau pergi ke
kampus plus jalan-jalan dan pergi pesta.
Hijaber
gaul menjadi hilang sisi keislaman yang seharusnya diembannya. Ketika wanita
harusnya menyadari kewajiban menutup aurat karena Allah bukan karena fashion.
Well,
tulisan ini sebenarnya ditulis untuk kita bersyukur
karena banyak wanita yang mulai menutup aurat dengan mengenakan kerudung. Namun,
mengingat masih banyak yang salah dalam niat tidak ada salahnya kita saling
mengingatkan. Saya sendiri masih jauh dari sempurna dalam menutup aurat. Namun,
insya Allah saya mengenakan kerudung bukan karena tuntutan apalagi fashion.
Terlepas
dari itu semua, mau bagaimana pun cara mengenakan kerudungnya. Mau dililit-dililit
atau di puter-puter. Selama masih memenuhi tiga unsur hijab syar’i maka itu
bagus sekali. menutup aurat, tidak
membentuk, dan tidak tembus pandang. Walaupun lebih banyak yang tidak masuk
ketiganya sih.. heheheheh...
Terakhir,
ini ada foto dari buku “Yuk, Berhijab”-nya Ust. Felix Siauw :
okeh? selamat malam....
C


Comments