(Kuliah Kerja NyamanG) : The Adventure Has Begin
Dan ketika malam tiba, di kesunyian
pondokan yang menyesakkan, aku mengingat kalian. Bukan berarti hanya karena
sedang sepi kalian teringat. Sungguh. Itu karena ketika sepi kalian benar-benar
ngangenin.
Dulu. Di dalam pikiran kita
masing-masing pasti merasa bahwa kuliah kerja nyata itu akan menyebalkan,
kurang seru, membosankan dan lain-lain. seperti saya yang sudah tiga kali
praktek lapangan, kegiatan kkn ini membuat saya banyak berpikir. Mungkin nggak ya saya ketemu sama
orang-orang yang asyik kayak temen-temen pbl? Mungkin nggak ya saya bisa
berbaur dengan mereka mengingat kita berasal dari fakultas yang berbeda-beda?
Banyak sekali
pertimbangan-pertimbangan yang hadir di dalam benakku. Walaupun, suka dan tidak
suka, mau dan tidak mau, saya tetap harus menjalani dua bulan yang ‘buram’ itu
mengingat kkn adalah salah satu mata kuliah wajib. 4 sks lagi. Dan mungkin kita
mengalami pemikiran yang sama. Let’s go!
Well, dan dua hari setelah pelatihan
dengan satu hari rest setelah pbl 3
dua minggu, terbanglah kita-kita ke desa terujung di kabupaten takalar. Perjalanan
yang ditempuh dari kanotr bupati hingga rumah pak desa kurang lebih sama
jauhnya dengan jarak makassar ke kantor bupati. Kepala saya sampai ngantuk
melihat jalan yang hanya berupa hamparan sawah. Harusnya sih saya takjub,
karena ini pertama kalinya saya melihat sawah yang begitu luuuuaaass. Sawah-sawah
di daerah Keeroom-Jayapura tidak ada seberapanya. Mungkin ini yang sering
disebut ironic condition sama orang-orang
intelek. Indonesia yang sawahnya terhampar luas dari sabang sampe merauke kok
beras aja harus di impor? Weleh-weleh!
Sambil geleng-geleng kepala dan
mengkritisi pemerintah, saya pun tersadar. I’m
not alone in this car! Yaiyalah, masa sendirian sih. Yang bawa mobil siapa
donk? Achi? Nggak mungkin! Yup! Selain pak Desa yang sudah berbaik hati
menjemput kami ke kantor kecamatan dengan dua mobil, juga terdapat teman-teman ‘baru’
yang akan membagi kisah hidup bersama selama dua bulan.
Sepanjang perjalanan, hanya diam dan
sunyi yang menemani. Sesekali diiringi pertanyaan singkat dari pak desa. Dan dijawab
singkat juga oleh kami. Di benakku masih berkecemuk tentang
kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan saya alami di lokasi. Misalnya,
rumah yang kami tempati tidak memiliki listrik dan kamar mandi yang dilengkapi
dengan air mengalir sampai jauh. Dengan perjalanan yang jauh ini,
kemungkinan-kemungkinan terburuk itu semakin besar peluangnya. Mengakibatkan munculnya
kekhawatiran-kekhawatiran yang berujung pada aksi diam. Atau lebih tepatnya
merenung. Kami semua merenung dalam
diam, dan mungkin seraya berdoa dalam hati agar hanya yang baik-baik yang
diberikan pada kami.
![]() |
| Sawah-sawah yang membentang luas. Indahnya... |
Alhamdulillah. Dan, semua
kekhawatiran itu terjawabkan dengan tiba selamat di rumah pak desa. Yang besar
dan indah. Meskipun 50 meter di sampingnya, sebuah kandang sapi yang agak kecil
terletak di sana. Whatever lah, buat
anak FKM, bau sapi udah biasa cyiiin. Tiga hari dua malam kita dipaksa tidur di
lapangan berbau sapi. It’s call BSLT! Yang penting, ada air. Air merupakan
komponen yang penting di muka bumi ini. Tanpa air, everything is nothing. Like i without you #salahfokus
Dan ketika kami menginjakkan kaki
kiri kami di permukaan tanah desa towata, the
adventure has begin.
To be continued...
C



Comments