Godaan Setan
Susahnya
menahan godaan untuk tidak pacaran di zaman sekarang. Apalagi ‘pacaran’
merupakan suatu hal yang dianggap biasa saja bahkan terkesan wajib untuk semua
anak muda. Pacaran menjadi ajang berbagi kasih sayang dan perjalanan menuju
jodoh sejati. Tetapi, benarkan mencari jodoh harus dilakukan dengan pacaran?
Banyak
pelajaran yang saya dapatkan ketika masih di sekolah menengah atas. Bahwa pacaran
adalah suatu hal yang WAJIB ditinggalkan. Sebagai umat islam, kita seharusnya
mengerti akan aturan yang sudah dibuat bahwa pacaran sama saja dengan mendekati
zina. Hukum mendekati zina adalah dosa, lalu mengapa pacaran menjadi kegiatan
yang sangat trend di kalangan remaja dan anak muda. Bahkan, anak SD pun sudah
mengenal aktivitas ini.
Budaya
luar yang mempopulerkan cerita pacaran merupakan cikal bakal trend pacaran di
Indonesia. Dulu sekali, haram hukumnya bagi laki-laki dan perempuan untuk
berdua-duaan. Bahkan, sebagian besar pernikahan pada zaman dahulu didasarkan
atas perjodohan keluarga. Jarang sekali yang berawal dari kegiatan yang namanya
pacaran dan pertunangan. Sayangnya, haramnya pertemua laki-laki dan perempuan
sebelum menikah di dasarkan atas adat yang mengharuskan demikian. Bukan karena
agama yang melarang.
Dewasa
kini, seiring perkembangan zaman dan teknologi komunikasi yang semakin maju. Adat
yang mengharamkan pertemuan laki-laki dan perempuan mulai digeser budaya luar
yang lebih maju. Untuk saling mengenal dan perjalanan mencari pendamping hidup,
pacaran mulai dilegalkan. Banyak anak muda yang memiliki pacar. Awalnya pacaran
tidak begitu jauh kelewatan. Hingga pacaran kini menjadi ajang untuk bertukar
kasih sayang lewan sentuhan tubuh. Tak heran jika banyak perawan kita yang
kehilangan kegadisannya. Bahkan, banyak dari mereka yang sudah melakukan
aborsi. Astagfirullah.
Bahayanya
pacaran memang tidak terlihat jika kita tidak ingin melihat. Pacaran menjadi
pintu masuk segala kemaksiatan. Bukankah kita sudah dilarang berdua-duaan.
Karena orang ketiga adalah setan. Setan yang mengganggu manusia dan menyesatkan
pikiran manusia. Pacaran adalah kegiatan yang kerap dilakukan berdua-duaan di
tempat yang gelap. Maka, sudah jelas jika pacaran adalah pintu gerbang ke
kemaksiatan. Lalu, mengapa negara kita yang mayoritas islam malah memiliki
remaja-remaja yang menghalalkan pacaran?
Begitu
banyak godaan. Mulai dari film-film luar yang mengekspose indahnya hubungan
pria dan wanita hingga musik-musik tentang cinta. Tapi, benarkah karena itu?
Pacaran
kini menjadi suatu hal yang wajib bagi anak muda. Mereka yang tidak pacaran
dianggap aneh dan tidak laku. Jomblo, panggilan mereka. Pernah disebuah acara
workshop, saya terkejut dengan tanggapan pemateri ketika bertanya pada seorang
peserta. Ceritanya, kami sedang diajari bagaimana melakukan wawancara kerja. Dan
pemateri akan memberikan tips ketika pewawancara menanyakan tentang status
perkawinan. Apakah sudah menikah atau belum menikah. Hal ini dikarenakan
kebanyakan perusahaan menerima pekerja yang belum menikah. Pemateri pun
mengajari kami bagaimana caranya untuk menjawab yang baik dan benar. Pertanyaannya
dimulai dengan “apakah anda memilik pacar?”
Pemateri
: Apakah anda punya pacar?
Peserta
1 : Iya
Pemateri
: apakah anda memiliki pacar?
Peserta
2 : Tidak
Pemateri
: Apakah anda memiliki pacar?
Peserta
3 : saya tidak pacaran.
Pemateri
: Kok? Mana ada orang tidak pacaran? Jawabannya hanya ada dua, punya dan tidak
punya. Ini kok malah tidak pacaran?
Dari segi menjawab memang si peserta
salah. Harusnya kan dia bilang tidak saja. Tetapi, jawaban peserta membuat saya
berkesimpulan bahwa dia memiliki keyakinan bahwa pacaran itu tidak ada dan
mungkin si peserta tidak setuju dengan pertanyaan pemateri yang seolah-olah
mengatakan pacaran adalah hal yang biasa saja. Padahal itu kan luar biasa
dilarang dalam agama.
Menyadari antusias anak muda tentang
kewajiban berpacaran kadang membuat saya goyah. Apalagi hobby saya adalah
menonton drama korea yang kebanyak bercerita tentang kisah romantis antara pria
dan wanita sebelum menikah. Godaan yang paling berat adalah melihat teman-teman
kita memiliki pasangan belum menikah, bisa diajak jalan, bergandengan, makan
berdua. Persis seperti adegan di drama korea yang romantis. Godaan itu semakin
lama semakin besar sehingga rasa-rasanya ingin segera saya runtuhkan benteng
pertahanan. Prinsip hidup untuk menikah seperti kisah-kisah cinta islami.
Impian saya untuk bertemu dengan pasangan hidup yang alim dan memiliki
pemikiran yang sama dengan saya ingin sekali saya runtuhkan lantaran godaan
untuk pacaran itu begitu berat. Memang ya, setan itu selalu bisa menggoda
manusia.
Alhamdulillah,
saya masih bertahan. Apalagi setelah bertemu dengan orang-orang yang sepaham
dengan saya di dunia maya. Malah mereka menerbitkan buku-buku tentang manfaat
pacaran setelah menikah. Mereka terang-terangan menolak budaya pacaran yang
tidak sesuai dengan agama kita. Dan banyak juga yang antusias membaca buku
mereka sehingga membuat saya yakin bahwa banyak juga anak muda kita yang tahu
bahwa pacaran itu dilarang.
Buku seperti Udah Putusin Ajah dari ust.
Felix Siauw, Tausiyah Cinta dari @tausiyahcinta, KUA dari @tweetnikah dan
Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan dari ust. Salim Al Fillah. Buku-buku
lainnya juga banyak. Mereka-mereka ini hebat sekali karena mau menyampaikan
kebenaran kepada yang lainnya bahwa pacaran itu tidak ada manfaatnya sama
sekali. Tidak seperti saya. Meskipun saya tahu, tetapi mengajak teman-teman
yang lain untuk tahu juga itu sulit sekali. Taku dianggap kuno dan tidak
modern. Jadi lebih baik diam.
Begitulah
godaan untuk pacaran. Semoga kita-kita yang yakin jodoh datang bukan hanya
karena pacaran tetap istiqamah dengan keyakinan kita.

Comments