Ingin Allah Adalah Yang Terbaik Bagi Kita
Apa yang terjadi
tidak seperti yang kita pikirkan
Seperti
hari ini, saat teman seperjuangan dari semester satu sudah memulai start duluan
untuk menjadi seorang sarjana. Saya masih terpaku pada suatu titik. Tidak bisa
berpindah meskipun keinginan kuat sudah mendorongku dari dalam. Memaksaku untuk
terpacu dengan langkah kaki cepat dia. Sayang,
tidak semua yang terjadi seperti yang kita harapkan.
Seperti
tadi, saat saya berdebar bertemu dengan pembimbing dua saya yang susah
sekali untuk ditemui. Banyak sekali yang saya takutkan karena tidak
berharap mendengar kata ‘perbaikan’ lagi darinya. Mulai dari masalah variabel
hingga metodologi penelitian. Itu semua karena saya benar-benar ingin berada di
depan penguji juga. Bagaimanapun mengerikannya jika hari itu tiba. Setidaknya,
saya tidak harus menunggu tahun depan. Sayang,
tidak semua yang terjadi seperti yang kita harapkan.
Seperti
ketika dosen pembimbing saya mengatakan sesuatu yang di luar dugaan. Jauh dari
apa yang saya pikirkan tentang kesalahan saya. Jauh dari apa yang ingin saya
dengan dari mulutnya. “ACC”. Saya ingin berlonjak karena ketakutan saya di
hari-hari sebelumnya hanyalah kekhawatiran yang semu. Tapi, saya tidak bisa
berlonjak sebab ingin menangis karena kesalahan saya adalah sesuatu yang tidak
saya pikirkan sebelumnya. Sehingga, tidak ada harapan lain selain mengganti
kesalahan itu dan bersabar hari demi hari untuk bisa mengikuti jejaknya. Memang, tidak semua yang terjadi seperti
yang kita harapkan.
Saya
tidak menyalahkan dosen saya. Ini murni adalah kesalahan saya yang tidak peka,
tidak mau bercepat-cepat. Mungkin, ini adalah jalan yang terbaik yang diberi
Allah padaku. Seperti kata seseorang,
Jika Allah mengabulkan doaku, maka
aku bersyukur karena itu adalah inginku. Namun, jika Allah belum mengabulkan
doaku, maka aku juga bersyukur karena itu adalah ingin Allah. Apa yang Allah
kehendaki adalah jalan terbaik bagi umatnya. Bersyukurlah.
Maka, mari kita bersabar menanti tahun depan.
C

Comments