[Mozaik Blog Competition 2014] Ayah bilang, aku jadi penulis saja!
Event Mozaik Blog Competition sponsored by
beon.co.id.
Ayah bilang, aku jadi penulis saja!
![]() |
| Jangan pernah menyerah untuk mimpi... |
Dulu..
dulu sekali. Waktu usia masih menginjak belasan tahun (soalnya sekarang sudah
kepala dua),
ibu berkata padaku. Entah itu sebuah sindirian atau
sebuah pujian. Aku kecil masih begitu bodoh untuk mengerti. Atau mungkin
terlalu bodoh oleh rasa bahagia menyelesaikan cerita pertama.
“Bagus. Khayalan kamu bagus. Tapi, jangan
lupa belajar ya!” ujar ibu setelah membaca cerita lima halaman yang kutulis
sendiri selama dua jam. Sambil mengamati tulisanku, perasaan bangga dan senang
karena bisa menyelesaikan sampai ending, terkelupas sedikit. Benarkah ini hanya
khalayan?
Aku
kecil masih terlalu bodoh untuk mengerti sastra. Aku kecil hanya mengetahui
bagaimana menulis apa yang tengah aku rasakan, aku lihat, aku dengar, yang
tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Itu karena aku begitu pemalu. Saat
mendengar tentang “khayalan”, aku pikir itu sebuah penghinaan luar bisa untuk
seorang penulis. Lahir dan besar di lingkungan yang tidak begitu menyukai
tulisan dan bacaan memang menyedihkan. Hanya saja, semangat untuk terus menulis
tidak pernah patah begitu saja.
Bukan
hanya ibu yang mengatakan aku seorang pengkhayal yang bagus. Beberapa rekanku
saat ini juga begitu kejam mengatakan bahwa aku pandai sekali mengkhayal. Membedakan
penulis fiksi dan penulis nonfiksi. Menurutnya, penulis fiksi hanya bisa
menulis sesuatu yang tidak benar. Berbeda dengan penulis karya ilmiah yang
menulis sesuatu yang benar-benar nyata. Ia tidak sadar bahwa sebenarnya penulis
novel maupun penulis karya ilmiah itu sama-sama memulai tulisannya dari sebuah
khayalan. Berawal dari sebuah impian yang terbentuk di dalam pikiran lalu
kemudian dituangkan dalam bentuk barisan kata. Temanku itu tidak sadar, bahwa
tulisan esainya untuk mengikuti lomba penulisan ilmiah bermula dari
khayalannya.
Imajinasi.
Aku lebih senang menyebutnya demikian. Dibandingkan kata khayalan yang terlalu bermakna pada sesuatu
yang hanya impian. Imajinasi lebih terdengar ilmiah. Bahkan, Einsten mengatakan
jika imajinasi itu lebih penting daripada
pengetahuan. Seperti sesuatu yang tidak ada menjadi ada karena karunia dari
Allah, imajinasi bekerja demikian. Imajinasi-ku bekerja saat masih menyukai
dunia bacaan.
Hampir
setiap hari aku menghabiskan waktu dengan membaca. Memiliki banyak peninggalan buku
dari kakak-kakakku membuat aku menjadi sering membaca. Selain karena kompleks
tempat tinggalku tidak terlalu ramai oleh anak-anak seumuran, rumah yang
kutinggali juga lumayan sepi. Membaca menjadikan hari-hariku lebih ramai.
Sambil membaca kita seperti terhanyut ke dalam cerita tersebut. Ini kisah yang
sering kita rasakan sebagai pembaca.
Suatu
hari, saat sedang membaca novel anak-anak terjemahan, aku begitu terkesima
dengan gaya bahasa yang digunakan penulisnya. Mungkin karena itu novel
terjemahan, atau memang demikian gaya bahasa penulis luar negeri. Berbeda
sekali dengan novel dalam negeri yang begitu sulit dipahami kata-katanya. Atau
mungkin karena itu merupakan novel anak-anak, maka gaya bahasa yang digunakan
cukup mudah dimengerti. Selain gaya bahasanya, ide cerita yang unik khas film
hollywood tersaji dengan begitu matang. Membuat pembaca bisa membuat film
sendiri setelah menamatkan novel. Cerita yang disajikan membuatku banyak
berpikir. Bagaimana mungkin penulis ini
bisa membuatku ingin menulis juga? Setelah tamat, satu hal yang aku
pikirkan adalah untuk bisa membuat cerita juga.
Ternyata
menulis itu tidak mudah. Bohong sekali jika penulis-penulis besar mengatakan
menulis itu sesuatu yang mudah. Menulis itu sama sulitnya dengan mempelajari
matematika. Jika ada yang meremehkan anak sastra karena hanya bisa menulis,
mereka salah besar. Menulis juga membutuhkan rumus. Menulis membutuhkan
ketelitian, ketekunan, dan harus bisa berpikir juga. Meskipun beberapa
pelatih-pelatih pada acara pelatihan kepenulisan mengatakan, “tulis saja apa yang kamu rasakan. Jangan
dibaca dulu, nanti setelah selesai baru diedit, diperbaiki.” Tetapi,
menulis dari hati juga harus berdasarkan pikirankan. Kita tidak akan menuliskan
sesuatu jika tidak masuk akal oleh orang lain. Bahkan cerita fantasi pun
seperti burung rajawali yang bisa mengangkut manusia keliling dunia juga
ditulis menggunakan akal sehat manusia. Jadi, menulis itu tidak mudah.
Menulis
itu tidak mudah, jadi jangan pernah menghina para “pengkhayal”. Meskipun bisa
menyelesaikan sebuah tulisan, tetap saja kita belum bisa disebut penulis. Baru
setelah karya kita dibaca dan dikritik orang kemudian kita disebut penulis.
Kalau hanya menyelesaikan tulisan, rasa-rasanya semua orang bisa. Tetapi, untuk
menjadikan tulisan kita salah satu pajangan di majalah maupun surat kabar itu
tidak mudah. Ribuan orang mengantri untuk bisa memasukkan tulisannya di
penerbit. Banyak orang yang bisa menulis kalimat pembukanya, tapi hanya sedikit
orang yang mampu membuat kalimat penutupnya. Menulis itu tidak mudah. Butuh
kerja keras. Sehingga ketika ibu dan temanku mengatakan penulis hanya seorang
pengkhayal. Itu sungguh kejam. Ketika mereka menikmati sinema di layar kaca
sambil menangis tersedu-sedu, mereka tidak sadar bahwa sinema itu berawal dari
“khayalan” seorang penulis.
Begitulah.
Semakin rumput diinjak, maka ia semakin tumbuh subur. Seperti impianku untuk
bisa menjadi penulis sebenarnya. Semakin aku diledek, semakin aku tidak bisa
menyelesaikan ending cerita, semakin aku ditolak oleh penerbit, semakin aku
gagal, maka semakin semangat aku menjadi penulis.
Hingga
suatu hari, saat sudah puluhan kali mengirim karya ke berbagai penerbit, saat
aku sudah lupa pada penerbit mana saja aku mengirim karya, pada majalah siapa
aku mengirim email, berita itu datang. Untuk dua puluh tahun hidupku yang
bermimpi menjadi penulis, untuk impianku yang tidak pernah hilang, untuk uang
yang kuhabiskan untuk mengikuti pelatihan dan membeli buku, dan untuk waktu
yang kuhabiskan untuk menuliskan ‘khayalanku’. Karyaku akhirnya bisa terbit!!!
Sebuah
tulisan pendek pertama yang kukerjakan dengan hati dan penuh perasaan bisa
dibaca banyak orang di seluruh negeri. Bahkan, ketika kita tidak dibayar atas
karya tersebut tidak masalah selagi perasaan bangga membuncah di hati. Tidak
apa-apa.
“Akhirnya.
Selamat nak. Cerita-mu bisa terbit.
Nanti ibu sama bapak beli di toko buku. Jangan berhenti menulis, ya!” –kata
ibu.
“Ya
sudah, kamu jadi penulis saja setelah lulus nanti. Bapak doakan karya berikutmu
terbit” –kata Ayah.
Usiaku sudah dua puluh tahun. Masa
belasan tahun yang penuh usaha menghasilkan tulisan untuk bisa terbit, telah
terbayar sedikit. Impian untuk bisa mempunyai karya di masa kuliah dikabulkan
perlahan. Itu karena kita tidak pernah menyerah menulis. Sebab penulis itu tidak butuh bakat, hanya ketekunan mengasah ide dan
pena-mu. Sebab orang sukses itu tidak butuh pintar, hanya rajin berusaha dan
berdoa.
Makassar, 9 Februari 2014


Comments