Pertanyaan Terbesar

Pertanyaan Terbesar


Membaca kisah sukses orang lain terkadang memunculkan beberapa pemikiran. Mulai dari merasa termotivasi untuk bisa sukses hingga perasaan iri karena kesuksesan orang lain. Namun, sebagai manusia yang berpikiran positif alangkah baiknya untuk tetap menjadi kesuksesan orang lain sebagai motivasi untuk bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Akhir-akhir ini, tiba-tiba saya teringat dengan perkataan dosen saya sewaktu masih duduk di semester enam. Guyonan beliau kala itu mampu membuat kami semua tersenyum-senyum. Entah merasa itu adalah sindiran keras atau peringatan awal. Beliau mengatakan bahwa ketika beliau melangkahkan kaki dari aula wisuda, bukan perasaan bangga dan senang yang menyelimutinya. Seketika, sebuah kegalauan menghampirinya. Pertanyaan paling besar yang hadir diantara kegalauan tersebut adalah “akan kemanakah saya setelah ini?”

Untuk sebagian mahasiswa, bisa menginjakkan kaki di bangku kuliah adalah sebuah anugerah terbesar. Banyak dari generasi penerus yang tidak diberi kesempatan untuk bisa menikmati masa-masa menjadi agent of change tersebut. Penyebabnya bukan hanya karena materiil, tetapi juga kemauan untuk berproses terlebih dahulu di dunia kampus sebelum terjun ke dalam masyarakat luas. Dunia kampus seperti sebuah persinggahan bagi pelajar-pelajar yang belum siap menjadi bagian dari masyarakat luas. Dunia kampus memberikan banyak pengetahuan bagi pelajar sebelum terjun ke dunia yang sebenarnya, dunia kerja.

Untuk mendukung keberadaan kampus, dunia kerja pun memprioritaskan lulusan universitas untuk diberikan pekerjaan. Tetapi, dunia kerja tidak semudah seperti yang dibayangkan. Hampir serupa kejamnya saat mengikuti tes masuk perguruan tinggi, untuk bisa mendapatkan pekerjaan juga membutuhkan persaingan ketat luar biasa dengan ribuan lulusan universitas setiap tahunnya. Dunia kerja ternyata tidak hanya melihat kemampuan akademik selama berproses di kampus. Pengalaman selama menjadi mahasiswa juga diperhitungkan. Dan yang paling penting adalah “kelincahan”, “keberuntungan”, dan “kelicikan”.

Dunia tidak selebar daun kelor. Dunia yang luas ini memiliki segala macan kepala dengan cara berpikir yang berbeda-beda. Kemampuan untuk memahami setiap orang sangat dibutuhkan untuk bisa masuk ke dunia yang sebenarnya. Pertanyaan dosen saya tersebut sebenarnya bisa dijawab dengan mudah. Ada beragam jawaban yang bisa diberikan, misalnya menikah setelah sarjana, melanjutkan sekolah setelah sarjana, atau yang paling banyak adalah mencari pekerjaan. Tetapi, menjawab pertanyaan mudah seperti itu ternyata sangat sulit. Terlebih ketika ditanyakan pada saat yang seharusnya kita harus sudah mengetahui jawabannya sebelum meninggalkan aula wisuda. Jawaban yang sudah harus kita pikirkan jauh sebelum kita menyewa toga. Jawaban yang sudah seharusnya berada lima sentimeter di depan kepala saat kita masih berproses di dunia kampus. Karena ketika kita selesai mengenakan toga, status sebagai mahasiswa sudah tidak bisa digunakan lagi di dunia sosial. Segera sebelum mendapatkan apa yang menjadi jawaban, kita akan berstatus “pengangguran”.

Berbeda jika kita merupakan mahasiswa dari kalangan yang mampu secara materiil. Koneksi kerabat mampu memberikan kita petunjuk atas jawaban dari pertanyaan tersebut. Juga mahasiswa dari kalangan mampu karena kemauan. Pertanyaan tersebut tidak akan sulit dijawab karena sudah menjadi cita-cita besar di dunia kampus. Namun, bagi sebagian masyarakat kita yang menganggap semua lulusan sekolah menengah harus melanjutkan studi ke jenjang universitas baik dari kalangan mampu secara materiil, mampu karena kemauan maupun kalangan yang mampu karena keharusan. Tidak sedikit mahasiswa yang berproses di dunia kampus hanya karena menganggap menjadi mahasiswa adalah sebuah keharusan sehingga tak jarang kehidupan di dunia kampus dilalui seperti ‘air”, mengalir bebas hingga ke muara, sarjana. Dan ketika toga akan dilepas, pertanyaan galau tersebut menyeruak hingga menyesakkan, “akan kemanakan saya setelah ini?”.

Mampu menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut ternyata bukan akhir dari kegalauan setelah sarjana. Masih ada pertanyaan setelahnya, “harus memulai darimanakah saya?” , “akankah saya mencapai kesuksesan dari jalan ini?”. Akan banyak persimpangan yang membingungkan sebelum menemukan ‘kenyamanan’ dari jalan yang kita pilih.

Selagi memikirkan semua itu, saya menyimpulkan sebuah kesimpulan dari kondisi saat ini. Kondisi saat ini berbeda saat memutuskan untuk memilih universitas. Jika kalau itu mungkin, orang tua maupun teman-teman terdekat memberikan saran karena ini baik dari beberapa pertimbangan. Namun kondisi saat ini berbeda. Orang-orang terdekat akan memberikan saran atas pilihan yang kita pilih karena ini hidupmu, kaulah pemimpin dari hidupmu. Yang artinya, mulai saat ini kamu harus bisa bertanggung jawab atas pilihanmu, karena ini hidupmu, dan kamu telah dewasa. Dan jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi semakin sulit untuk dijawab.


#tulisan ini belum bisa dilanjutkan, karena penulis masih berada dalam masa-masa galau menjawab pertanyaan tersebut sebelum menjadi sarjana.


 C

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y