Terima Kasih Bidik Misi
Ini
pertama kalinya saya sangat bersyukur mendapatkan beasiswa Bidik Misi. Terlepas
dari betapa kesalnya saya ketika uang beasiswa harus cair molor sebulan-dua
bulan dari jadwal yang seharusnya. Lebih dari itu, Bidik Misi membuat saya bisa
melanjutkan kuliah tanpa terlalu membebani orang tua.
Lahir
di kota kecil di Pulau Buton, saya mengikuti paman dan bibi di kota paling
ujung di Indonesia. Jayapura. Dari sekolah dasar hingga tamat SMA, saya
menghabiskan dua belas tahun hidup saya jauh dari orang tua. Impian-impian yang
besar banyak menggantung di kepala saya. Banyak sekali impian yang saya harap
bisa saya wujudkan, selain impian paling besar menjadi seorang penulis. Impian
lainnya yang saya utarakan bersama sahabat saya di bangku sekolah adalah kuliah
di luar kota dengan beasiswa. Dengan kemampuan akademik yang rata-rata, saya
berani sekali bermimpi sebesar itu. Karena saya yakin, Allah akan memeluk mimpi
saya.
Bermimpilah,
maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu – Arai
Iya,
saya suka sekali kalimat Arai dalam novel Sang Pemimpi. Kalimat yang membuat
saya berani bermimpi meskipun itu terlalu tinggi. Paman yang membesarkan saya
sebenarnya masih mampu untuk membiayai kuliah saya hingga lulus. Tetapi,
sebagai anak berbakti yang bermimpi besar. Berat rasanya menyusahkan paman saya
jika ingin kuliah di luar kota.Biaya kuliah di kota sendiri saja sudah mahal,
apalagi untuk ke luar kota? Pemikiran itu membuat saya sedikit goyah. Namun
tetap berusaha untuk bisa menembus universitas melalui jalur bebas tes. Sebuah jalur
masuk universitas yang menurut saya mampu menggugah sanubari paman saya untuk
menyetujui kuliah di luar kota.
Tidak
terhitung berapa universitas negeri yang saya coba untuk memasukkan berkas.
Kebanyakan menolak saya. Bahkan, universitas negeri di kota tempat tinggal saya
juga menolakku. Menyedihkan sih. Hingga kemudian saya sadar bahwa masih ada
satu universitas yang belum mengumumkan hasil seleksinya. Iya, Universitas
Hasanuddin. Entah mengapa saya begitu yakin untuk diterima di universitas
tersebut. Keyakinan itulah yang menghantarkan saya sampai di Kota Daeng. Kota
yang tidak pernah sebelumnya saya impikan untuk bisa tinggal di sana. Dan,
berita gembira lainnya karena saya berhasil mendapatkan beasiswa. Sambil
tersenyum pada sahabat saya sejak SMP, kita berdoa untuk bersyukut atas
terkabulnya doa kami. Dia, sahabat saya, diterima di Sekolah Tinggi Ilmu
Statistik di Jakarta melalui jalur bebas tes.
Memulai
hidup sendirian dan jauh dari orang tua membuat hampir setiap mahasiswa rantau
merasa sangat sedih. Awal-awal perkuliahan sering saya selingi dengan menangis
tersedu-sedu di dalam kamar. Apalagi setelah mendapat telepon dari orang tua.
Kadang, saya berpikir mengapa saya harus mengambil jalan yang sulit?
Rasa rindu pada orang tua itu akhirnya
terbunuh dengan seringnya saya bersyukur. Bisa diterima di universitas terbesar
di Indonesia Timur, plus mendapatkan beasiswa untuk empat tahun kuliah.
Anugerah yang besar itulah yang membuatku kuat dan bertahan dalam rasa rindu
yang besar untuk kembali.
Hingga akhirnya gelar sarjana berhasil
saya raih!
Terima kasih bidik misi karena telah
menghantarkanku ke sebuah tanah yang indah. Penuh dengan pemuda-pemuda yang
menyenangkan. Bermimpi besar dan cerdas. Mereka tidak kasar (seperti di tivi), melainkan mereka hebat dan terus bergerak untuk perubahan.
Terima kasih bidik misi karena telah
menghantarkanku untuk belajar di tempat yang penuh ilmu. Diajar oleh
pengajar-pengajar hebat yang pernah saya kenal. Memberikan ilmu yang sangat
berarti untuk kehidupan dunia dan akhirat. Juga bertemu orang-orang hebat di kancah nasional.
Terima kasih bidik misi karena telah
menghantarkanku bertemu dengan mereka, teman-teman yang hebat, cerdas dan
sama-sama beruntung. Mengenal mereka membuat saya sebenarnya tidak ingin pindah
dari kota ini. Juga mengenal cita dan cinta.
Meskipun telat cair, meskipun
banyak yang mengeluh. Namun kami semua sangat bersyukur bisa melanjutkan kuliah
di perguruan tinggi. Terima kasih bidik misi! Terima kasih Ya Allah atas semua
karunia yang Engkau berikan kepada kami. "Maka
nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar Rahman)
Ini bukan akhir, melainkan sebuah awal untuk berjuang hidup sebagai masyarakat seutuhnya.


Comments