Aku dan Mei


            Hallo Mey.. sudah mau berakhir yaa?
            Mei, selama empath tahun terakhir ini, seingat saya tidak pernah memberikan kenangan yang begitu indah ataupun begitu buruk. Biasa-biasa aja. Tidak ada yang istimewa. Hanya di isi oleh kesibukan dengan tugas kuliah dan persiapan menghadapi ujian semester. Benar-benar tidak ada yang istimewa.
            Hanya saja, tadi, sambil melihat pelangi yang menghiasi langit sore kota daeng, saya teringat sesuatu. Bukan karena pelanginya, juga bukan langit sorenya. Tetapi pikiran saya melayang-layang karena sebuah desas-desus sambil menatap indahnya kedua ciptaan Allah itu. Desas desus yang seketika membekukan hatiku. Dan menghantarkanku pada pemikiran-pemikiran yang lainnya. Penasaran dan berusahan untuk tegar. Sampai ketika aku sadar bahwa ini semua terjadi di bulan Mei.
            Mei memang tidak pernah memberikan kenangan spesial selama empat tahunku di kota daeng. Lalu pelangi di langit sore yang kulihat sambil memikirkan tentang desas- desus menghantarkanku pada sebuah ingatan.
            Kira-kita tiga tahun yang lalu. Saat aku membaca sebuah puisi yang seperti mengungkapkan isi hati seseorang. Sederhana sekali. Tentang impian, tentang rahasia hati, tentang memaknai sesuatu. Entah kapan itu dituliskan, namun karena diunggah di bulan Mei dan bait-bait puisi juga menyebutkan unsur-unsur bulan Mei, maka saya simpulkan puisi itu dibuat di bulan Mei.
            Bulan Mei bagiku tidak ada yang indah. Musim panas yang membakar kulit di siang maupun malam hari, saya tidak menyimpan kenangan apapun di bulan Mei. Tapi puisi itu membuat saya ingat akan sebuah kenangan lain di bulan Mei tiga tahun lalu. Itu semua karena puisi yang diunggah seseorang. Keserdehaannya membuatku berani untuk berkomentar. Nice poetry. Tulisan yang bagus memang selalu tercipta jika ditulis dari hati. Dari puisi itu, saya tahu si penulis menulisnya dari hati yang terdalam. Tentang impian, rahasia hati, kesendirian, juga persahabatan.

Aku dan malam minggu di bulan Mei….

Seharian ini langit seakan memberikan kesempatan pada matahari untuk menyinari bumi sepuasnya sebelum digantikan oleh bulan….
Bukannya saya tidak suka malam minggu,
Tapi, di saat malam minggu tiba…
Ketika begitu banyak orang beraktivitas lebih dari pada malam-malam lainnya…
Apalagi dengan kondisi kota makassar yang seperti sekarang…
Rasanya, memang malam minggu lebih banyak merepotkan!
Pasti akan macet dimana-mana,
Lalu, muncullah status-status kreatif di facebook atau Twitter ..
Misalnya: “Huuftnya deh. Macet dimana-mana”
Bukannya saya tidak suka malam minggu….
Semasa saya masih SMA
Malam minggu artinya saya bersiap mengeluarkan kocek lebih banyak dari malam-malam yang lain
Entah karena ikut ajakan teman
Atau karena hal lain.
Bukannya saya tidak suka malam minggu,
Tapi sayangnya memang ada beberapa hal yang tidak terlalu menyenangkan untuk saya tentang malam minggu
Apalagi dengan bertaburannya para ABABIL-ABABIL yang hanya menikmati 1 kali libur dalam seminggu bersekolah,
Otomatis, mereka tidak menyia-nyiakan moment malam minggu tersebut
Termasuk juga dengan berkonfoi dan ugal-ugalan di tengah jalan.
Yah, namanya juga masih labil. Wkwkwkwk…
Bukannya saya tidak suka malam minggu,
Ada banyak kenangan berloncatan liar disetiapnya
Masa lalu yang angkuh dan rengkuh
Begitu menguasai tanpa jenuh
Karena itu,
Saya malas dengan yang namanya malam minggu.
Selain semua alasan tadi,
Sebenarnya, saya suka malam minggu!
Saya mengingat setiap detailnya
Mengingat moment itu
Saya mengingat kalian… SAHABATKU…
Yaaah, ada masanya kita saling BBM-an, SMS-an..
Hanya untuk berkumpul.
Karena saat kita berkumpul,
Kita menikmati malam minggu bersama.
Saya berharap
Suatu saat saya dapat menikmati malam minggu yang lebih bermanfaat
Dibandingkan hanya seekdar konfoi dan ugal-ugalan tidak jelas.
Entah saya masih sendiri
Ataupun
Di saat saya telah mendapatkan seseorang yang bisa membuat saya nyaman…
Selamat bermalam minggu…*

             Saya suka sekali puisimu. Selain karena saya juga tidak terlalu suka malam minggu tapi saya juga suka malam minggu. Saya suka penuturanmu yang sederhana juga harapanmu yang sederhana. Impian yang dituliskan penulis di dalamnya, seperti sebuah kode bukan? Bahwa ia masih sendiri, dan tidak ingin terus sendiri.
            Mei tahun ini.. sembari menikmati semilir angin dingin sehabis hujan, puisimu tiba-tiba terngiang di memoriku. Saya tersenyum. Mengapa desas desus itu datang di bulan Mei? Sengajakah kamu, si penulis, yang sudah tidak sendiri lagi?

Catatan masa ababil (masih)

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

PENYANYI PRIA TERBAIK di KOREA berdasarkan penilaian ahli vokal korea