Efek Doppler
Ilmu
Fisika ternyata ilmu yang paling mengerti tentang cinta. Beberapa rumus fisika
yang membuat kepala sakit ternyata mudah dipahami bila diibaratkan dengan
cinta. Cinta.. kalau membicarakan cinta selalu tidak ada habisnya. Cinta kan
bukan hanya perasaan yang dirasakan antara pria dan wanita. Cinta itu luas.
Cinta menyangkut perasaan sayang kita kepada orang di sekitar. Mama, Papah, suami,
istri, saudara, keluarga, sahabat, teman hingga ehm.. kekasih.
Makanya,
ketika mempelajari fisika begitu sulit. Dipermudalah dengan menyamakan
rumus-rumus fisika ke dalam pengertian cinta. Ini sih yang aku baca dari
beberapa blog hingga buku. Menurut mereka, cinta itu mirip dengan persamaan
yang dikeluarkan oleh fisikawan besar Isaac Newton yang sering kita dengan
sebagai hukum Newton. Hukum Newton menjadi lebih mudah dihafal jika diibaratkan
dengan cinta.
Misalnya
hukum newton I yang mengatakan bahwa resultan gaya pada benda diam sama dengan
nol diibaratkan hasil yang didapatkan sama dengan nol jika kita tidak melakukan
apapun atau hanya diam. Juga pada hukum II newton yang mengatakan bahwa
resultan gaya pada benda yang bergerak sebanding dengan massa dikali dengan
percepatan. Diibaratkan usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan hati
seseorang berbanding lurus dengan percepatan yang kita lakukan. Dan yang
terakhir adalah hukum II I newton yang mengatakan bahwa gaya yang diberikan
sama besar dengan gaya yang diterima namun arahnya berlawanan. Persis sekali
jika kita menyukai seseorang dan seseorang itu juga menyukai kita. Sama benar
dengan hukum III newton ini.
Tetapi
saya baru tahu kalau dalam menghafal rumus efek doppler juga bisa diibaratkan
dalam bentuk cinta. Selama di SMA, saya menghafal rumus efek doppler tanpa
mengibaratkan pada cinta. Paling-paling pada orang dan bunyi. Tidak lebih.
Ternyata, untuk mudah menghafal apakah kecepatan sumber bunyi dan kecepatan
pendengar bernilai negatif atau positif bisa dikaitkan dengan kisah percintaan.
Misalnya,
nilai positif untuk kecepatan pendengar (Vp) apabila pendengar mendekati sumber
bunyi. Diibaratkan misalnya pendengar adalah pria dan sumber bunyi adalah
wanita. Maka pria yang mendekati wanita itu bernilai positif atau dalam
pemikiran saya artinya dibolehkan. Sementara, nilai negatif untuk kecepatan
sumber bunyi apabila sumber bunyi yang mendekati pendengar. Yang kemudian
diibaratkan wanita yang mendekati pria itu bernilai negatif atau tidak
dibolehkan.
Persamaan
yang diibaratkan menjadi mana yang boleh mendekati antara pria dan wanita
persis dengan ajaran yang sudah mendarah daging. Dimana wanita selayaknya
menjadi pihak yang selalu menunggu datangnya orang yang akan
melamarnya/menikahinya. Di mata masyarakat rasanya masih tabu melihat wanita
yang genit mendekati pria. Wanita adalah sosok yang terhormat, banyak
diperjuangkan, juga banyak dibicarakan. Nyatanya wanita zaman dahulu jauh
berbeda dengan wanita sekarang. Emansipasi perempuan mengangkat derajat mereka
untuk bisa disamakan dengan laki-laki. Mulai dari bisa menuntut ilmu setinggi
mungkin, bebas menyuarakan aspirasi, bisa bekerja hingga bisa menjadi pemimpin.
Sosok wanita yang bagaikan perhiasan (dulu) mulai mendobrak ajaran/budaya saat
ini.
Percakapan
yang tiba-tiba saja tercipta ketika tadi saya mengajar tentang fisika. Materi
efek doppler yang adik-adik tadi sebutkan memang benar. Pengibaratan rumus
fisika yang njimet kepada hal-hal yang mudah dimengeti memang
dapat membantu adik-adik untuk mengerti rumus fisika. Saya hanya lebih tertarik
pada pengibaratan efek doppler pada pria dan wanita. Zaman memang berubah,
wanita boleh bekerja, tapi mereka masih terhormat dengan menjaga
kewajiban-kewajibannya sebagai wanita sebagaimana yang diajarkan ibu pertiwi.
Adik-adik dan saya lahir di tahun 90-an, besar di tahun Millenium, namun kami
masih menjaga apa-apa yang diajarkan ibu kami. Bahwa wanita boleh bekerja,
boleh sekolah namun kita tetap harus menjaga kehormatan kita sebagai wanita.
Tapi, apa benar wanita tidak boleh 'suka' duluan? Hahahahahah
Comments