Have You Ever Seen A Dream Come True??


            
Aku hampir menyerah akan mimpi. 

Mimpi (bukan dalam artian bunga tidur) adalah salah satu hal yang paling saya sukai. Impian membuat saya tetap hidup. Memiliki tujuan dalam kehidupan membuat kita hidup dengan arah yang pasti. Tidak sembarang serta tidak hanya mengikuti kemana air mengalir.

Banyak impian yang aku harapkan akan terwujud dalam kehidupanku. Mimpi-mimpi besar yang katanya sulit diwujudkan yang akhirnya aku pecah menjadi mimpi-mimpi yang kecil, biasa saja. Mimpi besarku mulai dari ingin menjadi menteri kesehatan, bekerja di WHO, jadi konsultan di UNICEF, jadi kepala dinas kesehatan, jadi kepala puskesmas, mendirikan perusahaan penerbitan, punya yayasan untuk anak yatim, dan masih banyak lagi impian besar yang semakin hari semakin aku sadari terlalu besar untuk diimpikan olehku, yang masih punya naluri pesimistis dalam kehidupan sehari-hari.

Aku kecil selalu hidup dengan impian. Aku menyukai impian. Hidup dengan mengejar sesuatu itu indah, penuh tantangan, bisa merasakan beragam macam emosi jiwa. Mulai dari begitu bersemangat, berapi-api, hingga jatuh sedih karena gagal. Indah rasanya bisa merasakan beragam macam emosi jiwa karena hidup dengan mengejar sesuatu. Serta mengajarkan kita banyak hal, seperti tidak ada yang bisa kita raih jika hanya duduk diam, bangkit dan kejarlah.

Semakin banyak aku bermimpi, semakin banyak pula aku tidak bisa meraihnya. Terlalu banyak. Akhirnya aku menjadi tidak fokus pada impian sebenarnya yang ingin aku raih. Apa sebenarnya impian yang paling aku inginkan. Aku ingin menjadi penulis besar tetapi menghabiskan hari-hariku dengan belajar dunia kesehatan. Aku juga ingin menjadi salah satu orang hebat di dunia kesehatan, tetapi hari-hariku juga aku habiskan dengan menulis, membaca tentang fiksi. Aku juga ingin menjadi sutradara karena aku suka menonton film dan menulis cerita. Aku juga ingin menjadi anggota DPR karena sepertinya asyik melihat gambar diri bertebaran di jalanan (bukan wanted loh, tapi PILIH SAYA! Haha)

Memasuki dunia kuliah banyak sekali training-training yang mengangkat mimpi sebagai tema. Memang, hanya tentang impian orang-orang selalu ingin tahu, penasaran, bagaimana sih caranya mewujudkan impian menjadi nyata. Aku mungkin salah satu dari mereka yang begitu excited. Jawabannya hanya satu, dan yang pasti sudah saya tahu, berusahalah! Karena jika kita hanya menggantungkannya di depan jidat sejauh 5 cm tapi hanya duduk diam di dalam rumah. Impian itu lama-lama akan pudar, hilang dimakan rayap.

Aku yang menyukai impian rupanya tinggal disekitar orang-orang yang menganggap impian atau harapan itu tidak perlu. Impian dan harapan hanya akan membuatmu sakit hati jika tidak bisa terwujud. Sering kali aku dinasehati untuk tidak banyak bermimpi, tidak banyak berharap. Terlebih aku hidup dengan impian-impian setinggi langit. Orang-orang di sekitarku memintaku untuk hidup juga dengan berpikir realistis.

“Hahaha! Menteri kesehatan? Jangan mimpi kamu nak. Memangnya kamu lulusan kedokteran?”

“Sudah, urus saja kuliahmu. Lulus, terus kerja, terus nikah. Jangan mimpi yang tidak-tidak. Mau punya perusahaan? Kamu kira kamu anak siapa? Anak CEO?”

“Mimpi yang realistis juga, kawan. Mana mungkin bulan di langit itu bisa jatuh ke pangkuanmu?”
Aku meringgis, pedih. Juga marah. Mengapa mereka tidak mengerti bahwa impianku bukan hanya karena ingin aku wujudkan, lebih kepada supaya aku memiliki arah dan tujuan hidup ini. Kemana seharusnya aku pergi setelah menamatkan kuliah. Aku juga ingin menjadi bagian dari orang-orang yang melakukan perubahan pada negeri dengan ilmunya. Aku ingin mengabdi pada negara dalam skala besar.

Waktu sudah menunjukkan tiga setengah tahun sejak aku memasuki dunia kampus. Tepat setelah aku menerima ijazah dari tangan rektor, ribuan mimpiku berdiri menanti di depan pintu keluar. Menanti, impian mana yang ingin aku wujudkan lebih dulu.

Tetapi, aku ingin menyerah akan mimpi.

“Jangan mimpi yang terlalu tinggi, nanti kalau jatuh sakit loh.” Aku selalu mengindahkan kalimat itu. Tidak percaya. Aku selalu yakin bahwa aku tidak akan kesakitan jika aku jatuh. Nyatanya, hanya karena satu impian yang tidak begitu besar, tidak bisa aku raih. Rasanya hati ini telah jatuh dari lantai tertinggi gedung di dubai, lalu pecah berkeping-keping. Kesulitan aku menatanya, dengan air mata.

Aku ingin menyerah akan mimpi.

Tiga setengah tahun  aku menyimpan perasaan ini. Menanti suatu hari kau akan melihatku. Tiga setengah tahun aku berjuang agar bisa lulus lebih cepat dari waktu yang sebenarnya. Aku berhasil meraihnya. Rasa bangga menyelimuti hatiku. Lalu kemudian, aku terdiam dalam tangis, melihat kau akhirnya memilih tangan orang lain untuk digenggam.

Aku ingin menyerah dalam mimpi, karenamu, impian tidak begitu besarku, tidak bisa aku raih...
Aku ingin menyerah dalam mimpi. Aku hanya ingin lulus kuliah, kerja dan menikah. Itu saja...

Itu hasil perdebatanku dengan hatiku yang hancur berkeping-keping. Lima hari yang lalu, tidak mungkin sudah seminggu. Tetapi, aku memang benar tentang tidak akan jatuh sakit nantinya. Karena meskipun sedih, aku kemudian bangkit kembali.

Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia. Kalau aku ingin ingin merubah dunia, seharusnya aku berubah lebih dulu menjadi lebih baik, yang tidak akan menangis hanya karena putus cinta. Hahaha...

Have you ever seen a dream come true?
Yes!

Mungkin kamu salah satu impian yang tidak bisa aku raih, tapi aku masih punya banyak impian yang telah aku raih dan akan aku raih. Dan salah satu mimpi besarku, yang aku renungkan selama beberapa hari ini adalah menjadi hamba yang taat pada perintahnya. Karena sebenarnya, impian yang paling besar yang harus kita kejar adalah Allah SWT, dan impian besar di dunia hanya sebagai pelengkap.

Selamat Soreee : )


Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y