JAKET MERAH
Gadis
itu berlari cepat meninggalkan ruang kelas tiga. Setelah mengendap-endap bagai
pencuri. Meletakkan kotak besar bertuliskan “selamat ulang tahun”. Berharap
tidak ada seorang manusia pun yang melihatnya. Keesokan harinya, ia sudah
berdiri di depan kelasnya di lantai dua. Memantau parkiran motor di depan
gerbang. Matanya hanya tertuju pada satu orang. Satu orang yang turun dari
motor Yamaha. Segurat perasaan kecewa terlintas di wajahnya. Hari ini dan
hari-hari berikutnya. Ia bertanya-tanya dalam hati, “Apakah ia membuang jaket
itu?”
***
Itu tinggal beberapa bulan lagi
sebelum deadline maju di ujian
skripsi. Perasaan khawatir dan cemas sudah membuatmu tidak bisa tidur. Ternyata
sebagai mahasiswa tingkat akhir tahap stress yang dirasakan sehingga mengalami
insomnia bukan lagi masalah hati. Melainkan masalah skripsi. Mana judul? Mana
bab 1? Mana di desak pembimbing? Mana susahnya minta data? Mana mana dimana?
*lah kok malah nyanyi?
Begitu pun dengan Vivin. Rasanya
baru kemarin kita kesana kemari dengan pakaian hitam putih lengkap dengan pita
ungu setinggi tangan. Pake tas merah menyala khas mahasiswa baru lagi. Aduh!
Sekarang kita sudah mau pakai pakaian resmi negara indonesia kalau mau
menyelesaikan tugas akhir di meja seminar. Hitam putih!
Sejak beberapa hari yang lalu, Vivin
sudah bolak-balik jurusan dengan selembar kertas berisi pengusulan judul
penelitian. Kurang lebih terdapat enam judul yang ia masukan. Vivin tidak
berharap banyak. Minimal diterima satu saja. Maka masalah kurang tidur Vivin bisa
sedikit berkurang. Apa hubungannya ya? Kurang tidur dengan penerimaan usulan
judul? AH! Bisa bisa bisa diteliti ini! *pikiran mahasiswa tingkat akhir*
Semuanya bisa diteliti. Termasuk hubungan penyakit jantung dengan intensitas
patah hati!
Sayangnya Tuhan sedang menguji
kebesaran hati Vivin. Keenam judul yang ia ajukan di tolak dengan halus oleh
pengelola. Saking halusnya Vivin bahkan tidak melihat adanya jejak kesamaan
judul yang ia ajukan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Vivin yakin
sekali. Ide yang ia tuangkan itu fresh
baru keluar dari air kalau mau disamakan dengan ikan, baru dipanen dari kebun
kalau mau disamakan dengan sayuran, dan baru keluar dari otak Vivin kalau mau
disamakan dengan judul skripsi.
Vivin yang shock. Bingung. Tak tahu
arah jalan pulang. Duduk terdiam di ruang seminar bagaikan butiran debu. Helaan
nafas sedikit saja mampu menerbangkan semangatnya. Hilang. Pergi. Melayang
bersama udara. Haruskah Vivin menyerah secepat itu? Kalau kata salah seorang
dosen, “Masa mau sarjana segitu aja usahamu? Semangat donk. Ya?”
Demi mengingat kata-kata tersebut
yang tiba-tiba terngiang di telinga, Vivin mengerjap-ngerjapkannya matanya.
Mengepalkan tinjunya ke udara. Membusungkan dadanya yang ke depan. Membakar api
semangat di dalam sanubarinya. Vivin bertekad untuk tidak kalah dengan
pengelola. Maka detik berikutnya Vivin sudah melangkah meninggalkan ruang
seminar yang sakral menuju lantai dua perpustakaan untuk membaca-baca lagi
penelitian. Siapa tahu saja ada beberapa ide yang kembali terlintas di
pikirannya.
Memang dasar syaitan yah. Ada saja
dimana-mana. Semangat-semangat begitu, Vivin sebenarnya mudah sekali
digoyahkan. Ada satu hal yang membuat Vivin dengan cepat berbelok arah *untuk
sementara*. Ratna yang sedang menyusuri tangga menuju ke lantai dua melihat
semuanya. bagaimana Vivin yang SEHARUSNYA belok kiri untuk menuju ke
perpustakaan malah mengambil arah kanan. Kemana? Ratna tahu sekali Vivin akan
pergi kemana? Fiuh. Dasar cewek!
Ratna mencoba mengambil perannya
sebagai sahabat yang baik yang mengarahkan ke jalan yang benar.
“VIVIN!” panggil Ratna setengah
teriak setengah tidak (?). Vivin yang sedang terhipnotis berjalan terus tanpa
menoleh. Tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar sama saja. Sama-sama
tidak mau menoleh.
“Psst! Viviiiiin.” Bukannya
memperkencang suaranya, Ratna memanggil dengan lebih halus. Bukan karena ditegur
terlalu ribut. Tetapi Ratna tahu sekali apa yang akan terjadi jika yang
mendengar panggilannya bukan hanya Vivin saja. Melainkan orang itu yang sedang
duduk di bangku koridor. Itu akan membuat rencana Vivin berantakan. Ratna
memang sahabat yang baik.
Anehnya, Vivin malah berbalik dengan
panggilan yang kecil ini. Dengan wajah meronanya, Vivin tersenyum menyambut
Ratna. Vivin mengambil tempat di bangku koridor di depan ruangan dekan yang
seharusnya pada jam segini lumayan ramai. Mencuri-curi pandang ke bangku di
depan ruang seminar serba guna yang ramai oleh mahasiswa-mahasiswa pasca
sarjana. Senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ratna terenyuh melihat
temannya.
“Aku kira kamu mau ke perpustakaan?”
tanya Ratna merusak suasana hati Vivin. Vivin menatap Ratna kesal. Mendengus
pelan kemudian tersenyum ganjen. Aneh.
“Vivin!” bentak Ratna pelan.
“Skripsi itu penting banget, Na. Aku
tahu. Tetapi melihat dia hari ini dengan jaket merahnya yang melambai-lambai
memberikan atmosfer tersendiri di hatiku yang telah dipatah semangatkan oleh
judul skripsi yang menyedihkan itu. Tak ada salahnya bukan jika aku duduk
sebentar di sini. Menikmati pemandangan yang tidak akan pernah kau dapatkan
setelah lulus nanti. Ah, bila perlu aku akan menunggu dia lulus baru kemudian
aku menyusulnya.” Vivin bercerita panjang lebar. “Aku ngomong apa sih, Na?”
lanjutnya bingung. Seperti orang gila.
“Kamu nggak stress karena judul
kan?” tanya Ratna prihatin.
“Masa aku harus bilang enggak? Ini
semua karena judul, Na. Seandainya aku tidak ditolak. Aku pasti tidak akan
turun ke lantai dua. Jika aku tidak turun kemari. Aku tidak akan melihat pemadangan
indah yang tidak boleh dilewatkan. Benarkan? Aku lebih baik patah hati, Na dari
pada skripsi ku ditolak. Jadi kamu tahu kan alasan aku duduk di sini. Sekarang
ini?”
Dasar Vivin. Selalu punya seribu
alasan untuk bisa melihat Ari saja. Vivin bahkan pernah bilang akan menemukan
seribu alasan untuk bertemu dengan Ari secara kebetulan (yang disengaja).
Ratna menyerah. Susah kalau orang
sudah jatuh cinta. Sesalah apapun jalannya, virus merah jambu sudah menyerang
hatinya. Membutakan jalan pikirannya. Menyesatkan. Ratna mengambil tasnya,
berdiri. Bersiap-siap pergi sebelum tangan Vivin mencegahnya.
“Jangan marah gitu donk, Na. Yuk.
Kita ke perpus. Aku sudah selesai.” Ujar Vivin dengan senyumnya yang penuh
kebahagiaan. Kalau bisa dilukiskan, ketika Vivin berjalan maka bunga-bunga
berbentuk love keluar kemana-mana.
Ari yang tadi duduk nyaman bersama rekan-rekannya di bangku sebelah kini
beranjak pergi. Begitu pun dengan Vivin. Bener-bener.
Bahkan di tengah kegawatdaruratan
pemilihan judul dan penyusunan tugas akhir, Vivin masih bisa menyibukan dirinya
dengan urusan perasaan tak tersampaikannya. Menyelinap kesana kemari hanya
untuk melihat pujaan hatinya dari jauh. Diam-diam. Tanpa bekas. Menyedihkan
sekali nasib Vivin. Sama menyedihkan dengan kertas usulan judulnya yang penuh
coretan. Ditolak.
Namun, Vivin sudah bertekad tidak
menyerah tadi. Maka dalam waktu kurang dari tiga jam di perpustakaan, Vivin
sudah menemukan judul baru yang bagus, fresh,
cool, dan yakin diterima. Tanpa
berlama-lama lagi Vivin segera membawanya ke pengelola.
Vivin semangat sekali menyerahkan
judul barunya yang berjumlah tiga buah. Ia menaiki anak-anak tangga menuju
lantai tiga dengan riang gembira. Tersenyum lebar. Bahagia. Saking bahagianya
ia tidak melihat tetesan air yang jatuh dari AC di pinggir koridor. Menyapunya
begitu saja dengan sepatunya yang licin.
Sleeeep. Vivin tergelincir dengan
gaya akrobatik yang keren. Tangan Vivin yang memegang tas dan kertas usulan
judul melayang ke sebelah kiri. Menabrak seseorang yang lewat di sampingnya.
Bersamaan dengan jatuhnya Vivin ke lantai, sebuah benda juga melesat jatuh dari
lantai tiga. Semua mata yang ada melihat ke bawah. Kaget.
Vivin
yang kesakitan terkejut setengah mati. Ia melupakan rasa sakitnya demi melihat
apa yang terjatuh dari lantai tiga. Tampak sebuah jaket merah tergeletak jauh
di lantai taman. Orang-orang yang berkerumun di taman mendongak melihat ke
atas. Menghitung tingginya lantai tiga. Wajah Vivin berubah pucat pasi. Takut.
Orang-orang di lantai tiga kini melihatnya. Vivin menggerutu dalam hati. Kenapa
harus dia sih?
Vivin
tertunduk takut-takut pada pria di depannya. Harusnya ini kesempatan langka
yang harus dimanfaatkan Vivin. Ini akan menjadi sejarah pertama kalinya Vivin
berbicara dengannya. Ari.
“Maaf,
Kak. Aku tidak sengaja.” Akhirnya setelah gerakan-gerakan mulut tanpa suara,
Vivin mengucapkan beberapa kalimat juga. Wow! “Nanti setelah aku anter judul
aku pasti ambilkan jaketnya, terus dicuci. Dan dikasih pewangi. Gratis.” Lanjut
Vivin dengan kalimat promotif mirip tukang laundry.
Ari
yang juga shock berpegangan pada pinggir pagar tersenyum ramah yang sayangnya
tidak dilihat oleh Vivin. Salah sih Vivin nunduk terus. Ari menyodorkan kertas
usulan Vivin yang tadi ditangkapnya sehingga membuat jaket merah kesayangannya
lompat dari lantai tiga.
“Kamu
nggak apa-apa kan? Tadi jatuhnya pasti sakit. Nggak usah minta maaf. Ini kan
kecelaakan.”
Apasih
yang paling Vivin takutkan setelah memendam perasaan diam-diam selama ini pada
Ari. Mendengar suaranya untuk pertama kalinya dan membuatnya menangis haru.
Iya. Suara Ari adalah hal yang paling Vivin rindukan sekaligus takutkan. Takut
suara Ari akan berbeda dengan wajahnya yang tampan.
Suara
berat yang melantun lembut di depannya membuat hatinya membuncah. Bingung.
Mencampur adukkan perasaan shock, terkejut, bahagia dan terharu. Air mata Vivin
pun tumpah demi mendengar suara yang amat ia rindukan. Sambil sesenggukan,
Vivin menerima kertas usulan judulnya.
“Makasih
Kak.” Hiks. Vivin sudah lupa janjinya. Ia tidak mendengar ucapan-ucapan Ari
selanjutnya. Ia kini hanya mendengar hatinya yang segera mengadakan syukuran.
Air matanya yang membanjiri pipinya tanpa kenal malu.
Melihat
Vivin yang sesenggukan, Ari menjadi bingung. Bukankah Ari tidak marah. Kenapa
gadis ini menangis sedih. Baru ketika Vivin menganggkat wajahnya, menatap kedua
mata Ari yang indah. Semua kini menjadi jelas. Mengapa Vivin begitu merasa
bersalah pada jaket yang jatuh. Mengapa Vivin menangis sedih karena mendengar
suaranya. Ari mengerti sekarang.
Usai
mengantar judul, Vivin berjalan cepat ke lantai satu. Menemui Ari dan jaket di
tangannya. Vivin sudah tidak menangis lagi. Juga tidak terkejut lagi. Ini
peristiwa langka. Vivin harus memanfaatkannya.
“Jaketnya
nanti aku cuci, Kak.” Ujar Vivin pelan. Hampir tidak terdengar. Ari sampai
memajukan wajahnya untuk mendengar lebih jelas.
“Oh?
Nggak usah sih sebenarnya.” Sanggah Ari.
“Nggak
boleh gitu kak. Aku mau bertanggung jawab kok.” Vivin bersikukuh. Ini bukan
karena Vivin punya kesempatan untuk membawa pulang jaket Ari. Ini karena Vivin
ingin mendengar Ari terus berkata-kata. Suaranya yang indah. Aneh terdengar di
telinga.
“Bertanggung
jawab? Haha! Kayak apaan aja. Serius nggak apa-apa.” Ujar Ari tak mau kalah.
Tak enak memberikan jaketnya untuk dicuci orang lain.
“Jangan
gitu lah, Kak.” Bujuk Vivin. Lama keduanya terlibat tawar menawar yang alot
untuk menentukan apakah jaket tersebut harus dicuci oleh Vivin atau tidak perlu
sama sekali. Acara tawar menawar tersebut justru mengarah pada pengungkapan
kejadian-kejadian tidak terduga. Itu karena Ari yang kehabisan kata-kata untuk
bertahan keceplosan mengatakan sesuatu.
Demi
mendengar kalimat keceplosan Ari, hati Vivin hampir melompat keluar. Kepala
Vivin membesar karena takjub. Kulit wajahnya yang putih memerah bagai tomat
rebus. Hari ini ada apa sih?
“Ya
udah. Karena kamu kekeuh mau
nyucikan. Jadi jaket ini pulang kembali ke orangnya donk.” Seusai mengucapkan
kalimat tak terduga itu, Ari terdiam menyadari kesalahanya. Vivi pun terdiam
mencerna keadaan. Jaket merah itu....
***
Ari masuk ke dalam kelas. Menemukan
kotak besar di atas mejanya. Ia tersenyum. Mengingat bagaimana cara gadis itu
diam-diam meletakkannya. Setelah sampai di rumah, Ari segera mengenakannya.
Hangat. Tempat pertama yang ia tuju dengan jaket itu adalah rumah gadis itu.
Sayang, rumah itu sepi. Ari mengurungkan niatnya untuk berterima kasih. Ia
takut gadis itu akan malu sekali mengetahui Ari melihat semuanya. Maka, Ari
lebih memilih tidak berterima kasih. Tidak juga mengenakan jaket itu di
depannya. Hingga ia masuk perguruan tinggi. Jaket itu menjadi teman hariannya.
Vivin
memegang jaket itu. Ia menimbang-nimbang ingatanya. Jika ia tidak salah
mengenal, ini adalah jaket waktu itu. Jaket waktu itu.
“Maaf ya. Aku tidak pernah bilang
terima kasih.” Melihat Vivin yang kebingungan. Ari mulai angkat bicara. “Terima
kasih. Itu hadiah ulang tahun paling berkesan buat aku.” Tambahnya.
Vivin masih diam. Tidak tahu harus
mengatakan apa. Ia seperti berada pada dua kondisi yang menyenangkan sekaligus
tidak menyenangkan. Di satu sisi ia bahagia karena Ari menyimpan jaketnya
dengan sangat baik. Di sisi lain ia seperti pencuri yang sudah tertangkap basah
namun tetap mencuri tanpa kehilangan muka. Di keadaan seperti itu, Vivin tidak
tahu harus berkata apa. Yang bisa ia lakukan hanya mencoba tersenyum. Mengerti.
Kemudian pelan-pelan menjauh untuk menenangkan dirinya. Hari yang aneh di
semester akhir kuliahnya ini berakhir ganjil.
***
Vivin memasukkan jaket warna merah
itu ke dalam plastik. Membawanya dalam perjalanan ke kampus. Sepanjang jalan
Vivin seperti kehilangan semangat. Bab satu-nya yang sudah di Acc pembimbingnya
pun tak mampu merubah suasana hatinya yang terlampau kacau. Ia tidak bisa
memutuskan untuk bersikap di depan Ari. Juga tak mampu memutuskan untuk tetap
menyukai Ari. Vivin benar-benar malu.
Mungkin lebih baik Vivin menghilang
saja. Itu lebih baik untuk menjawab kegelisahan hatinya setelah semuanya
terbongkar. Bukankah itu jalan yang terbaik. Bagaimana mungkin Vivin masih
berani menatap Ari dari jauh ketika orang yang ditatap tahu namun diam saja.
Itu benar-benar memalukan. Kecewa. Perasaan yang selama ini ia pendam tidak
menghasilkan apapun karena sejak awal memang ia telah ditolak. Betapa bodohnya
ia sampai-sampai masih menyimpan rasa itu. Dan betapa teganya orang itu
menyembunyikan segalanya.
Vivin melangkah pelan di parkiran.
Mencari satu motor. Ia hafal sekali merek motor, warna sampai plat kendaraan
Ari. Meletakkan bungkusan jaket warna merah di sana. Lalu pergi dengan sedih.
Ini seperti melepaskan burung dalam sangkar. Melepaskan kesempatan emas ketika
Ari ternyata mengenalnya.
Kini, hanya ada satu tujuan di depan
mata Vivin. Menyelesaikan skripsinya. Sambil berjalan menuju perpustakaan,
Vivin bertanya-tanya dalam hati. Apa benar lebih baik patah hati daripada
skripsi nggak selesai? Entahlah.
Kampus
ungu :)
sumber : http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/05/08/jaket-merah-651891.html


Comments