I’m Coming Back Home
Sembari
mendengarkan suara merdu Michale Buble diiringi petikan gitarnya dalam lagu
Home, bayang-bayang tentang rumah menyesaki ruang dada. Menghimpitnya hingga
menghantarkan rindu.
“Aku rindu rumah...” teriaknya. Aku
meringgis. Sakit. Kerinduan akan rumah setelah lama tidak pulang menyesakkan
sekali. Hanya, semakin aku merindukan rumah, semakin aku berpikir.
“Siapa
yang menungguku pulang?” Ah.. pikiran
ini, jauh lebih menyakitkan daripada kerinduan akan rumah. Jauh lebih
menyakitkan daripada merindukan seseorang yang belum dimiliki. Sungguh,
menyesakkan.
Rumah adalah tempat dimana kamu merasa
nyaman. Rumah adalah tempat dimana kamu pulang. Rumah adalah tempat dimana kamu
mendapatkan perlindungan. Merasa aman dari dunia luar yang kejam.
Rumah dalam bentuk fisik, tidak semua
orang bisa memilikinya. Lihatlah, di sekelilingmu. Betapa banyaknya orang-orang
yang tidak bisa menikmati nyamannya tidur di atas kasur yang empuk, tidak
tersengat panasnya mentari pun tidak basah kusup sembari meresapi dinginnya
hujan malam. Mereka tidak punya rumah di tanah kelahiran mereka sendiri. Mereka
tidur di jalanan yang kotor, penuh debu, serta tidak aman. Mereka banyak
tersebar di sekeliling kita. Dan hanya karena setiap malam kita terlelap di
dalam balik tembok di bawah atap sehingga kita tidak melihat kenyataan bahwa
masih banyak saudara kita yang tidak bisa menikmati nyamannya memiliki sebuah
rumah yang kokoh.
Rumah dalam artinya sifat, juga tidak
semua orang memilikinya. Mereka adalah yang bisa menikmati nyamannya tidur di
kasur yang empuk, tidak tersengat panasnya mentari pun tidak basah kuyup
sembari meresapi dinginnya hujan malam, namun tidak merasa nyaman dengan semua
itu. Tampak seperti mereka tidak bersyukur atas apa yang mereka miliki, namun
perasaan yang sudah terlanjur timbul memaksa mereka untuk tidak menyukai rumah
yang mereka tinggali.
Banyak hal yang menyebabkannya.
Ketidaharmonisan di dalam rumah mungkin penyebabnya. Misalnya untuk mereka yang
termasuk dalam kasus broken home. Rumah adalah tempat paling ia benci. Melihat
kenyataan bahwa kedua orang tua mereka tidak bisa akur, selalu bertengkar,
menyebabkan mereka lebih menyukai dunia luar. Juga sepasang suami istri yang
tidak bisa akur. Keduanya akan berpikir lebih baik tidak tinggal di dalam
rumah.
Dunia memang aneh. Ada yang diberi namun
tidak membutuhkan, ada yang membutuhkan namun tidak diberi. Jangan tertawa,
jangan juga menghela napas panjang. Ini adalah kenyataan.
Lalu, rumah bagiku adalah seperti sebagaimana
fungsi rumah itu seharusnya. Aku memang memiliki rumah, dua malam. Aku memiliki
dua rumah dimana aku bisa memilih untuk kembali di rumah manapun diantara
keduanya. Hanya saja, aku tidak ingin memilih. Karena di rumah manapun, aku
merasa tidak ada yang menungguku pulang. Berdosakah aku? Di saat banyak orang
yang membutuhkan rumah untuk bisa tinggal dengan nyaman, sementara aku berpikir
tidak ada yang menungguku untuk pulang ke rumah?
Udah gitu aja. Oke, selamat pagi : )
Comments