K-Pop dan Patah Hati



            Hallo, June? Apa kabar dengan Jane? #ehh...
            Juni telah menyapa, guys, dengan sejuta peristiwa yang akan terjadi di masing-masing kehidupan manusia. Juni juga tidak begitu spesial seperti bulan-bulan lainnya. Spesial dan tidaknya suatu waktu itu adalah pengharapan dari diri masing-masing individu. Jadi, mohon maaf sama yang lahir, nikah dan mati (eh) di bulan Juni yang otomatis jadi bulan favorit kalian.
            Lalu mengapa dengan Juni? Ah.. tidak apa-apa. Hanya intermezo belaka sebelum, gue (sok ngomong jekardah dulu biar dinaksir sama itu tuh yang pacaran sama ababil dari betawi #eh hehehe) mau cerita-cerita sedikit tentang kisah dibalik gue bisa jatuh cinta sama Kpop.
Omona, penting banget gitu? *histeris iblis di samping kiri gue*  
Ya Allah, kamu sibuk banget sih, suka-suka orang donk! *sahut malaikat ganteng di samping kanan gue*
Eaa... penting nggak penting yang penting gue nulis. Biar nggak nyesel udah membuang waktu sebulan hingga gagal jadi penulis pemberani di salah satu event yang cukup beken di dunia maya kepenulisan. Well, kembali ke laptop. Ayam jago di kampus unhas mulai berkokok. Gue mau lanjut cerita tentang kepop. *pantung nggak nyambung          -___-*
Dahulu kala di sebuah negeri di ujung ter-timur nusantara, hiduplah seorang gadis keturunan melayu-indonesia yang terlalu banyak membaca. Kesukaannya akan dunia baca-membaca menghantarkannya menjadi seseorang yang gemar bermimpi. Karena terlalu sering bermimpi, gadis tersebut menjadi sakit kepala. Ia pun memutuskan untuk tidak bermimpi lagi. Melainkan memutuskan untuk memindahkan mimpi-mimpinya ke dalam tulisan-tulisan yang di sebut dengan cerita.
Selain gemar bermimpi, gadis kecil yang beranjak remaja itu juga gemar sekali menggambar. Menggambar orang, menggambar rumah, menggambar pohon, juga matahari yang tersenyum di balik dua gunung. Gemar menggambar juga gemar menulis, gadis kecil itu pun memiliki cita-cita ingin menjadi seorang pembuat film atau yang sekarang di kenal dengan sutradara. Kelak ia berharap mimpi-mimpinya yang ia tuangkan dalam tulisan dapat menjadi gambar yang bergerak dan bersuara, juga bisa ditonton oleh semua orang di dunia.
Gadis kecil itu lalu beranjak remaja. Ia bertemu dengan orang-orang baru, bersahabat dengan orang-orang hebat juga menghabiskan waktu sebagai gadis remaja. Ia tidak melupakan cita-citanya. Hanya waktu yang tidak ada untuk pelan-pelan merangkai impiannya. Ia terlalu sibuk dengan kegiatan menjadi remaja. Juga, ia, berhasil menemukan sosok yang selalu ada di dalam cerita-cerita yang ia tulis. Pangeran kodok yang menunggangi kuda putih! *??*
Kesibukannya semakin bertambah. Darah remaja yang mengalir di dalam darahnya mendidih. Ini kan masa-masa dimana cinta monyet wajib kudu harus fardhu ‘ain untuk dilakukan. Hari-harinya menjadi selalu cerah meski hujan badai hingga sekolah mereka terendam air. Bersinar seiring hatinya yang riang gembira. Setiap hari, gadis remaja itu mengikuti kemana pun sang pangeran kodok pergi. Menanti kapan si kodok berubah menjadi pangeran. Takut ia melewatkan kejadian seperti itu. Juga takut sang pangeran nanti menemukan putri kodok si belahan hati.  
Keceriaan hari-hari gadis remaja itu perlahan-lahan mulai memudar. Dunia terus berputar, terus berubah. Kadang bahagia juga kadang sedih. Kesedihan si gadis mulai muncul takkala apa yang ia takutkan terjadi. Heol!! Sang pangeran kodok bertemu dengan putri yang yang cantik jelita. Lalu, pangeran kodok berubah menjadi pangeran seutuhnya sambil menunggangi kuda putih. Cahaya ketampanannya begitu menyilaukan sekitar. Sampai-sampai sang pangeran tidak melihat kalau ada gadis yang menangis melihat kenyataan itu.
Gadis remaja itu sedih, merenung di dalam kamar yang gelap. Hatinya sedikit sakit, mungkin juga sangat sakit. Ia menangis dalam diam. Pangeran kodoknya telah pergi. Tujuannya hidup selama di sekolah telah musnah. Penyemangatnya bangun pagi-pagi hilang. Tiba-tiba, seberkas cahaya muncul di dalam kamar yang gelap itu. Gadis itu berusaha membuang jauh-jauh harapan bahwa cahaya itu adalah sang pangeran sebab itu sangat-sangat-sangat tidak mungkin. Darimana coba dia dapat kunci? *haha!* Sebab benar adanya, cahaya itu bukan sang pangeran melainkan sebuah buku usang yang tiba-tiba bersinar. Gadis itu melihat sebuah pertanda seperti peringatan karena ia mulai melupakan kebiasaannya dahulu, membaca bermimpi menulis.
Buku usang berisi rajutan kata yang penuh impian itu memanggil si gadis untuk kembali ke dunianya. Dunia menulis. Dunia yang menemani hari-hari si gadis waktu kecil. Lalu, bola lampu di atas kepalanya menyala. Sebuah ide cerita baru saja muncul di benaknya. Klik! Lampu kamar menyala, kamar tak lagi gelap. Si gadis mulai mengambil pena, merangkai kata di lembaran kosong buku usang itu.
9095 detik kemudian. Sebuah cerita pendek yang mini banget berhasil di selesaikannya. Panjangnya hanya satu halaman bolak balik, kata-katanya simpel sekali *waktu dibaca di masa sekarang*, tapi gadis itu tersenyum lebar. Bahagia. Ia lupa kesedihannya. Ia kini bangga karena berhasil menyelesaikan tulisan pertamanya. Sebab, isi buku usang itu adalah cerita-cerita yang tidak ada akhirnya. Haha!
Waktu menunjukkan pukul satu tengah malam. Gadis itu merasa haus usai menyelesaikan cerita pertamanya. Segelas air dingin mungkin sudah cukup membuatnya menghilangkan rasa haus. Sambil meneguk air satu gelas penuh, tangan gadis itu menekan tombol power pada remote televisi. Ia tidak sadar bahwa tindakannya itu akan mengubah arah hidupnya kemudian. Dari yang suka musik pop indonesia menjadi pecinta fanatik musik pop korea.
Woaaaahhhh~ mata gadis itu bersinar cerah takkala muncul di layar kaca pria tampan berponi samping yang sedang bermain gitar.
Suara petikan gitarnya, suara nyanyiannya, wajahnya, semuanya! Gadis remaja itu sudah memutuskan arah kehidupannya yang baru. Kesibukannya tidak lagi mengikuti pangeran kodok. Kesibukannya kini ada dua, menulis dan fansgirling! Yeyeyelalala~
Hari-harinya kembali bersinar cerah. Ia begitu ceria menghadapi hari-harinya. Meskipun tidak seorangpun temannya memiliki hobi yang sama dengannya, ia tetap ceria. Karena dengan begitu ia bisa sendirian mencintai hobinya. Tanpa perlu berbagi dengan orang lain. Padahal hobi kan bukan pacar. Kalau pacar dibagi itu sih gak boleh -__-‘ tapi kalau hobi? Bolehlah saling berbagi. Haha~
Itulah gadis kecil dari ujung timur Indonesia. Meskipun tidak memiliki teman-teman sehobi di sana, ia punya banyak teman sehobi di seluruh indonesia yang ditemuinya lewat dunia maya. Dunia maya memang menghapuskan jarak yang ada. Dimanapun kau berada aku bisa berteman denganmu. Hari-hari gadis itu menjadi lebih sibuk dari biasanya. Ia sudah lupa kalau pernah patah hati. Yang ia ingat hanyalah bagaimana terus berusaha menjadi orang yang baik. Terus merangkai impian selagi kita masih muda. Terus mencintai hobi kita saat ini.
Suatu hari, gadis remaja itu tengah menulis di dalam kamar. Sayup-sayup suara televisi dari ruang tengah masuk ke dalam kamarnya. Memecah sedikit konsentrasinya. Siaran televisi itu tengah membahas tentang impian, cita-cita dan harapan. Sang pewawancara bertanya pada seorang narasumber, “Siapa sih idola favoritmu sampai kamu bisa bercita-cita seperti itu?”
Bukannya mendengar jawaban sang narasumber, gadis itu sibuk memikirkan jawabannya sendiri. Sambil tersenyum. Nama-nama idola yang membuatnya semakin semangat dalam hidup dan terus ingin menggapai cita-citanya terukir di dalam memorinya.
TVXQ, Kim Jae Joong, Yunho, Yoochun, Junsu dan Changmin.. mereka adalah idola di bidang musik. Kelak, gadis itu berharap film yang ia buat dapat di isi soundtrack dari penyanyi favoritnya.
Lalu, Khalil Gibran, Khairil Anwar, Andrea Hirata, Ernest Hemingway, Hellen Keler, JK Rolline, Winna Effendi, Tere Liye, Penulis Tom Sawyer, Orizuka dan masih banyak lagi penulis idolanya yang menjadikan cita-cita menjadi penulis semakin berkibar di dalam dada. Kelak, gadis itu berharap bisa menjadi seperti mereka semua.
            Gadis itu sangat bersyukur mengalami yang namanya patah hati kala itu. Jika ia terus bersama dengan pangeran kodok, mungkin ia tidak akan pernah memiliki impian yang besar, juga idola yang hebat. Idolanya mungkin hanya pangeran kodok dan impiannya tidak menjadi apa-apa.

            Begitulah, guys.. asal mula mengapa gadis ini *nunjuk diri* bisa jatuh cinta sama kepop. Hahahaha~
            Oke.. selamat sore. Gue mau cuss dulu, pegel jari ngetik, pegel otak mikir. Sekarang giliran kaki yang harus pegel. Hahahaha ^^V
            Selamat menikmati JUNI ^^
           

           

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y