Langsung Dan Tidak Langsung Sama-sama Hasilkan Pemimpin Korup
Wah,
lama tidak berkunjung ke blog. Padahal tidak sibuk. Hanya karena koneksi
internet di daerah tertimur di Indonesia ini benar-benar menyedihkan. Hanya
pulsa saja yang mampu menyokong kita-kita di sini untuk tetap bisa berselancar
di dunia maya. Padahal saya termasuk orang yang suka sekali nge-net, apalagi
kalau ada wifi gratis. Haha.
Okeh,
sudahan curcolnya.
Seperti
judul tulisan ini sudah banyak yang menebak saya akan membahas apa. Iya. RIP
Demokrasi. Itulah topik hangat di masyarakat saat ini. Sejak sehari yang lalu
saat ketok palu dari rapat paripuran DPR menyatakan kembalinya sistem pemilihan
kepala daerah melalui DPRD atau disahkannya RUU Pilkada, sebagian besar rakyat
Indonesia menolak RUU tersebut. Pasalnya, RUU Pilkada akan menghapuskan
kedaulatan rakyat Indonesia dalam hak berpolitik. Kemunduran Demokrasi dimana
rakyat yang seharusnya memilih pemimpin mereka sendiri harus tunduk pada
pilihan DPRD. Ibaratnya nih mau milih jodoh sendiri atau ikut pilihan orang
tua? Haha!
RUU
Pilkada dirancang karena dianggap pemilihan langsung kepala daerah melalui
pemilihan umum yang selama ini berlangsung terlalu mengeluarkan banyak dana.
Padahalkan negara ceritanya mau berhemat nih. Makanya, dirancanglah RUU Pilkada
dengan mengembalikannya kembali pemilihan kepala daerah kepada pilihan DPRD.
Tentu saja rakyat Indonesia menentang keputusan ini. Selain karena rakyat sudah
tidak bisa berpartisipasi lagi dalam memilih kepada daerah, pemilihan kepala daerah
melalui DPRD sangat rentan dengan KKN dan politik uang. Kita tahu sendiri bahwa
anggota dewan kita yang terhormat sebagian besar terjaring kasus korupsi.
Artinya, rakyat tidak percaya dengan pilihan DPRD.
Menyedihkan
memang. Ketika apa yang diperjuangkan mahasiswa di tahun 1998 dengan
meruntuhkan tirani kekuasan tiga puluh harus mengalami kemunduran di saat
rakyat sudah bebas berpendapat dan memilih pemimpin yang mereka inginkan.
Pengesahan UU Pilkada dinilai sebagai lanjutan dari persaingan alot menduduki
kursi presiden RI ke 7. RUU Pilkada yang diusulkan oleh koalisi yang mendukung
capres yang kalah dinilai telah melukai masyarakat yang ingin Pemilihan
Langsung terus dipertahankan. Selagi UU Pilkada masih hangat di tolak
masyarakat luas, berhembus kabar bahwa Pemilihan Presiden yang dilalukan secara
demokratis akan dikembalikan ke MPR. Bayang-bayang kekejaman Orde Baru mulai
membayangi Indonesia. Kemunduran Demokrasi membuat banyak rakyat kecewa. Bahkan
Presiden RI menyatakan kekecewaannya atas disahkannya UU Pilkada terlepas dari
banyak pihak yang menghujat beliau dan partainya.
Sebagai
orang awam, saya turut kecewa dengan kembalinya pemilihan kepala daerah kepada
DPRD. Karena selalu golput disetiap kesempatan, saya tidak pernah menyalurkan
aspirasi saya melalui pemilihan umum. Satu saja alasan saya. Saya tidak kenal
siapa yang harus saya pilih dan mengapa saya memilihnya. Daripada datang ke TPS
dan memberikan suara secara ‘suka-suka’ atau ‘asal pilih’ seperti kebanyakan
pemilih Indonesia, lebih baik saya golput. Toh, program-program dari para
pemimpin yang terpilih tidak menyentuh langsung pada kelangsungan kehidupan
saya. Pikiran yang aneh memang dari seorang mahasiswa.
Menurut
saya, meskipun kecewa dengan kemunduran demokrasi. Tetapi saya setuju dengan
pemilu tidak langsung. Menyedihkan memang harus kembali ‘seperti’ zaman Orde
Baru. Kepala Daerah ditentukan oleh partai. Akan banyak kasus suap di dalam
DPRD untuk memenangkan salah satu calon tertentu. Padahal, kasus suap tidak
hanya terjadi pada pemilu tidak langsung. Pada pemilihan langsung pun, kepala
daerah perlu mengeluarkan banyak dana. Bukan hanya untuk kampanye, melakukan
pencitraan di depan warga masyarakat yang buta politik dan apatis terhadap
siapa yang harus memimpin. Calon Kepala Daerah pun harus mengeluarkan banyak
dana untuk ‘menyuap’ warga yang ikut dalam kampanyenya (ini sudah menjadi
rahasia umum), untuk keperluan ‘serangan fajar’, dan bahkan untuk menyuap hakim
MK.
Sudah
banyak kasus kepala daerah yang ditangkap oleh KPK (jumlah tidak tahu, tapi
seringnya pemberitaan seperti ini membuat saya berkesimpulan banyak) baik
karena kasus korupsi maupun kasus suap kepada MK atas sengketa Pilkada. MK
sendiri mengakui, seperti yang saya dengan saat sidang sengketa Pilpres
kemarin, bahwa di setipa Pilkada pada suatu daerah selalu disertai dengan
sengketa Pilkada dari pihak yang kalah. Pada saat Pemilu Pilkada berlangsung,
masyarakat seakaan terbagi menjadi beberapa kubu. Seperti yang saya saksikan di
kampung saya. Saat itu tengah terjadi proses kampanye untuk memilih Bupati.
Para pendukung dari masing-masing calon yang tadi bertetangga mulai menjadi
seolah musuh karena mendukung pilihan yang berbeda. Belum lagi setelah hasil
penghitungan suara diumumnkan. Akan banyak kita saksikan di televisi masyarakat
para pendukung pasangan yang kalah akan menuntut KPUD, berdemo tida tertib,
hingga hasil pilkada yang menurut pasangan yang kalah ada indikasi kecurangan
dan dibawa ke MK. Pihak yang menang tidak jarang turut mengambil bagian pada
putusan MK dengan melakukan kasus suap (kita sudah melihat buktinya tanpa perlu
saya sebutkan).
Pemimpin
hasil Pilkada langsung pun tidak jarang menjadikan kepemimpinannya sebagai
jalan untuk membentuk istana kekuasaan. Meskipun kejadian macam ini akan juga
ditemui pada pemimpin hasil Pilkada tidak langsung.
Meskipun
demikian, terdapat beberapa dari pemimpin hasil Pilkada Langsung yang ‘semoga’
tidak seperti kepala daerah yang lainnya. Tidak usah saya sebutkan, kita sudah
tahu sendiri beberapa pemimpin daerah yang dikenal baik dan melakukan program
kerjanya dengan benar. Mereka terpilih bukan karena ‘pecintraannya’ bagus
tetapi mereka memang good people yang
pantas memimpin kita.
Pemilihan
langsung bagi saya sarat dengan pencitraan. Apalagi didukung dengan kecanggihan
teknologi yang memungkinkan setiap warga untuk melihat lebih dekat pada calon
pemimpin. Sayangnya, informasi yang di dapatkan baik dari media massa hingga celotehan
antar warga tidak mudah disaring kebenarannya jika mendengar/melihat/membaca
dengan hati tertutup. Pencitraan yang dimainkan dengan aktor terbaik hanya akan
menghasilkan pemimpin yang jago berakting di hadapan rakyat yang masih ‘buta’
akan dunia politik.
Dosen
saya pernah mengatakan bahwa kesalahan
terbesar dari Demokrasi adalah yang banyak belum tentu benar. Iya, saya setuju
dengan perkataan beliau. Rakyat yang cerdas akan memilih pemimpin yang
menguntungkan. Rakyat yang kurang cerdas akan memilih pemimpin sesuka hati
dengan sikap masa bodoh. Rakyat yang tidak cerdas akan memilih pemimpin yang ‘kelihatannya’
baik. Lalu dimana letak kebenaran dari suara banyak atas pemimpin yang
terpilih, ketika setiap rakyat memilih dengan ‘kepentingannya’ masing-masing??
Pemilihan
tidak langsung sarat dengan politik uang, pun dengan pemilihan langsung. Lalu dengan
cara apa lagi kita menentukkan seorang pemimpin? Pilihan rakyat atau pilihan
partai? Jika pilihan rakyat hanya menghasilkan pemimpin yang bertopeng kebaikan
dan pilihan partai hanya menghasilkan pemimpin yang tidak pro rakyat?
Entahlah...
Tidak
ada yang lebih baik. Mungkin.. mungkin... mungkin saja kita bisa pindah pada
sistem kekhalifahan.. heheheheheh ^^

Comments