Bahaya Sirih Pinang Bagi Kesehatan
Coba
perhatikan gambar saya di atas. Dari bentuknya saja sudah bisa ditebak poster
tersebut berasal darimana. Apalagi buat kalian yang hobi nonton. Iya, itu
adalah spanduk yang biasanya terdapat di studio XXI atau bioskop di seluruh
tanah air. Peringatan awal untuk para penonton agar tidak melakukan hal-hal
yang dilarang. Seperti membawa makanan dan minuman karena di dalam sudah
terdapat makanan dan minuman yang bisa dinikmati apabila di beli (enggak
gratis). Kemudian dilarang membawa handycam atau alat perekam untuk mencegah
terjadinya pembajakan apalagi untuk film-film premiere. Dan beberapa peraturan
lain. Anehnya, saya sempat terkejut saat pertama kali mengunjungi bioskop XXI
di Jayapura. Diantara peraturan-peraturan yang sudah biasa, terdapat lagi satu
peraturan yang hanya akan kalian temui di Papua. Yaitu “Dilarang Makan Pinang”.
Pinang.
Salah satu makanan atau lebih tepatnya cemilan yang khas untuk orang Papua. Pinang
dimakan dengan daun sirih dan bubuk kapur, kemudian dikunyah-kunyah hingga
membuat mulut berwarna merah kental. Di Papua, orang yang mengkonsumsi pinang
kadang tidak sadar dengan meludah sembarang sehingga ludah yang berwarna merah
itu mencemari lingkungan.
Di beberapa
tempat umum di Jayapura, pinang sudah dilarang untuk dibuang sembarangan. Maka
tidak heran, jika akhirnya Jayapura memiliki bioskop XXI pun menambahkan salah
satu aturan yang tidak lazim kita temui di bioskop XXI di seluruh Indonesia.
Dan yang lebih ‘khas’ lagi, ketika semua peraturan di tulis dalam bahasa
inggris, hanya peraturan tentang pinang yang ditulis dalam bahasa indonesia.
Mengkonsumsi pinang sendiri ternyata
memiliki dampak buruk terhadap kesehatan gigi. Bukannya malah memperkokoh gigi,
menginang (makan sirih dan pinang) dalam waktu yang lama ternyata menjadi
penyebab penyakit periodontal. Kepercayaan bahwa mengunyah sirih dapat
menghindari penyakit mulut seperti mengobati gigi yang sakit dan nafas yang tak
sedap kemungkinan telah mendarah daging diantara para penggunanya. Padahal efek
negatif menyirih dapat mengakibatkan penyakit periodontal atau gusi dengan
adanya lesi-lesi pada mukosa mulut seperti sub
mucous fibrosis, oral premalignant dan bahkan dapat mengakibatkan
kanker mulut. Kanker pada mukosa pipi dihubungkan dengan kebiasaan mengunyah
campuran pinang, daun sirih, kapur dan tembakau. Campuran tersebut berkontak
dengan mukosa pipi kiri dan kanan selama beberapa jam. Kanker pada gingiva
umumnya berasal dari daerah dimana susur tembakau ditempatkan pada orang-orang
yang memiliki kebiasaan ini. Daerah yang terlibat biasanya lebih sering pada
gingiva mandibula daripada gingiva maksila.
Kapur yang digunakan dalam mengonsumsi
sirih pinang sebenarnya mengandung manfaat untuk kesehatan periodontal karena
mengandung zat-zat kitin yang bermanfaat untuk kesehatan periodontal. Hal yang
menjadi masalah di sini adalah produk kitin yang digunakan dalam meminang dapat
merusak periodontal secara mekanis yaitu dalam bentuk serbuk/bubuk kapur. Kapur
yang dipsroses dalam bentuk salep adalah salah satu produk yang tidak merusak
jaringan periodontal, namun berfungsi menguatkan jaringan periodontal. Proses
akulturasi untuk merubah sedikit demi sedikit penggunaan serbuk kapur dalam
konsumsi sirih pinang, memang adalah proses panjang, namun harus tetap
dilakukan. Berbagai pendekatan, baik secara antropologi maupun ilmu sosial
lainnya harus digabungkan dengan ilmu kesehatan untuk mengubah perilaku
masyarakat pengonsumsi sirih pinang.
Menyirih
pinang sendiri sebenarnya bukan hanya budaya di Papua. Pada zaman dahulu, di
seluruh Indonesia sudah mengenal menyirih pinang. Namun, budaya tersebut sudah
mulai ditinggalkan oleh masyarakat indonesia yang sudah modern. Meskipun masih terdapat beberapa kelompok masyarakat yang menyirih pinang bak kecanduan rokok maupun kopi seperti di Papua.

Comments