CUMA IKUT KOMENTAR TENTANG MENTERI

Mau turut latah dengan kehebohan setelah pengumuman ‘orang-orang hebat’ yang akan menduduki kursi menteri pada kabinet Presiden ketujuh kita. Kabinet Kerja itulah nama yang diberikan Pak Joko Widodo untuk para pembantunya lima tahun ke depan. Seperti yang sudah beliau utarakan jauh-jauh hari, kursi kabinetnya akan banyak diisi oleh orang-orang profesional yang siap bekerja untuk rakyat. Benar saja, begitu diumumkan, nama-nama yang muncul memang adalah orang-orang yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Namun, ada satu nama yang menimbulkan kontroversi di dalam masyarakat, ada yang mendukung ada pula yang mencibir. Lalu saya sendiri?
            Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pujiastuti dinilai banyak masyarakat tidak layak menjabat sebagai Menteri jika dilihat basic pendidikannya yang lulusan SMP. Meski lulusan SMP, Ibu Susi adalah seorang yang menurut Pak Jokowi tepat ditempatkan pada posisi Menteri Kelautan dan Perikanan dilihat dari sepak terjangnya pada bisnis ikan laut yang digelutinya. Ibu Susi pun menunjukkan ketepatannya dengan posisi tersebut sejak masuk kerja. Beberapa terobosan ia lakukan seperti mengganti jam masuk kantor menjadi pukul 7 pagi. Dan beberapa terobosan lain yang bisa Anda temukan sendiri di dunia maya seiring ‘tenarnya’ menteri dengan tiga suami dan bertato serta merokok ini.
            Pak Jokowi sejak kemunculannya memang selalu disorot media. Hingga memilih menteri pun yang setiap hari disorot media. Seperti kalimat pertama saya di atas saya juga ingin ikut-ikutan latah dengan salah satu menteri perempuan ini. Banyak juga yang mendukung keberadaan Ibu Susi dengan latar pendidikannya. Yang pentingkan bagaimana kerjanya. Cepat kerja untuk indonesia yang lebih baik. Lalu saya sendiri mau ikut-ikutan latah pada sisi mana?
            Saya memang tidak pro Jokowi sejak dulu, tetapi tidak menyukai pemilihan Ibu Susi tidak ada hubungannya dengan pro dan kontra terhadap Jokowi. Saya melihat dari sisi ‘etis’ dan ‘tidak etis’nya. Terutama jika kita berbicara tentang ‘inspirasi’ dan ‘motivasi’. Posisi menjadi menteri juga menjadi impian hampir generasi penerus. Tidak sedikit anak-anak termasuk saya sewaktu kecil ingin menjadi menteri. Bukan hanya ingin menjadi dokter atau polisi. Setelah mengenal bangku kuliah, saya tetap menjadikan cita-cita menjadi menteri sebagai impian saya. Cuma sebagai motivasi sih agar saya terus berusaha memperbaiki nilai-nilai dan menambah pengetahuan saya. Karena saya pikir, menjadi seorang menteri juga harus memiliki pendidikan yang tinggi bukan hanya sepak terjang yang hebat di bidangnya. Minimal SMA lah.
            Melihat pada kehebohan dengan menteri baru ini, saya benar-benar kecewa dengan pak Jokowi. Inikah mungkin revolusi mental yang ia dengungkan. Di mulai dengan memilih menteri yang tidak berlatar belakang pendidikan tinggi tapi memiliki kecakapan dalam bekerja. Ini seperti tamparan keras untuk para sarjana seolah mengatakan kalian tidak perlu sekolah tinggi, cukup rajin bekerja saja dan menjadi pengusaha kaya lalu bisa menjadi menteri. Juga pada generasi penerus yang masih duduk di sekolah dasar, bahwa kalian harus menjadi wirausaha, lupakan pendidikan setinggi-tingginya. Minimal kalian bisa sampai SMP saja.
            Well, mungkin buat para pendukung Ibu Susi tulisan saya ini begitu amatir. Tapi ini saya tulis dari hati saya sebagai warga Indonesia. Yang kecewa karena Presiden mengesampingkan pendidikan tinggi selagi mendengung-dengungkan gererasi penerus harus bersekolah tinggi. Tidak terbantahkan mungkin jika menteri ini sudah memiliki pengalaman yang hebat di bidangnya. Tapi please Pak, bisakan disesuaikan dengan impian banyak anak Indonesia yang menempuh sampai kuliah dengan berbanting tulang agar mereka terus termotivasi untuk tidak meninggalkan bangku kuliah karena sudah pandai mencari uang. Memang titel tidak dibawa mati, uang juga tidak dibawa mati. Memang benar anak-anak Indonesia juga harus diperkenalkan dengan jiwa kewirausahaan. Tetapi jiwa kewirausahaan yang tidak meninggalkan pendidikan. Minimal SMA lah.  Jika sudah seperti itu kita ubah saja pendidikan Indonesia menjadi Minimal Bisa Baca Tulis Dan Hitung.
 Saya juga tidak ingin membawa-bawa agama, tidak ingin di cap fanatik. Tetapi sebelum saya warga Indonesia saya adalah Muslim. Pun begitu dengan 80% warga Indonesia lainnya. Saya tidak usah membeberkan mengapa saya kaitkan dengan agama. Saya pikir sudah banyak yang membahas tentang itu.
But, It’s Fine. Saya berkoar-koar pun tidak akan ada yang peduli. Bapak Presiden mungkin tidak akan ‘blusukan’ tiba-tiba ke jutaan blogger nusantara. Saya maklumi pilihan Bapak Presiden, mungkin sudah tidak ada lagi orang berpendidikan tinggi yang sanggup menyaingi Bu Susi. Walaupun saya kecewa sekali. Yaa sudahlah, karena ada yang bilang “nggak usah sibuk ngurusin menteri, ngurusin aja besok beli makan pake apa.” Hahahahah

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y