Kelas Malam - Cuhat Lagi
Buat Apa Rasa Empati Kalau Tidak di Do It – kan?
Kesepian
itu bukan tentang orang lain, tetapi tentang dirimu yang masih menutup diri
dari kehidupan.
Iya,
benar juga. Selama ini ternyata banyak sekali hal yang tidak saya sukai. Itu
sama saja saya tidak peduli terhadap apapun. Padahal selama ini saya selalu
mengaku paling peduli, memiliki empati yang tinggi. Nyatanya, saya terlalu
egois dengan menanggap saya paling benar (Hehe). Hal ini kemudian saya sadari
setelah akan meninggalkan bangku kuliah.
Selama
masih menjadi mahasiswa, saya sangat yakin bahwa saya orangnya memiliki
kepedulian yang tinggi. Saya mudah tersentuh pada hal-hal menyedihkan yang
dialami orang lain yang jauuuuh dari tempat saya saat itu. Misalnya saya
membaca di media sosial atau melihat di televisi atau melihat dari atas angkot.
Tapi nyatanya tidak.
Waktu itu, saat akan semester dua, saya
mengejar dosen saya untuk minta tanda tangan KRS sampai ke dekat rumah beliau.
Di sana, beliau bertanya pada saya, “Sudahkah kamu bersedekah?”
Saya mengingat-ingat sembilas belas tahun
hidup saya dulu. Tidak ada satu ingatanpun saya mengeluarkan sedikit rejeki
saya (kecuali zakat yang otomatis dibayar ortu) untuk membantu orang yang
membutuhkan. Apakah ini jenis kepedulian tinggi yang saya yakini?
Pulangnya, saya melihat seorang wanita yang
duduk di depan masjid. Mengemis. Saya ingat, itulah pertama kali saya
mengeluarkan sedikit rejeki saya untuk berbagi pada sesama. Selanjutnya,
cukuplah hanya saya dan Allah yang tahu.
Kejadian itu membuat saya berpikir, apa
benar saya orang yang peduli?
Ada seorang teman saya di kampus yang
sangat gemar membantu orang lain. Ia tidak bisa menolak sedikitpun permintaan
tolong dari orang lain. dan selalu membantu dengan senyuman. Meskipun itu
adalah permintaan yang menurutku tidak perlu dibantu. Misalnya menolong
membuatkan tugas. Iya kan? Tapi, teman saya selalu membantu. Bagaimanapun
kondisinya ia akan selalu mengusahakannya.
Berbeda sekali dengan saya. Ketika ada yang
meminta tolong, saya memikirkan masak-masak, apakah akan menolong atau tidak.
Untuk ruginya bagi saya. Tetapi jika mereka bertanya, tentu akan selalu saya
jawab.
Jadi, apakah saya orang yang benar-benar
tidak peduli?
Setelah sarjana, saya menjadi dekat dengan
sahabat saya yang meskipun sekampus kita jarang bertemu. Saya sering bermalam
di rumahnya. Sering sekali ia membeli aneka makanan yang ditawarkan pada saya.
Tetapi, jawabanku hampir semua sama. “Saya tidak suka.”
Lalu, teman saya akhirnya menyeletuk. “Coba
sebutkan deh apa-apa yang kamu suka?”
Saya terdiam. Mengingat-ingat. Ternyata
banyak sekali hal-hal di dunia ini yang tidak saya suka. Tidak suka makan buah,
tidak suka makan sayur, tidak suka si A, tidak suka si B, tidak suka berada di
tempat A, tidak suka berada di tempat B, dan masih banyak lagi hal-hal yang
tidak saya suka.
Entahlah, mungkin saya cuek atau terlalu
tertutup?
Saat akan kembali ke kampung halaman, saya
teringat teman-teman saya, sahabat saya sejak SMP. Kita berlima memiliki
perangai masing-masing. Ada yang jutek, ada yang cuek, ada yang tertutup, ada
yang lemot. Lalu saya? Akhir-akhir ini saya sering berpikir, kalau saya adalah
kolaborasi dari semua perangai mereka.
Saya menuduh teman saya yang cuek sebagai
orang yang sangat cuek. Tetapi baru-baru ini orang
mengkotbahiku dengan sebutan cewek tercuek. Saya pikir teman saya adalah yang
paling jutek, tetapi orang dekat saya mengatakan bahwa saya juga jutek. Saya
selalu mengolok teman saya yang lemot, akhir-akhir ini saya pikir saya lebih
lemot. Teman saya introvert adalah orang tertutup yang pernah kami kenal (kata
kami dulu saat SMP), tetapi saya yakin keempat orang teman saya tidak tahu
apapun tentang saya, karena saya lebih tertutup dari teman saya yang tertutup
itu.
Cuek, tertutup adalah sifat yang
terakumulasi dari sikap tidak peduli orang lain. saya juga sampai heran, mengapa
saya berkembang menjadi orang yang tidak peduli, tetapi masih merasa begitu
peduli?
Saya suka mengikuti kegiatan sosial,
meskipun hanya bertahan satu kali pertemuan. Saya suka menulis tentang
ketidakadilan. Saya peduli pada anak-anak busung lapar di Afrika, dan berminat
jika ada yang mengajak ke sana. Saya peduli pada anak-anak jalanan yang
menghabiskan waktu kecilnya untuk mencari uang di tempat yang berbahaya.
Sungguh, saya benar-benar peduli. Tetapi kenapa semakin ke sini saya melihat
kenyataan bahwa saya sebenarnya tidak peduli, cuek, dan tertutup?
Sampai akhirnya saya menemukan jawabannya.
Sebenarnya sudah dari kemarin-kemarin, tetapi saya tidak mau mengakui kebenaran
itu. Sampai saya membaca kalimat di atas.
Kesepian
itu bukan tentang orang lain, tetapi tentang dirimu yang masih menutup diri
dari kehidupan.
Saya lupa mengutipnya dimana, jadi jika ada
yang membaca dan merasa pernah atau bahkan merasa memiliki kalimat di atas,
saya benar-benar tidak berniat mengcopy-paste.
Iya, kesepian. Mungkin karena saya
kesepian. Tidak perlu saya jelaskan mengapa. Yang cukup kalian tahu hanya saya
hidup seperti anak tunggal, tetapi bukan dengan orang tua kandungku. Kasih
sayang tentu saya dapatkan. tetapi melihat bagaimana orang lain berkembang
dengan saudara dan orang tua kandung, saya benar-benar iri. Dan memilih untuk
tidak peduli pada yang lain, karena ini adalah kehidupanku.
Ketidakpedulian saya itu datang karena.
Simaklah coba kisah saya tanggal 25 Oktober ini.
Teman saya ternyata salah satu anggota dari
organisasi relawan kelas inspirasi. Saya yang sejak dulu ingin bergabung di
kota tempat saya kuliah dulu (karena merasa begitu peduli) akhirnya menghubungi
teman saya. Ternyata tinggal satu hari meet up sebelum hari inspirasi dimulai.
Namun, pada hari H, teman saya belum juga menghubungi saya perihal waktu
fixnya. Baru kemudian, di satu jam sebelum waktu meet up, dia mengirim pesan.
Sejak kemarin saya sangat antusias. Apalagi
ini KI pertama di kota tercinta. Tetapi antusias dan perasaan kepeduliaan yang
begitu besar akan kalah jika tidak ada satu langkahpun untuk merealisasikannya.
Saya sudah siap sih, tetapi kemudian entah mengapa, lagi-lagi, virus mager
menyerang. Dan dengan berbagai perdebatan batin, saya melewatkan ‘lagi’
kesempatan untuk menunjukkan kepedulian.
Saya pikir di sinilah masalahku. Mengapa saya
merasa begitu peduli, sementara orang lain melihat saya sebagai pribadi yang
cuek?
Iya, karna satu langkah membedakanmu dari
para pemikir. Kenapa saya merasa selalu kalah dengan mereka yang bisa tampil di
depan sementara saya yang merancang idenya?
Itu karena saya hanya seorang pemikir,
sementara orang lain berusaha menjadi pemikir dan pembuat. Kenapa saya tidak
suka sama sutradara, tetapi ingin menjadi sutradara. Karena ada beberapa
sutradara yang tidak hanya membuat film, namun juga turut menulis naskah,
mengambil peran sebagai penulis juga.
Itulah masalahnya, mengapa saya pikir saya
peduli tetapi nyatanya tidak.
Tulisan ini saya buat sebagai perenungan,
juga sebagai tamparan keras. Bahwa kalau kamu ingin melihat anak-anak Papua
cerdas dan bisa bersaing dengan anak-anak di jawa sana, maka jangan biarkan
idemu, pengetahuanmu, hanya mendekap di dalam otakmu atau di setiap tulisanmu. Tetapi
terapkanlah, sebarkanlah, lakukan karya nyata pada saudara sebangsa yang butuh
uluran tanganmu.
Karena hanya sekedar TAHU tanpa
mengaplikasikannya TIDAK AKAN BERARTI apapun.
Iya,
saya harus berubah. Agar kepedulian ini tidak hanya berakhir di sini.
Iya,
saya harus berani. Karena satu-satunya yang harus kamu takuti hanyalah Allah.
Selamat
malam..
Jayapura....
Comments