Long Story After Graduation (1)


            Haii.. lama tidak berjumpa, blog tercinta.
            Lama karena penulis sibuk menjadi pengacara (Pengangguran gak ada acar) setelah wisuda. Hahaa.. Dari jauh-jauh hari. Dari masih jaman kuliah di semester-semester awal. Salah satu dosen saya pernah berkata. Bahwa dulu, saat ia hendak melangkahkan kakinya keluar dari baruga (aula), bukan rasa bahagia yang ia rasakan karena berhasil memakai toga. Justru ia merasa sedih, karena perjuangan sebenarnya baru akan dimulai setelah menjadi sarjana.
            Dari jauh-jauh hari juga, sejak masih duduk menerima materi kuliah, saya sudah tahu pasti akan sulit sekali mencari pekerjaan. Salah satu topik yang selalu saya angkat saat menelepon orang tua adalah “nanti saya kerja dimana nih?”. Bahkan jauh-jauh hari saya sudah galau, enggak tahu kenapa saat sudah wisuda saya malah sibuk mau lanjut sekolah lagi. Saya pikir dengan tingkat pendidikan yang jauh lebih tinggi, pekerjaan akan semakin mudah diraih. Iya sih, buktinya yang sarjana selalu lebih diutamakan daripada lulusan SMA maupun D3. Tapi kalau sudah S2? Saya belum tahu sih, soalnya belum S2.
            Memasuki semester 7, keinginan untuk lanjut sekolah semakin besar. Maka saya berusaha mengejar wisuda secepatnya, biar dapat cumlaude juga sih. Target harus dapat beasiswa dikti untuk calon dosen. Susah dukanya nyusun skripsi kadang bikin saya nangis di telepon sama ortu. Takut nggak bisa dikejar target lulus bulan Maret, karena pengalaman senior tahun-tahun sebelumnya, beasiswa calon dosen selalu terbuka pada bulan-bulan tersebut. Belum lagi universitas yang saya tuju juga membuka pendaftaran di sekitar bulan tersebut. Kalau lulusnya bulan Juni takutnya tidak terkejar lagi.
            Alhamdulillah, Allah beri saya jalan. Pembimbing oke-oke semua jadi bisa maju dengan cepat. Gelar sarjana di bulan Maret pun pasti di raih. Sambil nunggu wisuda, saya mikir langkah selanjutnya. Karena impian mau lanjut sekolah jadi saya mulai searching-searching beasiswa sama pendaftaran universitas. Di akhir Maret setelah wisuda malah dapat info yang tidak mengenakan. Beasiswa dikti untuk calon dosen ditiadakan tahun ini. Shocking news banget buat yang sudah nunggu beasiswa ini. April malah keluar surat ketetapannya.
            Banting setir saya coba cari beasiswa LPDP, beasiswa yang lagi hot-hotnya di kalangan mahasiswa. Setelah daftar saya menemukan kesulitan baru. Ternyata jurusan yang saya pilih tidak masuk list LPDP meskipun Universitasnya masuk. Patah semangat. Teman-teman seperjuangan pun juga patah semangat. Biaya kuliah pasca sarjana tentu sangat mahal. Untuk kantong sarjana muda freshgraduate  yang belum pernah bekerja tentu saja harapan satu-satunya adalah dibiayai orang tua. Tapi malu donk, masa biar S2 masih minta sama ortu.
            Allah selalu punya rencana lain. beasiswa yang membiayai kuliahku di jenjang S1 ternyata menyediakan beasiswa untuk jenjang S2. Alhamdulillah. Semangat pun kembali berkobar. Langsung saja saya daftar beasiswanya sembari melengkapi berkas pendaftaran universitas. Tidak sedikit loh, baru mau daftar saja saya harus merogoh kocek cukup dalam. Karena belum punya uang mau nggak mau minta sama ortu dulu. Supaya nggak membebani orang tua buat ngirim duit buat makan selama masih di rantau sekalian cari pengalaman ngajar, saya daftar menjadi seorang tentor. Mumpung sudah dekat SBMPTN. Gajinya sih tidak besar, tapi lumayan buat membunuh waktu sambil melengkapi berkas dan menunggu ijazah sama transkrip asli keluar.
            Kalau biasanya daftar pasca sarjana selalu ada tes awalnya, di UGM ternyata beda. Kita diminta hanya mengumpulkan sertifikat TOELF dan TPA. Hanya! Mulailah kita kebingungan lagi. Kalau tes TOELF bisa sih di sini. Kalau TPA mau cari kemana. Mana yang diterima hanya dari Psikologi UGM atau BAPPENAS RI. Mau ke Jogja tapi tanggung. Padahal bisa sih. Namun Alhamdulillah, ada satu Universitas di Makassar yang rutin ngadain tes TPA dari Bappenas. Biaya daftarnya lumayan mahal sih 500rb. Tapi masih mending daripada harus ke Jogja lagi yang biayanya akan lebih mahal. Skor yang dibutuhkan sebanding dengan besaran harga tesnya, 500! Karena belum pernah tes sebelumnya, saya Cuma harap-harap cemas sambil belajar ala kadarnya.
            Beneran. Saya harus cemas malah. Soalnya benar-benar sulit. Mungkin sesulit tes masuk STAN. Sakit kepala saya dibuatnya. Mencoba untuk realistis karena seperti skor lima ratus sulit diraih. Benar saja, begitu pengumuman keluar, saya langsung patah semangat lagi.
            Karena sudah terlanjut mulai, akhirnya saya nekat untuk ikut tes TOELF. Targetnya sama lima ratus. Hanya kalau English saya bisa-bisa dikit walau hanya pernah kursus waktu SD dulu. Alhamdulillah, target lulus. Cuma kalau lihat hasil TPAnya rasa-rasanya begitu naif kalau saya nekat daftar.
            Di akhir juni, ternyata beasiswa dikti untuk calon dosen terbuka. Bener-bener deh dikti. Sayangnya, meskipun terbuka, kita-kita yang baru sarjana tidak bisa mendaftar karena di data dikti kami masih berstatus aktif/mahasiswa, sementara yang bisa mendaftar harus sudah menjadi alumni. Rame-rame kita datangai rektorat. Mereka juga nggak bisa ngapa-ngapain. Berkas yang harus dikirim ke dikti baru bisa dikirim akhir tahun untuk satu angkatan. Dikti akhirnya memberikan alternatif lain, lulusan fresh graduate  bisa mendaftar pada beasiswa Dikti Fresh Graduate. Rincian biayanya hanya untuk biaya SPP saja.
            Aneh bin ajaib, saya malah sibuk mengurus untuk kelengkapan berkas calon dosen. Sibuk ke sana kemari cari universitas yang mau taken contract dengan kami. Susah donk. Kecuali kalau dengan universitas swasta yang menghasilkan lulusan dengan gelar diploma 3. Sambil kesana kemari, surat beasiswa saya di proses di rektorat.  Bad News  lagi. Karena peraturan beasiswa dikti dirubah, jadi Universitas gak bisa ngasih rekomendasi, kecuali universitas mau ngangkat kami jadi calon dosen.
            Fiuhh~ aku nyerah. Mencoba realistis, yang fresh graduate nggak bisa daftar. Untung rekomendasi beasiswa bidik misi s2 sudah jadi, meskipun sempat ditolak di WR1. Katanya sih beasiswa s2 bidik misi nggak ada. Waduhh!
            Berkas sudah lengkap. Ijazah dan transkrip sudah ditangan. Tugas jadi tentor sudah selesai. 3 setengah bulan setelah sarjana di Makassar pun berakhir, waktunya pulang kampung. Rencananya, karena yakin keterima, jadi lebaran tahun ini pulang dulu ke Jayapura. Karena yakin diterima, September sudah harus merantau lagi, jadi liburan dulu sambil nunggu pengumuman di Jayapura.
            Lagi-lagi, dapet tiket pesawat murah jam 6 pagi. Karena bulan puasa jadi gampang mau bangun pagi. Eh tapi, taksi yang ditelpon yang bikin gregetan. Take off jam 6 pagi, jam 5.15 baru berangkat ke bandara. Nangis-nangis lah aku. Hiks. Untungnya gak ketinggalan pesawat, meskipun saya baru duduk lima menit di ruang tunggu, eh pesawatnya sudah datang. Tapi, Alhamdulillaaaahh~

To be continued...

           

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y