Long Story After Graduation (2)




         Di pesawat, sambil menikmati nyamannya naik Garuda Indonesia, pikiranku melayang-layang ke Jogja. Mikirn gimana nantinya saya bisa hidup di sana. Artinya saya harus beradaptasi lagi. Sendirian. Hiks. Berani nggak ya? Meskipun umur sudah kepala dua tapi jiwa masih seperti anak SMA yang kemana-mana harus bareng seseorang. Haheeehee

      Selain itu, memikirkan kepulangan pertamaku ke Jayapura. Sudah empat tahun tidak pernah ke sana. Banyak yang berubah mungkin, terutama teman-temanku. Sibuk. Ada yang sudah menikah, ada yang sudah bekerja, ada baru lulus juga, ada yang sibuk nyusun tugas akhir. Intinya, mencari teman lama itu susah kalau semua sudah pada sibuk. Palingan ketemu saat acara reunian, setelah itu sibuk kembali ke dunia masing-masing. Apalagi mau mencari teman baru. Hmmpp...

        Sahabat memang yang selalu ada ketika teman menghilang. Meskipun mereka sibuk, terima kasih sudah menyambutku. Walau setelah itu kalian hanyut kembali ke dunia masing-masing (sama aja sih! Haha).

      Selama puasa full cuma ngehabisin waktu sekalian istirahat. Rasanya aneh juga sih bangun sahur nggak di kos lagi. Mau makan sudah ada nggak perlu ke warung buat nyiapin sahur. Sudah ada yang bangunin lagi. Makannya juga enak-enak, hahah.

          Rasanya aneh juga sih, waktu bangun pagi tanpa rencana kegiatan. Atau pas mau tidur malam nggak ada yang dipikir rute jalan buat besok, kegiatan besok, ngurus berkas apa besok, ke kantor apa besok, belum lagi siap buat ngajar besok, materinya apa besok. Pokoknya full kosong. Seneng juga sih, tanpa beban.

      Sampai satu sore tiba-tiba pihak UGM nelpon, katanya saya berhak untuk ikut tes wawancara. Wawancaranya sih via telepon. Sayangnya temen seperjuanganku yang berjuang sama-sama kesana kemari tidak ditelepon pihak UGM. Entah berkasnya hilang atau bagaimana. Sedih juga sih. Terbayanglah bagaimana perasaannya saat itu.

        Tes wawancaranya lumayan panjang. 15 menit dan saya Cuma menjawab ala kadarnya. Maklum ini wawancara pertama saya. Jawabannya asal-asalan, pake sedikit cengengesan lagi (aduh!). jadwalnya sih jam 14.30 WIB, jadi disini sekitar jam setengah lima. Jam-jam sibuknya nyiapin buat buka puasa. Eh, saya malah ditelepon jam 14.15 WIB. Belum siap-siap. Masih sibuk latihan ngejawab. Mana Bude mondar-mandir manggil-manggil. Dikiranya saya lagi telponan sama temen.

          “Ci... ci.. Ini kalau mau ngebalas bbm gimana?” “Lha kok hilang ini?” “Ci.. cii..”

         Saya pun melotot. “Oh lagi wawancara ya?” Gue lemes, nggak konsen, tambah jawab seadanya. Hiks.

      Setelah wawancara, saya malah tidak berharap banyak. Tapi kalau mengingat perjuangan untuk bisa sampai di tahap wawancara rasanya sedih sekali kalau sampai tidak lolos. Satu lagi yang membuat bimbang adalah karena beasiswa bidik misi memang tidak ada tahap perkembangannya. Mau bertanya ke siapa tentang kelanjutannya pun tidak tahu. Belum lagi, karena baru datang kembali setelah empat tahun, rasanya berat juga untuk pergi meninggalkan kota ini lagi. Juga melihat teman-teman yang sudah bekerja, tergiur juga untuk bisa bekerja juga.

       Hari pengumuman tiba. Deg-deg-deg-deg-an donk. Pengumumannya ditunda sampai sore. Itu artinya malam hari di sini. Meskipun sudah berdoa sebelum membuka, tetap saja tidak afdol kalau belum shalat. Harusnya saya shalat dulu baru buka pengumuman. Namun karena penasaran. Akhirnyaa....

         Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian yang terjadi. Mungkin Allah mau saya bekerja dulu. Mengaplikasikan ilmu dulu. Dan berusaha lebih besar lagi. Saya percaya itu. Karena suatu hari di bulan Agustus, saya mendapat sms dari LPDP. Isinya mengatakan bahwa beasiswa bidikmisi S2 dipindah pengelolaannya dari Dikti ke LPDP. Namun beasiswa hanya akan diberikan pada mahasiswa yang memiliki rencana kuliah minimal Februari 2015. Bagi yang sudah terdaftar kuliah pada bulan September tahun ini, harap mengundurkan masa studinya. Benar-benar ada hikmahnya, kalau pun saya lulus lalu siapa yang akan membiayai. Meskipun saya yakin di UGM pasti banyak beasiswa, hanya saja biayanya masuknya harus minjem darimana aku? Hehehe

    Setelah dinyatakan tidak lulus, sedih sekali rasanya juga. Berarti saya harus mulai memikirkan bagaimana kelanjutan hidupku. Minimal saya sudah mulai mencari-cari lowongan kerja di sini. 


To be continued...



           

           

           

           

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y