Long Story After Graduation (3)



Augst
            Setelah lebaran, setelah kesedihan karena tidak lulus. Saya harus segera menyusun langkah untuk tidak menjadi pengangguran. Sambil termenung di sudut jendela, menatap rintik air yang membasahi kaca, pikiranku melambung jauh tetantang apa yang harus saya lakukan? Obsesi ingin lanjut sekolah, entah mengapa menguap begitu saja dengan ketidaklulusan ini. Ingin bekerja tetapi bingung harus mendaftar kemana.
            Lalu di awal agustus saya mendapat bbm broadcast dari teman, BPJS Kesehatan membuka lowongan katanya. Saya cek tanggalnya, masih ada beberapa hari untuk mengurus surat-surat yang biasa digunakan untuk melamar kerja, seperti Kartu Kuning, SKCK, dan Surat Bebas Narkoba. Meskipun tidak tahu apa itu dibutuhkan atau tidak.
            Masih ada satu sahabat nganggur yang bisa di ajak kemana-mana sebelum ia melanjutkan sekolahnya lagi. Dia pun menemani saya mengurus SKCK di kantor polisi. Ramai. Malas ngantri. Tetapi ada satu kalimat dosen saya sewaktu kami sibuk menyusun dulu. “Masa mau sarjana cuma segitu perjuanganmu?” Iya, kalimat tersebut ternyata bisa diaplikasikan ke dalam beberapa kegiatan yang semuanya membutuhkan perjuangan keras. Seperti mau lanjut sekolah, atau mencari kerja, bahkan mencari jodoh. Haha.
            Panas Jayapura seperti terdapat dua matahari saja di langit sana. Bolak-balik fotokopi, ngantri. Ah~ belum terlalu melelahkan sih. Besoknya, sibuk ngurus kartu kuning. Pagi-pagi ke Polres dulu ambil SKCK, fotokopi lagi, terus langsung ke kantor walikota. Jayapura yang secara geografi berbukit-bukit di tambah panas yang menyengat memang membuat lelah sekali kalau melaluinya dengan menggunakan angkutan umum, atau bahkan jalan kaki. Untung teman saya membawa motor, jadi sampai di kantor walikota yang letaknya di atas gunung, kita tidak kesulitan mencari gedung dimana letak pembuatan kartu kuning. Sampai di sana ternyata pembuatan kartu kuning dipindahkan sementara di GOR Cendrawasih karena sedang ada JobFair. Waduh!
            Kata teman saya, “Untung kamu gak jalan sendiri ci. Kalau nggak mungkin kamu sudah gosong di tengah Jayapura yang panas ini.”
            Hihii! Iya. Kita langsung meluncur dari kantor walikota di atas bukit ke GOR yang letakknya di kota. Alhamdulillah antriannya tidak sepanjang yang saya bayangkan. Apalagi tempat pembuatannya di tengah lapangan yang tentu saja di siang bolong akan terasa sangat panas. Fiuh~ sedikit bolak-balik buat fotokopi akhirnya nggak sampai setengah jam surat pun jadi. Karena ada Job Fair jadi sempatkan buat melihat-lihat stan-stan perusahan yang ada. Sayangnya, entah mengapa, job fair di sini sangat sepi. Berbeda sekali dengan Job Fair di Makassar yang dipenuhi para jobseeker.
            Besoknya saya langsung menuju kantor BPJS untuk menanyakan perihal lowongan kerja tersebut. Sayang sekali, setelah tarik ulur pengen nanya atau tidak. Ternyata untuk saat itu baru rekruitmen khusus yang dibuka, yang tidak ada kualifikasi pendidikan saya. Sedihnyaaaa.
            Situs pencari kerja menjadi tujuanku selanjutnya. Kata temen lagi ada lowongan di PT. Chevron. Setelah searching eh malah nemu lowongan di PT. Pertamina Bina Medika. Wuaaah! Siapa yang tidak tergiur untuk bekerja di BUMN. Biarlah mau ditempatkan di mana saja. Pendaftarannya juga hanya melalui email. Tanpa berpikir dulu, saya langsung daftar. Tak lupa saya kabarkan kepada teman-teman.
            Empat hari kemudian, saya mendapat sms yang katanya dari Bina Medika, meminta saya mengecek email karena saya salah satu yang keterima. Heh? Aneh juga sih. Tapi karena senang, langsung saja saya cek email. Di dalam berkas yang dikirimkan disebutkan bahwa nama-nama yang lulus berhak ikut tes selanjutnya di Jakarta. Itu hari sabtu saya terima email, jadi hari minggu harus sudah terbang ke Jakarta. Saya bahkan sudah menelepon teman saya yang punya travel untuk membooking satu tiket ke Jakarta, harganya 2.400.000. Namun karena ditentukkan harus menggunakan travel tertentu, akhirnya kami menghubunginya.
            Disanalah letak keanehan itu. Menurut si empunya travel, kita tidak boleh menggunakan travel lain. Kalau tidak akan didiskualifikasi. Selain itu, harga tiket pesawat yang harus di bayar (nanti akan diganti katanya) sebesar 2.700.000 untuk pulang pergi. Jelas tidak beres ini. Mana ada tiket PP Jayapura Jakarta 2,7 juta? Pakde saya pun menelepon paman yang kerja di salah satu RS di Jakarta, minta tolong tanya kebenaran lowongan yang ada. Kita dikasih nomor kontak ke RSPP. Dan hasilnya...
            Ya Allah.. baru di awal-awal masa menjadi jobseeker saja sudah ditipu seperti ini. Iya, ternyata situs pencari kerja itu tidak menyaring informasi yang benar. Adakalanya lowongan yang tercantum di dalamnya di gunakan oknum-oknum tertentu untuk menipu dan meraup keuntungan dari para jobseeker. Alhamdulillah Allah masih melindungiku dan terhindar dari praktek penipuan. Kalau tidak hilang sudah uang orangtuaku. Pengalaman ini saya bagi ke teman-teman untuk lebih berhati-hati. Benar saja, ada lagi teman saya kena. Untungnya, karena saya sudah berbagi info ke teman saya yang lain akhirnya teman saya itu menghubungi saya menceritakan tentang hampir tertipunya juga dia.
            Well, i think dunia yang saya masuki benar-benar liar. Sulit. Kita harus bergerak seperti shinkansen, kecepatan informasinya harus secepat wi-fi di korsel. Agar tidak ketinggalan informasi tentunya.
            Orangtua saya mengatakan saya orang yang sabar. Tetapi, melihat teman-teman saya sudah bekerja saya tidak bisa hanya sabar-sabar saja. Sabar sih sambil berusaha. Sabar menunggu.

To be continued..

           

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y