MARI BERBAGI #2 : RELAWAN KI
![]() |
| Jalan setapak sejauh 1,5 km dari Skyland ke SD Tobati |
![]() |
| Upacara Penyambutan |
Pagi
itu matahari bersinar dengan cerahnya. Saya sudah bangun pagi-pagi sekali dari
jadwal biasanya. Padahal ini hari Sabtu. Weekend! Orangtua saya yang melihat
saya menyetrikan baju langsung membuatkan sarapan. Sudah menangkap saya akan
pergi pagi-pagi. Tapi kemana?
Sebenarnya,
saya juga tidak yakin untuk ikut. Kemarin setelah ikut briefing sebelum hari H
di Dinas Sosial, saya benar-benar minder. Mindernya sih bukan karena saya
memang baru datang dan orang-orang di sana yang tidak lebih dari 15 orang itu
menatap saya terus. Meminta penjelasan, kamu ini siapa? Tapi karena ada teman
jadi saya aman. Tanpa harus menjelaskan pun mereka akhirnya tahu kalau saya ‘ingin’
menjadi bagian dari mereka.
Nah,
terus mindernya kenapa?
Ceritanya
gini, sejak dua tahun yang lalu, saya ingiiiiiiiin banget jadi Relawan Kelas
Inspirasi. Tapi karena waktunya yang tidak ketemu juga infonya yang entah
nyangkut dimana, akhirnya sampai saya lulus dan back to the jungle pun tak pernah saya rasakan bagaimana itu “kelas
inspirasi” anak dari Indonesia Mengajar.
Eh..
eh ternyata, di Jayapura ini, di kota tercinta saya ini, akan melaksanakan
Kelas Inspirasi. Saya tahu infonya sih dari sosial media (sosmed) dan
kelihatanya perkumpulan para relawan penggagas KI ini sudah cukup lama sebab
pendaftarannya tinggal beberapa hari saja. Saya pun lekas membuka website yang
dimaksud untuk mendaftar. Daaan.. eng ing eeeng! Saya ketawa sendiri setelah
membuka form yang harus di isi.
Sejak
dulu saya pikir ‘saya’ bisa mendaftar di kelasinspirasi.org untuk menjadi
pengajar. ‘Saya’ ingin menjadi pengajar. Tapi saya tidak membaca baik-baik,
ternyata yang bisa menjadi pengajar adalah mereka yang memiliki profesi sebagai
‘sesuatu’ entah itu dokter, polisi, penyiar, dan lain sebagainya yang sudah
digelutinya minimal selama dua tahun. Profesi itupun ia dapat setelah
menyelesaikan jenjang s1. Jadi, saya langsung baca baik-baik tujuan dari KI itu
sendiri, berbagi inspirasi lewat profesi. Saya ketawa lagi sekaligus memutar
otak. Bagaimana kalau saya jadi panitia saja?
Untung
saja ada temen yang sudah lebih duku bergabung dengan para penggagas KI
Jayapura. Saya diminta SKSD tapi malah datang di hari terakhir rapat (waduhh!).
Nah, pas briefing ini langsung saya kesandung batu yang sama di kata ‘profesi’.
Hahahahahaha... saya ngakak dulu ya. Jadi ceritanya keduanya, kita para relawan
panitia yang datang jauh-jauh enggak dibayar sepeserpun ini diminta untuk
mengisi absen. Kolom absennya ya seperti biasa, ada nama, no handphone, email
dan... profesi! Hahahaha.. saya sempat tiga menitan megang itu absen yang
harusnya dipindah ke relawan lain. Soalnya saya mikir keras, ini profesi saya
apa ya? Mahasiswa bukan, pekerja bukan, ibu rumah tangga juga bukan. Masa harus
saya tulis ‘jobseeker jomblo’ #eh hahahah.
Setelah
kejadian itu, saya di rumah banyak berpikir. Apa pengangguran seperti saya bisa
juga menjadi panitia. Bisa juga turut nimbrung dalam memberikan inspirasi. Saya
sendiri belum memiliki profesi atau mendapatkan profesi dari apa yang sudah
lama saya cita-citakan. Saya merasa nanti anak-anak polos itu akan seperti
tamparan keras untuk saya, ketika kita bertanya apa cita-cita kalian? Saya
seolah kembali ke jaman SD saya, lalu menjawab lantang. “Penulis, Kakaaaa!”
Lalu diri saya di tahun 2014 akan melihat bahwa saya masih menjadi saya yang
dulu, menulis saja tanpa terbit satu buku pun. Huuhuhuhuhu
Akhirnya
saya memutuskan untuk tetap ikut menjadi panitia, itupun karena tamparan keras
dari sahabat saya. Dan, saya juga tidak ingin impian saya untuk bisa ikut kelas
inspirasi buyar karena masalah profesi yang belum jelas, masih abu-abu ini.
Hari
yang dinantikan itu tiba, 1 November 2014, saya bertolak ke terminal dengan
teman saya. Kita bersama-sama menumpang angkot menuju lokasi SD Negeri Tobati
yang luput dari pandangan saya selama ini. Letaknya bisa dibilang ‘Subhanallah
sesuatu banget.”
Skyline
adalah sebuah daerah di Jayapura yang letaknya di atas bukit. Dari bukit itu terdapat jalan besar yang menghubungkan Jayapura dan Abepura. Dari
Skyline kita bisa melihat teluk Yotefa yang indah dengan gugusan pulau-pulau
yang sejuk dipandang. Siapa yang menyangka, di Skyline terdapat satu SD yang
namanya SDN Tobati. SDN Tobati bisa ditempuh dari Skyline dengan melewati jalan
setapak sejauh 1,5 kilo meter dari atas. Jadi penurunan dari Skyline hingga
tiba di teluk Yotefa. Di teluk Yotefa yang sedang di buat jembatan laut itu lah
terdapat SD Tobati.
SDN
Tobati memiliki gedung yang tidak besar tapi cukup untuk menampung 100-an murid
SD Tobati. Murid SD Tobati sebagian besar berasal dari pulau-pulau yang ada di
teluk Yotefa yaitu Kampung Kayu Batu, Kayu Pulo, Enggros, Tobati, Nafri, Skow
Yambe dan Mambu Sae (mungkin begitu nama kampungnya). Setiap pagi, murid SD
yang berasal dari pulau itu menggunakan kapal cepat untuk pergi ke sekolah.
Wah, itu sungguh pengalaman yang luar biasa. Dulu saya SD harus mendaki gunung
karena SD saya letaknya di atas bukit. Luar biasa juga sih. Tetapi lebih luar
biasa mereka, murid SD Tobati, yang menumpang kapal untuk tiba di sekolah dan
mendapatkan pelajaran seperti seharusnya.
Semangat
mereka untuk bersekolah itulah yang patut diacungi jempol. Maka ketika tiga
pengajar yang berprofesi sebagai pegawai bank dan penyiar radio itu masuk
kelas, mereka sangat antusias. Melihat anak-anak Tobati yang serius
mendengarkan kicauan dari para pengajar membuat saya lupa akan kegusaran saya.
Seolah-olah saya turut diinspirasi oleh ketiga pengajar itu. Hehehe
![]() |
| Relawan Pengajar sedang menginspirasi di kelas VI (sediikit banget murid kelas enam ini) |
Masa SD
memang masa-masa yang indah. Kita bebas melakukan apa saja, bergerak kesana
kemari, tidak malu-malu maju ke depan. Ah~ saya jadi ingat masa-masa SD.
Ohya,
saya kenalkan juga deh Relawan Pengajar KI yang sudah berbaik hati mau memberikan
Inspirasi untuk anak-anak SD dengan meluangkan waktu sibuk mereka tanpa
dibayar. Mereka adalah Bapak dan Ibu Walikota Jayapura, Bapak Nur Alam dan Ibu,
Mbak Monic dari Kementerian Keuangan, dan Pak Edi dari Radio Rock FM Jayapura. Dan
Relawan Panitia ada Kak Ani dan temannya dari Bank Papua, Lenny dan saya dari
anak-anak ingusan. Hehehe. Juga ada Relawan Fotografer Kak Andrey dan pacarnya.
Semoga
kedatangan orang-orang hebat tersebut (kecuali saya haha) dapat menginspirasi
adik-adik SD Tobati untuk lebih berani bermimpi dan terus berusaha keras dengan
belajar yang rajin agar bisa menggapai impian tersebut. Sebab, Bapak Walikota
Jayapura juga berasal dari Tobati. Beliau kini sudah mendapatkan gelar sampai pada
jenjang s3 dan menjadi Walikota pula. Itu semua karena beliau tidak berhenti
belajar, berusaha dan berdoa.
Meskipun
sampai saat ini saya belum menggapai impian saya menjadi epidemiolog dan
sedikit menggapi impian saya menjadi penulis freelance, saya tetap salut sama
Kelas Inspirasi termasuk penggagasnya. Sudah sepatutnya kita menginpirasi
anak-anak SD yang berasal dari kalangan jauh dari pendidikan. Untuk terus
mengingatkan mereka bahwa hanya dengan pendidikan kita akan terangkat
statusnya. Pun ada yang sampai di DO atau hanya lulusan SMP tetapi sukses dalam
berwirausaha itu juga karena pendidikan, mereka terus belajar meskipun tidak
pada pendidikan formal.
Untuk
pendidikan Indonesia yang lebih baik, dan untuk masa depan generasi penerus,
mari kita rapatkan barisan dan berbagi terhadap sesama.
Narsis dikit ah ^^



Comments