Cerpen : Rindu


Missing you...

Tiba-tiba saja aku teringat dengannya. Sudah lama sekali aku tidak pernah melihatnya, saling bertegur sapa. Terakhir kali kami bertegur sapa di depan mesin ATM. Aku dan dia bukan sedang menunggu antrian. Aku sedang menunggu teman yang mengantri dan sambil melamun ketika dia lewat, menegurku dan membuyarkan lamunanku. Aku terkejut tapi senang. Akhirnya setelah enam bulan lebih, aku bisa melihatnya. 

Dia datang dari lapangan parkir sambil membawa jas putih di tangannya. Wajahnya tersenyum cerah seperti biasa. Menyapaku santai sambil tertawa riang. Kami sempat terdiam cukup lama. Ingin mengakhiri percakapan pada pertemuan tak terduga. Tapi tidak kami lakukan. Akhirnya, percakapan lainnya mengalir begitu saja dengan membahas hal-hal yang bisa dibahas. Hingga ia pamit karena ada urusan. 

Dan terakhir kali aku melihatnya adalah di taman kampusnya. Ia sedang duduk di taman sembari serius memainkan jarinya di layar smartphone ketika aku lewat tergesa-gesa. Aku bisa saja menyapanya. Tapi tidak kulakukan. Urusanku kali itu lebih penting daripada mendengar suaranya. Aku tidak tahu saja kalau itu akan menjadi kali terakhir aku melihatnya. Setelah itu, kami kembali ke kehidupan masing-masing. Tanpa kabar, tanpa perlu tahu kabar masing-masing. Karena memang tidak perlu.

Lalu sekarang tiba-tiba aku mengingatnya. Sudah lama sekali. Sudah hampir dua tahun ketika kami terakhir saling bertegur sapa. Tertawa bersama. Saling meledek. Sebagai teman. Dia sibuk dengan dunia (tentu saja) dan aku juga (tapi sesekali mengingat dia). Setiap kali dia lewat di timeline lini masa sosialku, ingatan tentangnya menyeruak kembali. Apa ia juga merasakan hal sama ketika aku muncul di timelinenya? Ini adalah pertanyaan paling logis untuk membunuh perasaan tidak penting di dalam hati. Iya kan? Untuk mereka yang saling bertemu saja tidak akan mudah untuk meyakini ada takdir di antara mereka. Apalagi untuk yang jarang bertemu, jarang bersapa (di linmas sekalipun). 

Lalu mengapa kau kembali mengingatnya? Ah, hati ini selalu bertanya hal-hal yang sudah ia tahu jawabannya. Tentu saja karena suatu hal bernama rindu. Rindu, kau tahu rindu kan? Ia datang dimana dan kapan saja. Di saat kau sedang bercanda gurau bersama rekan-rekan, sibuk membicarakan kisah artis-artis yang bercerai atau kunjungan orang nomor satu ke kotamu, kemudian sebuah mobil sport merah melintas dengan pria tampan di dalamnya. Kau tiba-tiba bisa terdiam karena teringat akan sesuatu. Perasaan rindu menyergapmu seketika. Bukan karena orang yang mengendari mobil sport mirip dengannya atau bukan karena mobil sportnya mirip dengan kepunyaannya. Kamu mengingatnya karena dulu dia pernah berkata ingin memiliki mobil seperti itu. 

Di saat ramai saja, ingatan tentang dia bisa datang dan membuatmu rindu. Apalagi di saat hanya sunyi dan sepi yang menemanimu. Karena bosan minum kopi dan berteman dengan layar putih biru ms word di laptopmu, kau memilih berselancar di dunia lain (maya). Di tengah keseriusanmu menyelam, statusnya tiba-tiba lewat dengan menggunakan sebuah foto hasil capture percakapannya dengan seseorang.
Surat Al-Furqan ayat 74 dan An-Nur ayat 26, tulisnya. Kemudian di amiinkan oleh segelintir teman-temannya.
Otakmu segera berpikir cepat. Surat An-Nur tentu tidak hilang dari ingatanmu jika selama ini kau mendambakan lelaki shaleh meskipun kau pikir kau tidak sebaik Fatimah (dalam kisah Fatimah dan Ali). Tanganmu segera meluncur meraih al-quran kecil di rak buku, membukanya dengan metode skrining untuk mencari surat Al Furqan. Matamu tidak lepas membaca ayat demi ayat sampai menemukan yang kau cari. Ia memohon dijadikan imam untuk orang-orang yang bertakwa, kataku dalam hati. Tersenyum. Begitulah dia. Dan begitulah rindu itu muncul.

Aku tiba-tiba ingat ketika ia masuk tergesa-gesa ke dalam rumah, mencariku untuk mengajak shalat berdua. Berdua? Ia imamnya dan aku mukminnya. Sayang saat itu aku sudah shalat dan kejadian seperti itu tidak pernah terjadi lagi. Karena ia selalu shalat di masjid, tepat waktu.
Aku tiba-tiba ingat ketika dia kembali ke sekolah di sore hari, di saat ia seharusnya pulang dan mengepak barang untuk kepindahannya besok. Ia kembali mencariku hanya karena tidak ingin pergi sebelum mengucapkan selamat tinggal padaku.

Aku tiba-tiba ingat ketika dia meneleponku pagi-pagi buta, saat ia sudah tiba di kota barunya. Hanya untuk mengabarkan kalau ia tiba selamat di kota yang sangat ingin aku kesana. 

Aku tiba-tiba ingat ketika selepas SMA kami bertemu lagi dalam acara jumpa pecinta anime kota. Saat itu aku tidak menyadari keberadaannya. Terlalu banyak orang untuk mengenali seseorang yang selama ini menguasai hati? Aku benar-benar bodoh. Sampai kita bertemu kembali di kampus ini. Kau memilih masuk ke jurusan pendidikan dokter dan aku memilih menjadi perawat. Saat itulah kita menyadari seharusnya kita bertemu di acara jumpa pecinta anime kemarin. Tapi mengapa tidak?

Tidak jodoh. Itulah jawabannya. Benarkan? Aku menyadari hal itu ketika kita akhirnya tidak pernah bertemu lagi setelah dua tahun berpisah. Di kota sebesar ini bagaimana mungkin kita tidak pernah bertemu padahal lulus dari kampus yang sama? Tanpa kabar dan tidak perlu lagi sebenarnya. Lalu mengapa aku masih suka merasakan rindu? Mungkin karena belum ada orang yang pantas menggantikan rasa rinduku untuknya. Itu jawaban paling logis untuk mereka yang belum bisa move on. 

Aku menyudahi kegiatan menyelami dunia lainku, menyampirkan tas ke bahu lalu melangkah menuju tempat kerja. Cara paling logis untuk membuatmu lupa kalau belum bisa move on.

---

Ini masuk catatan cerpen gak ya? Baru sekali buat cerpen tanpa satu pun percakapan. heheehe


  

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y