Cuma Mau Komen Aja, Ini Demokrasi kan? : About Islam
Sejak masyarakat heboh dengan aturan berdoa
yang dikeluarkan Mendikbud Bapak Anies Baswedan, saya juga mulai mendelik
sejenak dari ‘tak mau ambil pusing’ perihal kebijakan-kebijakan kabinet kerja.
Mendelik karena saya bertanya, “ini yang dimaksud berdoa apa ya?”. Soalnya
sudah lama tidak sekolah jadi agak-agak lupa (lupa malah) kalau di sekolah dulu
sebelum dan selesai belajar akan diisi dengan doa. Lalu saya mencoba
mengingat-ingat, apa benar seperti itu dulu?
“Bersiap!”
“Beri salam!”
“Selamat
pagi bu Guru.”
Itu sih ritual awal dan pulang (kadang) di
sekolah. Lalu berdoanya di letakkan di bagian mana ya? Saya memutar kembali
memori di kepalaku kembali di saat-saat sekolah dulu. Seingat saya memang ada
ritual berdoa sebelum belajar, tetapi itu jarang dilakukan. Tidak sesering
sapaan salam untuk ibu guru. Itupun kalau gurunya mengingat untuk berdoa dulu
sebelum belajar. Biasanya juga langsung nyosor sama materi atau tugas-tugas di
rumah.
Lalu yang dimaksud aturan berdoa itu yang
mana? Yang sebenarnya ada tapi tidak dilaksanakan? Mungkin karena saya tinggal
di daerah timur jadi tidak tahu persis bagaimana kondisi sekolah di daerah
tengah dan barat. Mungkin saja di sana sangat mendisiplinkan aturan berdoa.
Saya mengatakan aturan berdoa jarang
dilakukan bukan berarti saya tidak pernah berdoa. Saya berdoa kok (membela
diri) terutama saat sebelum ujian semester atau ujian kelas (halaah). Tapi
tujuan saya menulis tentang ini sebenarnya karena saya sangat bingung dengan
umat islam di Indonesia saat ini.
Kalau terlalu
fanatik dibilang ISIS, Kalau men-tolerir segala sesuatu disebut liberalisme.
Saya bukanlah orang yang shalehah dan
memiliki ilmu agama yang banyak (meskipun dari luar sudah bisa ditebak saya
muslim heheh). Maksudnya saya itu berada di tengah-tengah atau netral dalam
menyikap permasalahan yang terjadi. Saya sering membaca postingan yang apabila
di pemosting dianggap terlalu fanatik terhadap aturan-aturan yang menurut di
pemosting adalah aturan dalam agama Islam, maka tanggapan orang lain ada yang
setuju dan ada yang menganggap si pemosting sebagai kader PKS lah, ISIS lah.
Dan si pen-cap akan dianggap oleh si pemosting dan pendukungnya sebagai Islam
Liberal. Maksudnya mungkin di KTPnya tertulis agama Islam namun ideologinya
adalah Liberlisme. Hmmm..
Saya yang bacanya sampai elus-elus dada,
istigfar. Lha ini kok yang muslim mana yang bukan mana. Kok yang muslim membela
yang salah sih? Seperti kabar baru-baru ini, dimana seorang psikolog yang
kerjanya merekruitmen pekerja membeberkan salah satu syarat untuk diterima
bekerja (entah pada insitusi mana) yaitu bagi yang berjilbab, jilbabnya batas
leher. Nah ini.. Inikan salah satu bentuk diskriminasi terhadap agama sendiri.
Sudah jelas di dalam al-quran yang harusnya menjadi penuntun hidup kita
dikatakan bahwa perempuan wajib untuk mengulurkan jilbabnya sampai menutupi dada.
Kok? Masih saja ada yang ngebela kalau jilbab
memang harus sebatas leher. Ini Islamnya Islam apa ya? Malah yang posting
dikatain PKS lah, ISIS lah. Lha situ? Mau dikatakan Islam Liberal? Atau
jangan-jangan benar.
Sejujurnya saya jengah sama orang yang
mengaku islam tapi tidak mendukung ajaran islam. Baru-baru ada orang yang
mengina ustad, dikatain kot*ran untalah. Astagfirullah banget. Itu otaknya
ditaruh dimana sih yang menghina?
Sedih saya. Bagaimana kita membolehkan segala
sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai aqidah dan tauhid dengan alasan toleransi.
Apa orang beragama lain juga tolerir terhadap agama kita? Yang paling hangat
pada saat bulan desember tiba adalah ucapan selamat natal. Boleh tidak sih
diucapkan?
Hmmm... kalau menurut saya sih tidak apa-apa
ya mengucapkan selamat natal. Teng..tong.. siap-siap dicap liberal. Hehe, bukan
liberal makanya saya mengatakan ini. Kalau dikatakan itu melanggar karena
kebenaran nabi Isa As tidak lahir di tanggal 25 Desember mungkin iya ya. Tapi
bagi saya mengucapkan selamat natal ya bukan untuk meyakini nabi Isa lahir di
hari itu, tapi lebih kepada bagian menghormati saja mereka yang meyakini
Tuhannya lahir di hari itu.
Yang menurut saya bermasalah adalah jika
orang islam justru datang ke acara perayaan natal. Nah, ini.. Menurut saya agak
gimana gitu jika kita datang ke perayaan mereka. Kalau sebatas datang ke rumah
dengan NIAT SILAHTURAHMI mungkin tidak masalah. Tapi kalau sampai datang ke
perayaan mereka, mendengar khotbah-khotbah mereka, turut menyalakan lilin.
Menurut saya kita tidak perlu sampai se-tolerir itu.
Ini pernah saya alami waktu masih duduk di
sekolah dasar. Karena saya besar di daerah yang mayoritas Kristen jadi maklum
saja kalau saya diajakn datang ke acara natal mereka. Tapi lambat laun saya
mulai sadar. Kenapa kita harus datang? Yang kristen jelas tidak memaksa,
mengundang kita hanya bagian dari proses menghargai saja. Nah kita yang
diundang harus paham juga donk. Kita datang mereka welcome, kita enggak datang
mereka juga welcome. Benarkan?
Tenang, teman-teman saya juga ada kok yang
bukan agama Islam. Sahabat saya bahkan orang nasrani. Tapi kita akur-akur saja.
Yang tidak saya mengerti kenapa kita yang sesama Islam harus terpecah menjadi
dua, yang dikelompokkan ke dalam pendukung PKS dan Islam Liberal? Lalu saya,
hmmph, saya pilih jalan lurus saja. Tak mau belok-belok. Tetap sesuai aqidah.
Hahaaa!
Daripada kita ‘memaki’ ustad seperti yang
terjadi beberapa saat lalu, kenapa kita tidak mengkoreksi diri sendiri. Sudah
benarkah kita sampai mengatai seseorang yang pandai dalam hal agama. Sudah
jelas ia memiliki ilmu yang lebih tinggi dari kita, dengan gelar yang
disandangnya dan Insya ALLAH amanah, ini kok malah dikatain? Geleng-geleng
kepala sambil ucap istigfar banyak-banyak pada saat membacanya.
Negeri tempat tinggal saya memang sudah aneh
sekali. Karena saya masih sangat mencintai negeri ini, jadi saya cuma mau
membagi apa yang saya rasakah. Masih ada demokrasi kan? Masih boleh donk
mengeluarkan pendapat? Hohoo!
Comments