CUMULONIMBUS
Aku hampir saja ketinggalan pesawat kalau
tidak menginap di rumah Fara. Rumah Fara hanya butuh waktu 30 menit ke bandara.
Kalau jalanan lengang dan sepi mungkin tidak sampai 15 menit. Itulah mengapa
saya memiih menginap di rumahnya. Meskipun mr. Taxi tetap menyebalkan dengan
mangkir dari 1 jam pasca pemesanan. Buru-buru, aku membawa serentetan tas
pulang kampung ke untuk check in. Lalu berjalan cepat ke tempat pembayaran ove
bagasi (sudah kuduga), lalu kembali ke lagi ke tempat check ini. Kemudian
berjalan secepat mungkin naik ke ruang tunggu. Baru lima menit aku duduk,
nafasku bahkan belum beraturan, sms dan telpon dari orang tua belum sempat aku
pedulikan semua, suara wanita di bagian informasi mengumumkan bahwa pesawat
sudah datang.
Oh my! Masih pegel tanganku membawa tas sedang
penuh isi buku. Untungnya gak perlu naik-naik bus segala. Soalnya kebetulan aku
bisa terbang dengan maskapai Garuda. Jadi cukup nyebrang semacam jembatan gitu
terus masuk deh ke pesawat. Kenyamanannya membuatku lupa, bahwa seharusnya
sejak tadi aku ketakutan. Takut naik pesawat seorang diri. Apalagi harus
menyeberang pulau selama. Berdiam di udara selama hampir empat jam.
Oh my! Of
course i’m scared. I’m alone, man. Haha!
Sejujurnya, saat akan naik pesawat saya
selalu was-was. Saya tidak takut dengan ketinggian, tapi beda kalau sedang
berada di dalam pesawat. Saya berusaha menikmati setiap detik yang berlalu
dengan berada di atas awan. Tanpa pijakan. Belum lagi kalau pesawat bergejolak
saat masuk ke dalam awas. Aku memegang apapun yang bisa dipegang sembari hati
tak berhenti menyebut nama Allah. Lindungi saya.
Sekelebat ingatan tentang jatuhnya pesawat,
hilangnya pesawat, dan berita duka sejenisnya memang cukup membuat orang
seperti saya takut naik pesawat. Tapi ya mau bagaimana lagi. Transportasi udara
memberikan solusi atas perjalanan yang lama. Jarak antara satu pulau ke pulau
lainnya bisa ditempuh hanya dalam waktu beberapa jam.
Risiko itu selalu ada. Itulah mengapa mereka
mengatakan “have a safe flight” pada saudara, orang terkasih, kerabat, rekan
yang akan melalukan perjalanan dengan menggunakan kapal terbang. Karena dalam
sedetik, kita bisa saja kehilangan mereka.
Mendengar hilangnya satu pesawat berisi 155
penumpang serta 7 awak menjadi duka mendalam di akhir tahun 2014 ini untuk
dunia penerbangan, khususnya untuk Indonesia. Mereka yang ada di atas sana
adalah saudara kita. belum kering luka karena longsor banjarnegara, kini kita
dihadapkan pada duka dengan hilang kontaknya pesawat Air Asia QZ 8501 rute
Surabaya-Singapura. Menurut berita yang tersiar di televisi maupun media
lainnya, pesawat mengalami hilang kontak saat meminta izin untuk menaikkan
ketinggian demi menghindari awan cumulonimbus. Kita semua tahu bagaimana
berguncangnya saat pesawat melewati awan. Apalagi ketika harus masuk ke dalam
awan badai yang mengerikan seperti cumulonimbus.
Musim hujan telah tiba. Musim dingin sudah
tiba. Di langit, awan-awan cumulonimbus semakin sering kita lihat. Tebal, besar
dan berwarna gelap. Menghalangi sinar mentari. Itulah awan hujan badai. Awan penyebab
petir dan cuaca ekstrim. Cumulonimbus.
Mari kita tetap berdoa. Semoga pesawat Air Asia segera ditemukan dan
seluruh penumpangnya dalam keadaan selamat.
Tasangkapura, 30 Desember 2014

Comments