Hari Toleransi Se-Indonesia


Pagi, Assalamu’alaikum :)

Saat diluar sana ribut dengan boleh dan tidak bolehnya mengucapkan selamat natal, di sini kami malah sibuk membeli baju baru untuk bersilahturahmi ke rumah kenalan yang beragama nasrani di hari natal. 

Sudah menjadi semacam tradisi untuk saling mengunjungi pada hari-hari Raya masing-masing. Nah, di hari ini, di hari Natal, giliran kita umat muslim yang mengunjungi kenalan yang beragama nasrani. Sudah sering telinga ini mendengar, mata ini melihat dan membaca betapa bermasalahnya ucapan selamat natal dari kami yang muslim untuk mereka yang nasrani. 

Menurut sebagian orang, mengucapkan selamat natal memang tampak hanya kata-kata saja, tidak berarti apapun. Hanya sebagai bentuk toleransi kepada umat lain yang sedang berbahagia. Tapi, menurut sebagian ulama, selamat natal bukan hanya kata-kata saja. Sama dengan ketika mengucapkan kalimat syahadat. Tampak hanya kata-kata saja, tetapi ketika kalimat itu diucapkan maka saat itu Anda percaya bahwa Allah SWT hanya ada satu dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Mengucapkan selamat natal berarti kita sudah percaya bahwa Nabi Isa As lahir di hari Natal. Padahal sejarah sampai saat ini belum bisa membuktikan secara gamblang hari dimana Nabi Isa lahir. 

Hmm.. masalah ini memang membuat dilema. Di satu sisi sebagai umat Islam kita tidak ingin menodai amal kita karena permasalahan tauhid yang jelas. Di sisi lain, sebagai umat manusia kita tidak ingin memutuskan tali silahturahmi karena mengucapkan saja.

Tapi, kedilemaan umat muslim di sana tidak sedilema kami yang berada di sini. Bayangin deh kita di sini juga heboh membeli baju baru, siapin rute perjalanan dari rumah ke rumah, siap-siap mengisi perut dari rumah kenalan nasrani. Bayangin deh, lebih banyak dari hanya mengucapkan selamat saja kan? 

Sudah empat tahun saya tidak kesini, jadi pada saat balik dan harus terjebak dalam tradisi yang mengatasnamakan toleransi ini membuat saya benar-benar bingung untuk melangkah. Di daerah lain, mana ada hal-hal seperti ini. Bentuk toleransinya paling hanya menjaga keamaanan saat umat lain khusyuk beribadah seperti yang mereka lakukan saat kita shalat id. Atau mengucapkan selamat secara universal melalui  lini masa sosial atau private message ke kenalan. 

Disini? Huaaa~
Sambil menulis ini saya sebenarnya tengah bingung, akankan pergi atau tidak dan membuat saya dicap sombong oleh orang sekitar (Hehe). Apapun keputusan yang akan saya ambil nantinya semoga Allah mengampuni saya karena saya sebenarnya bingung tapi menulis ini untuk membuat bingung juga pembaca #eh

Untuk judulnya mengapa saya menyebut hari toleransi se-Indonesia, karena hari ini sebagai umat terbanyak di Indonesia, tunjukanlah bagaimana kita bertoleransi pada umat terbanyak kedua di Indonesia. Dengan cara apapun yang menurut kita baik dan dengan pertimbangan-pertimbangan tidak akan mengurangi amal kita menuju sisi Allah (hehe)

Okelah.. selamat pagiii, wassalam
Tasangkapura, 25 Desember 2014

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y