Ganja si Pembunuh Pemuda (1)




Akibat kelelahan, sehabis shalat magrib saya langsung tepar di atas tempat tidur. Terlelap. Kemudian saya merasakan tubuh saya diguncang keras, saya pikir akan dibangunkan untuk shalat isya. Di samping tempat tidur, tante saya tampak ketakutan. Beliau memang orang yang sangat suka panik dalam menyikapi sesuatu yang berbahaya. 

“Bangun.. bangun.. Ada pencuri di sebelah?”
“Hah? Sore-sore begini?” Aku yang belum sepenuhnya sadar akhirnya turut beranjak ke ruang tamu, mengintip suasana di luar, di rumah tetangga.
“Apa yang dicuri?”
“Ayam.”
Aku mengangguk-angguk sambil mengingat ayam milik tetangga yang adalah ayam unik dan mahal karena bisa tertawa. Rumah tetangga kami memang selalu gelap pada sore-sore hari begini karena pemiliknya belum pulang dari kantor. Di halaman rumah mereka yang dipagar ada dua kandang ayam yang isinya adalah ayam ketawa. 

“Terus pencurinya ditangkap?”
“Sudah dikejar tadi. Tapi enggak tahu ditangkap atau tidak.”
Aku mangguk-mangguk lagi sambil mendengarkan kronologis tercurinya ayam tetangga yang mahal itu di sore hari seperti begini. Lalu sms saya berbunyi dari adik tetangga yang rumahnya di samping rumah pak RT, yang anak buahnya adalah pengejar pencuri tersebut.
“Kunci rumah, pencuri ayamnya naik bawa parang di lapangan. Enggak mau dituduh nyuri ayam”
Membaca sms itu saya langsung berpikir ini pasti masalah serius. Lha, jelas dia nyuri kok malah balik marah? Kami sekeluarga diam-diam saja di dalam rumah, sampai kemarin ketika kami bersilahturahmi ke rumah pak RT dalam rangka natal barulah kami tahu cerita sebenarnya. 

Pelaku pencurinya masih sangat muda, sekitar tujuh belasan tahun. Saat mencuri ayam itu dia mengaku tidak sadar. Ia hanya berniat mencuri. Lalu karena dilihat, ia akhirnya dikejar oleh pemuda setempat. Ia menolak keras dituduh mencuri ayam meski di dalam tasnya terdengar jelas suara ayam ketawa. Lalu terjadi adu jotos oleh kedua belah pihak. Si pencuri ini marah kemudian ia pulang ke rumahnya yang letakknya adalah di komples sebelah. Ia kembali ke kompleks kami dengan membawa serta samurai panjang yang dililitkan di tangannya. Tak lupa, ia ajak serta beberapa orang, menolak di katakan pencuri. Untunglah masalah tersebut sudah di selesaikan di kantor polisi. Namun yang membuat saya tertegun adalah kisah tersembunyi di baliknya.

Anak muda ini ternyata adalah teman dari anak Pak RT. Parahnya, ia adalah teman seumur anak Pak RT tapi dia tidak menyadari kalau yang mengejarnya malam itu juga ada temannya itu. Dibalik kisah tidak sadarnya itu ternyata ia sedang dalam pengaruh psikotropika jenis ganja. Ganja yang sering dikonsumsinya membuat ia sudah dikenal di kantor polisi.
Saya tertegun mendengar cerita ibu RT lebih lanjut. Bagaimana pemuda di kompleks 
saya juga sering mengkonsumsi ganja. Pantas saja di satu sudut kompleks saya kerap melihat kumpulan anak-anak muda. Ternyata mereka sedang mengisap ganja. Ganja dan pemuda sudah seperti sahabat. Layaknya minumn keras (miras) yang juga menemani tumbuh kembang pemuda. Ramai-ramai masuk dan merusak generasi bangsa. 

Anak muda tadi, si teman anak Pak RT, mengkonsumsi ganja yang bahkan orangtuanya tahu. Ganja seolah menjadi barang yang biasa meskipun ilegal. Akhirnya saya ngeh ucapan teman kecil saya sewaktu saya kembali ke kota ini. 

“Teman-teman saya emang ada pake ganja. Tapi saya enggak.”

Saya pikir itu hanya ucapan main-main belaka. Tetapi melihat kenyataan bahwa pemuda di kompleks saya juga ada yang demikian membuat saya yakin bahwa kota tercinta saya ini sudah banyak yang menyalahgunakan narkoba. Pantas saja dua tahun yang lalu Badan Narkotika Nasional untuk daerah Papua resmi ada di kota Jayapura.


Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y