Dua Bulan Di Jayapura


Jayapura, kota terujung di Indonesia memiliki banyak kenangan untukku. Meskipun tidak lahir di sini, Jayapura adalah tempat aku dibesarkan. Jauh dari orang tua kandung. Sedih, senang, susah, mudah dan segala macam perasaan aku rasakan di sini. Di tempat tinggalku di gunung Polimak.

Tidak banyak yang berubah dari Jayapura sejak empat tahun yang lalu aku tinggalkan. Iya, memang empat tahun adalah waktu yang cepat. Perubahan yang terjadi pada ibu kota Provinsi Papua ini tidak akan banyak. Paling-paling kendaraan yang sedikit lebih banyak, mall besar yang dibangun, gedung-gedung baru. 

Tinggal di kota besar kemudian pindah ke kota kecil menyisakan perasaan aneh tersendiri. Jalanan yang dulu besar di mataku menjadi begitu kecil. perjalanan yang dulu ku rasa sangat jauh menjadi begitu dekat. Jayapura ternyata kota yang kecil. Jayapura kota yang sepi.

Terdapat satu hal yang tidak berubah dari Jayapura. Panasnya! Meskipun Jayapura adalah kota yang dikelilingi banyak gunung tidak serta merta menjadikannya sedingin kota Bandung. Pantai di teluk Jayapura yang menjadikan kota ini menjadi cukup panas. 

Panasnya kota Jayapura juga ditunjang dengan semakin sedikitnya pepohonan di pinggir jalan. Pembangunan terus dilakukan menjadi lahan untuk pohon semakin sedikit. Yah, walaupun pemkot Jayapura tidak diam dalam mengupayakan penghijauan. Bukti di salah satu lapangan bekas terminal kini sudah ditanami pohon-pohon baru. 

Jayapura juga semakin padat dengan kendaraan. Perbedaan antara kota besar dan just kota menurut saya terlihat dari banyak penduduknya, bukan banyak kendaraannya. Beberapa bulan yang lalu saya berkunjung ke kalimantan timur, Samarinda. Saya sempat kaget melihat begitu banyaknya kendaraan pribadi. Bukan motor, melainkan kendaraan roda empat. Seolah semua warga Samarinda sangat mudah dalam membeli mobil. Saya dan teman-teman juga memperhatikan sangat sedikit warga yang memanfaatkan angkutan umum sehingga angkutan umum juga tampak sedikit dengan rute yang membingungkan. Berbeda sekali dengan di Makassar, dimana angkutan umum begitu banyak, warga begitu padat, meski kebanyak juga memiliki kendaraan roda empat. 

Hal yang sama tidak saya sangka saya temukan di Jayapura. Saat itu, dua minggu saya datang ke Jayapura setelah empat tahun hengkang. Entah karena sedang puasa atau bagaimana, saya melihat Jayapura begitu sepi. Jalanan tampak lengang. Hanya mobil dan motor pribadi yang melintas. Angkot yang di sini di sebut taksi satu dua yang lewat. Warganya pun entah sedang sibuk bekerja atau sedang di rumah. Atau mungkin di wilayah tempat tinggal saya itu memang telah berubah jadi sepi. 

Sepertinya memang karena bulan Puasa, setelah lebaran. Jayapura menjadi sedikit lebih ramai. Meski aura sepinya kota ini juga terasa. Atau karena saya masih belum bisa beradaptasi dengan suasana lingkungan yang sangat jauh berbeda dengan Makassar. 

Dan, dua bulan ku di Jayapura juga diwarnai sebuah kejutan tidak ku sangka. Semoga ke depan lebih banyak kejutan, terutama untuk impian-impian yang ingin aku raih di kota ini. 

Jayapura, 28 Agustus 2014
Good Night ^^

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y