Generasi 90-an
Haha!
Akhir-akhir ini saya sering membaca sebuah curhatan hingga artikel orang-orang
yang membandingkan masa kecil mereka yang lahir di tahun 90-an dengan
anak-anak/remaja zaman sekarang. Beda masa beda cerita. Mungkin itulah yang
tepat menggambarkan bagaimana anak zaman sekarang melalui masa kecilnya di
dunia teknologi canggih dengan kita-kita yang besar di tahun 90-an dengan dunia
yang masih meraba-raba.
Kalian
yang lahir tahun 90-an pasti hanya mengingat bagaimana kita melewati masa kecil
di awal-awal tahun 2000 atau yang dikenal dengan tahun Millenium. Saat itu, di
Indonesia, memang sedang terjadi perubahan yang besar-besaran. Mulai dari
pergantian Tirani Kekuasaan yang berkuasa lebih 32 tahun hingga berjuang keras
melewati krisi ekonomi tahun 1998. Kalian yang masih TK dan SD pasti masih
ingat berapa rupiah yang diberi uang jajan oleh orang tua? 5000? 10000? Wah,
itu besar sekali. 500 rupiah! Iya, gak? Dulu 500 rupiah sudah bisa membeli
aneka jajanan kecil. Mulai dari es lilin sampai nasi kuning. Kalau sekarang,
500 rupiah dapat apa? Permen tiga! Hahah
Beda
masa memang beda cerita. Bisa dibilang, kalian yang lahir tahun 90-an adalah
mereka yang sangat beruntung. Karena bisa menikmati dua aneka permainan
sekaligus. Masih ingat donk bagaimana kalian main petak umpet, tali, karet,
jigi-jigi, bola kasti, pen 25, ular tangga, ludo, monopoli, tamiya, blade,
barbie, bongkar pasang, bola kaki dan lain sebagainya. Masih ingat donk
keseruan berjumpa dengan kawan-kawan yang meskipun sudah bertemu di sekolah, eh
bertemu lagi di dekat rumah dan lapangan untuk memainkan permainan yang
disebutkan di atas. Pada saat itu, bertemu adalah silahturahmi yang membuat
kita semakin dekat dan permainan yang kita mainkan benar-benar kita pegang dan
ada di depan mata kita.
Tapi,
seiring waktu berlalu permainan yang tadinya kita pegang dengan kedua tangan
pun berubah. Kita masih bisa memainkannya namun dengan cara yang berbeda.
Kesannya lebih elit ya kalau main monopoli di game online. Haha! Masih banyak
donk anak 90-an yang main monopoli tapi online. Tidak mau kalah dengan generasi
sekarang yang memang hanya mengenal permainan game online, main balap-balapan
di playstation, main gulat di PS.
Pada
saat itu kita mulai menyadari bahwa dunia telah berubah. Melihat adik-adik kita
yang pulang sekolah disibukkan dengan PS dan andro membuat kita kasihan dan
juga rindu akan masa kecil kita dulu. Maka kita yang lahir di tahun 90-an pun
mulai membandingkan masa-masa kecil mereka dengan anak zaman sekarang.
Meskipun
kita tidak sepenuhnya suci dan terbebas dari pengaruh buruk perkembangan zaman,
setidaknya kita sedikit terselamatkan dengan lahir di tahun 90-an. Saat itu
kita masih menghafal banyak lagu anak-anak, menyanyikan lagu anak-anak.
Misalnya lagu Ambilkan Bulan, Diobok-obok, Naik Becak, Libur Tlah Tiba dll yang
dinyanyikan oleh anak-anak kecil yang memang anak-anak. Kenapa saya mengatakan
demikian? Mungkin kita tahu sendiri bagaimana munculnya grup anak-anak namun
menyanyikan lagu-lagu remaja. Namun sekarang, anak-anak kecil sudah tahu
bagaimana bernyanyi dan berjoget dengan menyayikan lagunya Ayu Tinting, kemana
dimana kemana, juga lagu Cita Citata berjatuk Sakitnya Tuh Di sini, dan juga
turut menyanyikan lagu-lagu patah hatinya D’massive, Republik, ST-12. Atau
sekedar ikut berlalala-yeyeye mengikuti acara musik pagi yang 90% ngomong
ngalur ngidul dan musiknya entah berapa persen.
Tapi
setiap masa memiliki cerita. Saat kita membandingkan masa-masa kecil kita
dengan anak-anak zaman sekarang. Mereka yang lahir di tahun 80-an juga membandingkan
masa-masa remaja mereka dengan masa-masa remaja kita. Kalau kita tumbuh besar
dengan aneka sosial media mulai dari chat gratis dengan orang tak dikenal di
MiRC dengan nama-nama alay, lalu pindah ke frienster dan mulai mengikuti arus
zaman dengan memiliki akun disetiap bentuk sosial media seperti bbm, facebook,
twitter, path dan lain sebagainya. Mereka yang lahir di 80-an bangga dengan
konsep surat menyuratnya. Ya, karena saya tidak lahir di tahun segitu jadi
tidak bisa menjabarkan lebih banyak. Saya hanya merangkumnya dari kakak saya
yang mengatakan bekomunikasi dengan seseorang yang spesial dengan surat
menyurat jauh lebih romantis dibandingkan ditembak / diajak jadian lewat media
sosial. Membaca tulisan yang carut marut dengan kata-kata yang keluar dari hati
namun ditulis dengan buruk saja sudah membuat sang gadis klepek-klepek.
Kan?
Beda masa beda cerita. Saat saya bangga sebagai kelahiran 90-an dan besar di
tahun 2000, mereka yang lahir tahun 80-an dan besar di tahun-tahun saat kita
baru mengenal mama papa juga bangga. Apalagi mereka yang lahir di tahun 2000-an
dan besar dengan segala kecanggihan teknologi? Mereka boleh tidak kenal lagu
anak-anak, tidak lihat Agnes Mo waktu masih di Tralala-Trilili. Tapi mereka
cerdas, cukup beberapa kali lihat sudah menguasi penggunaan teknologi, mulai
dari komputer hingga ipad.
Tapi
menurut saya yang lebih membanggakan itu mereka yang lahir di tahun 80-an.
Mereka telah melalui banyak tranformasi teknologi. Mulai dari menggunakan surat
lewat pos, handphone biasa, email, hingga chatting dengan menggunakan android. Mulai
dari televisi layar cembung hingga layar datar. Mulai dari tanpa komputer,
komputer dengan CPU besar sampai sekarang yang bisa dibawa kemana-mana. Pada
saat dunia berubah ke tahun Millenium pun mereka menyaksikan dengan mata
remajanya, sedang kita saat itu baru naik ke kelas dua SD. Karena mereka yang
lahir tahun 80-an saat ini sedang berjuang di masa-masa kedewasaaannya.
Sementara kita berjuang untuk menjadi dewasa.
Beda
masa beda cerita.





Comments