Matikan TV Anda!


Mungkin saya telat, tapi enggak juga sih. Sebab tidak ada kata terlambat untuk berbagi. Yup. Kali ini tontonan yang ada di televisi sangat mengkhawatirkan. Mulai dari acara gosip yang tiada henti, sinetron yang tidak ada habisnya, acara komedi yang terlalu berlebihan, acara musik yang lebih banyak menghina orang, sampai berita-berita yang dirancang untuk menggiring opini publik. Sudah tidak ada lagi tontonan yang layak. Untuk manusia dewasa saja, televisi indonesia sudah dianggap merusak. Apalagi untuk anak-anak yang masih gemar duduk dan menonton televisi.

Ini sangat mengkhawatirkan. Beruntunglah bagi mereka yang kecil dengan tontonan yang masih layak. Untuk kelahiran tahun 90 an pasti sangat merasa beruntung. Saat kita kecil, tontonan televisi sangat memberikan banyak ruang untuk kita. seperti acara musik tralala-trilili sampai siaran full kartoon di hari minggu. Untuk yang remaja, kita punya acara semacam rangking 1 dan uji kecerdasan lainnya. Juga ada acara musik yang menyajikan musik beneran, bukan musiknya 1% ngomong ngalur ngidul dan enggak beresnya 99% seperti yang terjadi saat ini. Buat yang mau cari idola, kita punya penyanyi-penyanyi cilik yang menyanyikan lagu anak-anak beneran seperti Joshua, Amanda, Tasya, Meisya, dll. Atau band sekelas Sheila On 7, Dewa 19, Slank, yang menyajikan musik ala anak 90-an banget hehehe. Kita pasti ingat sekali lagu-lagu seperti itu. Untuk yang suka nonton sinetron, kita punya tontonan lucu nan seru seperti Jin dan Jun, Jinny oh Jinny, Tuyul dan Mbak Yul, Panji Manusia Millenium, dll, yang tayangannya tidak sampai ratusan juta episode. Isinya jelas, menghibur dan tidak neko-neko. Walaupun idenya luar biasa, seperti Jin, Tuyul, Superhero. Tapi seru sih. Setidaknya bukan cerita serigala yang katanya ganteng. 

Sementara saat ini. Benar-benar mengkhawatirkan. Empat tahun kuliah, saya sudah tidak pernah menonton televisi. Selain karena tidak punya TV di kos, saya pikir tidak penting lagi menonton televisi yang acaranya itu-itu aja, pengisi acaranya itu-itu saja. Pernah nggak sih kalian merenung untuk menemukan jawaban mengapa setiap nyalain TV yang diliat wajahnya Raffi Ahmad terus, olga terus? Apa tidak ada artis lain? Udah gitu acaranya itu-itu aja. Kalau di tegur, paling tinggal ganti nama, tapi konsepnya masih tentang itu-itu aja, yang ngisi apalagi, dia-dia lagi. Benar nggak?

Baru-baru ini ada sebuah video dari anak SD yang mengkritik tayangan televisi. Begini liriknya. Videonya silahkan nonton disini. Judulnya “TV, Jasamu tiada..”

Kita jadi bisa pacaran dan ciuman karena siapa..
Kita jadi tahu masalah artis cerai karena siapa...
Kita pintar dandan dibimbing TV...
Kita jadi lebay dididik TV...
TV bak pelita, membuat gelap gulita...
Jasamu tiada...

Benar sekali bukan. Tayangan yang tidak bagus bukan menghancurkan kita yang sudah dewasa. Untuk menonton TV kita sudah punya pertimbangan-pertimbangan tersendiri, sudah mampu menyerap mana yang benar dan mana yang salah. Kita juga tidak punya banyak waktu untuk sekedar melihat tayangan televisi. Berbeda dengan anak-anak, generasi penerus kita. Mereka yang perlu dikhawatirkan apabila TV hanya menyediakan tayangan yang merusak.
Dulu waktu kecil, saya sukanya nonton kartoon. Atau film anak-anak. Seingatku dulu ada stasiun TV yang menayangkan kartun dari pagi sampai sore di hari minggu. Sekarang? Masih ada sih, tapi tidak sampai sore. Di sore hari, berganti dengan sinetron yang isinya hanya tentang suami yang jahat pada istri (pokoknya lebay). Ya, saya bersyukur sih setidaknya tidak ada lagi tayangan garuda terbang, kuda terbang dan sejenisnya. 

Pada malam hari, sembari makan malam, ada sinerton lucu Tuyul dan Mbak Yul dan sejenisnya. Bidadari sama Bawang Putih Bawang Merah juga sih. Durasinya singkat seingat saya, cuma setengah jam atau sejam ya? Tapi isinya menghibur. Sekarang? Pindah-pindah chanel yang ada sinetron dewasa tanpa habis. Lebih parahnya sinetron remaja yang isinya bikin mual. Seperti yang tenar saat ini, GGS. Sudah njiplak, alay lagi isinya. 

Suatu hari, saya nginap di rumah kakak sepupu saya. Karena kakak saya penggila GGS, terpaksa saya mengikutinya untuk menonton GGS. Entah sudah keberapa ratus juta episode yang saat itu saya nonton. Ceritanya, ada anak SMA (cewek) yang jatuh cinta sama temannya sesama anak SMA (cowok). Si cewek sudah tahu kalau cowoknya adalah vampir jadi-jadian (setengah manusia setengah vampir). Yang tidak ia tahu adalah kalau ia nantinya menikah sama nih cowok, ia akan mati. Ia menua dan si cowok awet muda. (Buat yang sudah nonton Breaking Dawn pasti tahu teori ini). Terus si cewek syok, nangis, sedih, putus asa, lebay. Saya yang nonton langsung ke kamar mandi. Mual. Ini lebay banget ceritanya. Saya nggak habis pikir, anak SMA sudah segitu saja mikirnya. Nikah? Punya anak? Waktu jaman SMA yang saya pikirin yang kalau bukan cinta monyet ya pasti tugas. Ini? Nikah? Punya anak? Apa yang buat skenario itu tinggalnya di Amerika sono? Atau mungkin anak SMA zaman sekarang bukan mikirin studi biar masa depan cerah dan enggak gelap gulita kayak dunia vampir-vampiran, tapi sudah mikirin gimana caranya punya anak? Saat itu saya melirik kakak saya yang tampak terharu dengan adegan cewek yang nangis. Saya langsung mikir, apa saya yang tidak waras? Haha. Andai saya punya kuasa, pasti sudah kuganti chanelnya seraya berharap chanel berikutnya bukan acara live nikah atau melahirkan. Kenapa enggak sekalian live malam pertama (-___-). Masih ingat donk sinetron keluarga cemara? Itu baru berkualitas. Iya gak?

Belum lagi acara gosip yang jadwalnya sudah seperti jadwal minum obat. Tiga kali sehari. Heran deh, penting banget ya tahu si artis lagi ngapain? Biar lagi ngupil sekalian juga diberitain. Seingat saya dulu, acara gosip cuma satu kali sehari. Itupun Cuma satu jenis. Just information. Hari gini enggak. Si artis yang sedang digosipin di datangkan langsung, terus dikuliti rame-rame sama si pembawa acara. Haha.. 

 Terus yang nyerap secara mentah-mentah siapa? Yan anak-anak. Enggak heran mereka jadi tahu pacaran dan ciuman, masalah artis cerai, dandan sebelum dewasa, lebay dan alay karena dididik TV. RA Kartini sudah membawa kita dari dunia gelap ke terang benderang, tetapi TV membawa kita kembali masuk ke dalam kegelapan.

            Yuk matiin TV. 

            Bahkan beritanya pun di setting. Semua tahu donk bagaimana keadaan acara berita di televisi saat pilpres kemarin. TV A bilang gini, TV B bilang gini. Yang benar siapa? People hear what they want to hear. 

            Yuk matiin TV.




Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y