PENGALAMAN WAWANCARA DAN LGD BEASISWA LPDP
Kemarin setelah mendapat pengumuman jadwal
wawancara dan lgd, saya bergiat mencari informasi seputar kisah maupun tips
para pengincar beasiswa lpdp yang sudah pernah melsayakan wawancara dan lgd. Alhamudlillah
dengan sharing informasi dari mereka, kegiatan wawancara dan lgd saya lumayan
berjalan dengan baik. Kenapa lumayan? Karena saya terlalu takut untuk meyakini
sesuatu saat ini. *because something*. Dan sebagai bentuk terima kasih, saya
juga ingin berbagi kisah tentang pengalaman mengikuti seleksi wawancara dan lgd
dari lpdp.
Sejak agustus kemarin saya sudah mendaftar
beasiswa lpdp. Sebulan kemudian keluar pengumuman yang mengatakan saya lulus
adminitrasi dan berhak mengikuti wawancara dan lgdnya. Sayangnya, kota
wawancara yang saya pilih belum memenuhi kuota jumlah peserta sehingga kami
diminta untuk pindah ke kota lain. saat itu saya sedang menunggu pengumuman
dari tempat kerja (meskipun ternyata tidak lulus) sehingga saya memilih untuk
menunggu hampir sekitar tiga bulan kemudian. Waktu yang sangat lama untuk
mempersiapkan segala sesuatu, baik pengetahuan maupun mental, dalam mengikuti
seleksi wawancara. Namun, persiapan yang saya lakukan justru satu minggu
sebelum wawancara atau tepat setelah keluar jadwal wawancara dan lgd.
Dari beberapa website yang saya baca, kurang
lebih sama dengan cerita-cerita saya maupun teman-teman baru yang saya temui.
Intinya untuk lgd kita diberikan satu kasus yang akan dipecahkan bersama-sama. Kalau
menurut dari rekan-rekan yang sudah lulus, di sana kita bebas berpendapat. Sebab
namanya adalah Leaderless Group Discussion maka tidak ada pemimpin di dalam
grup diskusi tersebut. Semua bebas berpendapat.
Cerita lengkap saya adalah demikian...
Hari pertama LGD
Saya mendapat jadwal LGD lebih dahulu di hari
pertama dan wawancara di hari kedua. Tapi karena ada pengarahan dari pihak LPDP
dan verifikasi berkas maka kita wajib datang jam delapan pagi. Jadwal LGD saya
siang jam 2, namun karena di kelompok jam 1 kekurangan orang jadi saya masuk
lebih awal. Hari-hari sebelum LGD, saya membaca tips dari website temen-temen
untuk sering membaca berita terutama yang sedang hot-hot nya. Ternyata bener,
topik saya waktu itu adalah tentang Konsistensi Antikorupsi Presiden yang
berkaitan dengan pengangkatan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Waw.. benar-benar
masih hangat. Tapi ada juga kelompok lain yang mendapat topik tentang hak
wilayah / tanah adat di Papua. Saat itu kebetulan satu kelompok semua adalah
orang asli papua, jadi saya pikir topiknya sangat relevan ya. Selain itu, yang
paling utama adalah dilihat dari latar belakang pendidikan. Waktu anggota
diskusi saya empat orang termasuk saya sendiri. Ada yang dari FKM, Pendidikan
Matematika, Fisip dan HI. Jadi keberagaman latar pendidikan itu membuat Ibu
Psikolog memberikan kami kasus Budi Gunawan. Alhamdulillah, karena berita tersebut
sangat fresh dan saya pun suka
membaca beragam opini yang ada di kompasiana membuatku dengan mudah mengenali
apa yang harus dilakukan.
Masalahnya
adalah sebagai orang dengan kepribadian introvert dan sedikit gila (haha).
Sehabis menulis kira-kira apa yang menjadi masalah, solusi, kesimpulan serta
saran, saya justru tidak mengatakan apa yang saya tulis itu (--__--) how stupid
yeah? Rasanya aku pengen nangis karena mengikuti naluri skeptisku dan
mengarahkan kami pada perdebatan yang out of topic. Padahal aku tidak berniat
melakukannya. Sungguh! Aku hanya menilai diskusi kita berlangsung tidak lebih
dari 10 menit dan sudah menghasilkan kesimpulan yang saya pikir semua
masyarakat yang ada di Indonesia akan setuju karena itu juga kesimpulan mereka.
Terus? Ngapain kita diskusi?? Oke, saya cuma berharap dan juga mohon doanya
buat yang baca agar yang baik-baik yang diberi oleh Allah : )
Setelah
keluar dari ruangan, saya mencoba tersenyum. Mencoba loh ya, jadi rada-rada
asem dan tidak percaya diri. Daripada tambah galau di situ akhirnya saya
memutuskan pulang dan mencari film-film lucu atau serem yang bisa mengalihkan
(sementara) kegalauanku.
Hari kedua Wawancara
Ada
satu hal yang membuat saya sedikit kesal dengan opini orang-orang yang
membuatku turut beropini demikian. Kata keluarga, saudara, temen sampai orang
yang tidak dikenal mengatakan bahwa saya ini pintar. Padahal enggak loh. Saya sampai
bingung mereka melihat dari ketinggian berapa dengan sedotan limun? Aslinya
saya memang orang bodoh yang mau terlihat pintar. Saya enggak suka baca buku
tebal kecuali novel. Tidak suka matematika apalagi susah (padahal waktu SD
dipaksa guru buat ikut olimpiade matematika haha!). Saya suka fisika tapi nilai
UN Fisika saya pas 70 (T__T). Yang paling penting adalah saya nggak punya
prestasi lain yang bisa membuat ruang tamu rumah saya penuh piagam or piala.
Paling prestasi bisa nyelesain 20 episode dalam satu hari satu malam (--___--).
Permasalahan prestasi ini yang buat saya bingung.
Dulu,
saya pernah gagal lolos tahap psikotes dari salah satu institusi hijau putih
yang menangani masalah asuransi. Saya yakin jawaban saya memang akan bikin
ngakak psikolognya. Tapi itu tidak akan saya jelaskan di sini. Yang ingin saya
jelaskan di sini adalah tahap wawancara dengan psikolognya. Ada satu pertanyaan
yang membuat saya kebingungan untuk menjawabnya. Yaitu prestasi. Saya bingung
aja, kan jelas-jelas di kolom biodata tidak saya tuliskan prestasi yang saya
miliki. Tapi kok malah ditanya sih? Aku kan jadi mengecil jika mengatakan “saya
enggak punya prestasi apa-apa, Bu. Saya ini orang bodoh.” (hehe). Aku kesal sih
ditanya begitu. Pas saya jawab dengan sepenuh hati (bukan kayak jawaban di atas
ya). Eh Ibu psikolognya tanya lagi. “Terus apa yang bisa saya rekomendasikan agar
kamu saya loloskan ke tahap berikutnya?”. Ah, Ibu. Apa aku harus juara
olimpiade fisika tingkat internasional nih biar diloloskan? Haha
Saya
paham maksud ibu itu sebenarnya, cuma saya terlalu kesal karena ditanya soal
prestasi yang jelas-jelas saya kosongkan kolomnya. Jadi saya nggak punya
persiapan kalau ditanya demikian. Dan pertanyaan seperti itu sebenarnya adalah
tamparan untuk saya yang sebenarnya bodoh namun katanya pintar. Untuk
antisipasi pada pertanyaan pada saat wawancara LPDP, saya kebingungan setengah
mati memikirkannya. Apalagi ini kan berhubungan dengan pendidikan jadi
pertanyaan tentang prestasi kemungkinan muncul meskipun kolom itu saya
kosongkan. Jadi saya lupakan sejenak kegalauan LGD dan memikirkan
jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin keluar. Sambil
memikirkan itu, niat saya untuk ikut wawancara semakin mengecil. Aku ini bodoh,
Aku mah apa atuh. (T__T) Saya berharap dapat sebuah dorongan keras sekeras
dorongan yang bisa menerbangkan roket ke luar angkasa. Tanpa saya sadari, Allah
sudah menyiapkan dorongan keras itu.
Pagi-pagi
setelah menang melawan setan yang merayuku untuk tidur dan tidak shalat shubuh,
saya mendapat bbm dari teman yang isinya mengguncang jiwaku, hatiku, otakku dan
seluruh tubuhku sehingga air mataku jatuh berderai. Tapi karena itulah,
semangat saya menyala untuk pergi wawancara dan menghadapi semuanya. saya punya
kebiasaan gila (kan emang gila) dimana saat saya mengharapkan sesuatu maka yang
saya dapatkan adalah sebaliknya. Dulu saya berharap mendapat pembimbing X
karena saya ingin meneliti tentang A. Prof X dikenal sangat galak tapi kok saya
mau ya dibimbing sama dia (gendeng aku. Haha). Eh malah dikasih pembimbing Y
yang baik hati. Terus saya berharap diwawancara sama psikolog yang mukanya agak
ramah, eh saya malah diwawncara sama psikolog yang agak bermuka jutek. Dan serentetan
kejadian yang hampir sama. Akhirnya, sebelum wawancara ini saya berharap
mendapatkan semua interviewet yang galak abis. Supayaa...
Bener
banget. Pas masuk saya sudah disuguhkan dengan senyum Ibu Psikolog dan
Bapak-Bapak yang ramah sekali. (ini kok mau s2 malah pikirannya enggak ilmiah?
Haha). Yaa jadi setelah menarik napas dan mengeluarkannya untuk menenangkan
diri dan menghilang rasa nervous, giliran saya pun tiba. Setelah mengucapkan
salam dan menyalami satu persatu interviewer saya mulaikan dialog.
Bapak 1 : Selamat pagi juga, Bu Asriati.
Saya :
Mbak, pak.
Bapak 1 : Mbak ini maksudnya karena belum
menikah?
Saya :
Iya pak.
Bapak 1 : Umur kamu memang berapa ? (Mungkin
karena saya terlihat dewasa banget kali yak (--__--)
Saya :
23 pak.
Bapak 1: Oh baru dua tiga..
Ibu
: Mbak Asriati biasa dipanggil apa?
Saya :
Achi, Bu.
Bapak 1 : IPK berapa? Mau lanjut kemana? Kok
milih kesana?
Dan mulailah dialog yang ringan dan diiringi
gelak tawa dari saya maupun interviewer. Saya ditanya seputar motivasi milih
UGM, persiapan kuliah seperti mata kuliah dan lokasinya, kegiatan organisasi di
kampus dan kegiatan sosial, orang tua, kegiatan nyari duit, impian, motivasi
diri, mengenal diri sendiri, setelah ini mau jadi apa, mau balik ke Papua atau
tidak, mau kerja dimana dan lain sebagainya.
Saya juga ditanya tentang masalah RAS nih. Soalnya saya kan tinggal di
Papua dan saya bukan orang asli Papua atau hanya pendatang. Saya ditanya
tentang bagaimana saya menjalani kehidupan sehari-hari di tengah-tengah
orang-orang yang berbeda warna kulit hingga agama. Saya pun menjelaskan kalau
saya tidak kesulitan untuk berbaur di sini. Kita sama-sama orang Indonesia
meskipun warna kulit kita berbeda. Dan pada dasarnya semua orang asli Papua itu
ramah-ramah dan baik. Mereka welcome sama kita dan mau bahu membahu membangun
tanah Papua. Pendapat saya ini didukung oleh Bapak 1 yang menyeletuk kalau dia
juga kaget setelah mewawancari peserta-peserta yang rata-rata adalah orang asli
Papua (kan ini Jayapura Haha) ternyata mereka ramah dan tidak seperti yang
dibayangkan. Kemudian si Ibu juga menjawab kalau selama ini yang dia dengar
ternyata salah. (jadi saya simpulkan ini 3 interviewer baru pertama kali ke
Papua Haha).
Setelah
si Ibu bilang cukup, saya ditanya oleh Bapak 2 dengan menggunakan bahasa
inggris. Ini momen yang bikin saya galau di rumah. Karena saya lupa apa benar
tadi saya disuruh memperkenalkan diri? Haha. Jadi Bapak 2 ngomong pake bahasa
inggris yang kalau tidak salah intinya saya disuruh memperkenalkan diri dengan
bahasa inggris dan jelaskan apa-apa mimpi saya. Semoga saya benar mengartikan
maksud Bapak. Terus si Bapak 1 nanya dengan bahasa inggris juga berapa skor
toefl saya. Ini yang bikin lucu. Soalnya saya sudah lupa menyebutkan angka
ratusan dan ribuan dalam bahasa inggris. Jadi yang harusnya fourty hundred and
fifty saya malah bilang fourty fifty (Bodohku T__T)
Setelah
itu closing dan saya menyalami lagi semua interviewer dengan senyum lega.
Begitu keluar kayaknya semua beban saya hilang. Dan saya baru ingat kalau semua
yang saya rancangkan semalam termasuk jawaban untuk prestasi tidak ditanyakan
sama sekali. Hahaha
Begitulah
cerita saya, semoga yang baik-baik yang diberi oleh Allah. Buat yang mau LGD
dan wawancara saya doakan semoga sukses!
Comments