TERNYATA SHOWERAN ITU ENAK




Dua tahun sebelum lulus :
“Lulus nanti mau jadi apa?”
“Pengen di perusahaan sih. Kamu?”
“Kalau aku pengen jadi PNS aja. Enak hidupnya.”
“Kalau aku sih PNS pilihan terakhir. Kalau emang enggak ada lagi jalan lain.”

Enam bulan setelah lulus.
“Kamu ngapain sekarang?”
“Nyari-nyari kerja sih.”
“Dimana?”
“PNS?”
“Terus dimana lagi?”
“Itu aja.”

Kemarin aku mau wawancara untuk ‘sesuatu’, tapi rasa malas luar biasa dan bimbang tak menentu menerpaku. Rasanya mata tetap mau terpejam tanpa peduli pada apapun yang  menanti di menit-menit berikutnya. Sampai kemudian dengan dorongan hati yang sedikit aku bangun dan mengambil wudhu untuk shalat shubuh. Selepas shalat aku kembali menempatkan kepalaku di atas bantal dan tangan dengan refleks yang mengambil handphone. Ternyata ada bbm dari teman yang isinya seketika membuatku mengeluarkan air mata.

Untuk percakapan di atas, tahukah kalian apa maksudnya?

Guru aku pernah bilang untuk menjaga omongan. Menjaga niat. Menjaga perilaku. Aku mengangguk setuju dengan berkomitmen untuk tidak melakukan hal itu. Seiring waktu berlalu, seiring pertambahan usia dan ketidakstabilan emosi, tanpa kita sadari kita terkadang melakukan hal itu. Dan kita semakin tidak sadar kalau lupa bahwa disekeliling kita ada malaikat yang mendengar setiap perkataan itu. Maka, terjadilan yang namanya karma.

Dialog antara dua orang di atas adalah tentang karma. Bagaimana kita tidak menyukai suatu hal dan sikap kita terhadapnya menentukan apa yang akan Allah berikan untuk kita. maka janganlah kamu membenci suatu hal sementara itu adalah hal yang baik untukmu dan kamu menyukai suatu hal sementara hal itu tidak baik untukmu. Sesungguh Allah Maha Mengetahui sementara kamu tidak.

Lalu apa maksud dari intermezzo di atas? Dan siapakah tokoh dalam dialog di atas? Aku yakin kalian pasti akan menuduh bahwa itu adalah aku? Iya, kan? Tapi maaf, tebakan anda adalah benar. Hehehehe

Jadi setelah mengikuti serangkaian proses untuk meraih gelar sarjana, aku malah sibuk mengurus berkas untuk mengikuti seleksi CPNS. Pertanyaan di atas sebenarnya memberikan tamparan keras untuk aku yang dulunya menjadikan PNS sebagai jalan terakhir tetapi kini malah menjadikannya sebagai jalan awal.
Itu semua karena ada kesenjangan antara keinginan yang realita yang terjadi antara bangku kuliah dan dunia nyata. Awalnya aku berpikir begitu banyak lapangan pekerjaan untuk lulusan dari bidang ilmu yang saya geluti. Namun setelah melihat langsung ke dunia nyata, ternyata satu-satunya yang secara terang-terangan mengatakan membutuhkan lulusan dari bidang ilmuku adalah itu.

Hubungannya dengan showeran?
Selama ini aku selalu tidak mengerti dengan showeran. Lalu kemudian aku mencoba memahaminya tanpa pernah berpikir suatu hari aku akan mempraktekannya. Biarpun patah hati sekalipun, aku tidak pernah punya pemikiran untuk melakukan yang namanya showeran atau nangis di bawah shower air. No way! Kegagalan apapun yang aku alami, tidak akan membuatku melakukan yang namanya showeran. Never!
Sampai suatu ketika, saat aku mendapat kegagalan lagi. Entah mengapa saat itu aku menangis keras keras sambil mandi di bawah shower. Rasanya ternyata sangat menenangkan. Percaya deh. Ternyata showeran itu enak. Serasa semua beban meluruh dari kepala, pundak, kaki dan larut dengan air yang mengalir. Pun dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Dinginnya air juga memberikan sentuhan tersendiri pada hati yang tercabik-cabik. Tak perlu aku bilang kegagalan apa itu. Intinya, saat sedih ternyata melakukan showeran itu menyenangkan dan menenangkan meskipun menyedihkan. Hahahah



Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y