Momen ValentineDays dan Mengapa Kita Harus Berdakwah


                Hari ini tepat 14 Februari selalu dirayakan oleh sebagian penduduk bumi sebagai hari kasih sayang atau Valentine Days. Perayaan yang dulunya hanya ada di belahan bumi bagian barat, sudah merambah hampir ke seluruh dunia. Meskipun tidak separah di Barat yang mengartikan ‘kasih sayang’ sebagai one night making love, tetapi perayaan hari kasih sayang di indonesia sudah mampu membuat penjual coklat dan bunga yang mendapatkan untung besar. Pembelinya bukan hanya dari pasangan yang sudah menikah, tetapi lebih banyak oleh (will be) pasangan yang tengah pacaran. Bukan hanya oleh orang yang sudah mampu menghasilkan duit sendiri tapi juga pasangan cinta monyet yang masih nadah duit beli coklat dari orangtua. Dan setiap menjelang tanggal 14 pula, akan banyak kita dapatkan dengungan dari saudara muslim untuk tidak turut latah budaya orang lain yang tidak benar.
                Meskipun tidak setuju dengan perayaan valentine days, saya enggak pernah mengeluarkan komentar atau status yang mengatakan secara gamblang bahwa valentine itu tidak patut kita tiru untuk dirayakan. Bukan karena apa-apa. Saya Cuma enggak mau dicap sebagai Islam Fanatik seperti kata banyak orang. Ketika sedikit-sedikit kita mengkritik perilaku saudara semuslim kita yang khilaf melakukan dosa kecil, tak sedikit juga yang mengecap kita sebagai penganut Islam yang fanatik. Orang tua saya pun pernah bilang,”Sudahlah. Jangan terlalu fanatik. Yang penting shalat lima waktu dan jauhi larangan Allah. Itu saja. Nggak usah ikut-ikut organisasi-organisasi yang bawa nama Islam. Yang penting dalam diri kamu kamu yakin kamu Islam.”
                Kadang saya enggak mau terlihat terlalu fanatik karena memang penampilan saya belum se-syar’i ajaran islam. Masih suka pake jeans dan kaos meski kerudung sudah diturunin nyampe dada. Akibat pergaulan juga sih. Belum terlalu pede memakain rok atau gamis syar’i kemana-mana sementara temen saya ada bahkan yang tidak kerudungan. Bukan masalah karena takut ditinggalin temen juga, tapi karena ilmu saya tidak banyak jadi rada takut kalau tiba-tiba ditawarin jadi guru ngaji karena penampilan (hehe).
                Lalu kemarin, sembari mengecek linimasa twitter eh dapat satu tweet bagus tentang Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Depok, dan dua daerah lainnya (lupa) yang memberikan arahan agar siswa sekolah tidak ikut merayakan hari Valentine baik di dalam sekolah maupun luar sekolah. Membaca itu, banyak orang senang karena pemerintah mulai melihat bahwa tidak ada kegunaannya merayakan hari kasih sayang. Kasih sayang kan bukan hanya sehari, tapi selamanya. Disisi lain ada juga yang heran karena dengan adanya surat arahan resmi tersebut, berarti perayaan Valentina Day di kalangan siswa mungkin cukup mengkhawatirkan.
                Kemudian saya membaca sebuah artikel HL di salah satu situs jurnalisme warga tentang Valentine yang penulisnya setuju bahwa aneh memang ketika kita merayakan hari kasih sayang hanya satu hari, terutama untuk pasangan muda (yang belum menikah lagi), seneng dikasih sebatang coklat tapi kalau tiba-tiba susah cintanya dibuang begitu saja. Lupa!
                Masuk ke linimasa sosial lainnya pun saya mendapati hal yang serupa, bahwa banyak dari warga kita sebenarnya tidak setuju dengan perayaan valentine. Alasannya sama itu bukan budaya kita, dan kasih sayang kok cuma sehari? Dan tidak sedikit yang mengaitkan bahwa seorang muslim tidak patut merayakan hari valentine yang bertentangan dengan akidah. Sejarah valentine yang sarkatis juga menjadi alasan kenapa kita tidak boleh merayakan valentine.
                Tapi saya masih berada dalam dilema sebelum menuliskan ini. Karena masih takut dicap sebagai fanatik oleh orang-orang sekitar yang meskipun tidak merayakan tapi mengganggap itu sah-sah aja. Kemudian saya berpikir tentang perjuangan Rasullullah untuk menyebarkan Islam dan mengajak umat Quraisy untuk ke jalan yang benar. Dan ingatan tentang segelintir teman dan ustad yang tak gentar berdakwah untuk membawa kita umat Muhammad kembali ke jalan yang benar. Dan segelintir ingatan kenapa kita hanya peduli pada diri kita sendiri, cukup beribadah saja yang taat dan masa bodoh dengan saudara kita yang mungkin sedang tersesat? Yeah! Karena itulah seharusnya kita tidak gentar untuk bersuara. Mungkin kita belum seperti kebanyakan saudara kita yang berani mengajak kita secara terang-terangan kembali ke pada Allah, tapi dengan memberitahukan kepada orang-orang yang terdekat tentang kebenaran maka kita tidak egois lagi dan hanya memikirkan surga untuk kita sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

PENYANYI PRIA TERBAIK di KOREA berdasarkan penilaian ahli vokal korea