STUPID DAY : DECIDED
Mungkin aku terlalu banyak berharap tapi
tidak banyak berusaha dan berdoa. Juga salah pilih dan kurang lihai menilai.
Tapi bagaimana ya, ada suka dan duka yang tidak bisa aku jelaskan bagaimana dan
caranya aku harus mengatasi kegalauan ini. Sesungguhnya hal-hal baik akan
datang pada mereka yang berusaha dan berdoa. Sekarang tinggal kamu tanyakan,
apakah kamu sudah cukup berusaha dan berdoa?
Untuk membuka kesempatan lagi tahun depan?
Semoga.
Atau aku lupa pada aturan kalau ALLAH ITU MAHA
TAHU dan boleh jadi apa yang kau inginkan sebenarnya tidak cocok untukmu
sebaliknya apa yang tidak kau inginkan adalah yang terbaik untukmu. Karena kita
tidak tahu dan ALLAH MAHA TAHU. Sekarang pertanyaannya, apakah kesempatan yang
telah pergi bisa kembali lagi?
Untuk menghibur diri, aku berpatok pada
kata-kata Mario Teguh, bahwa kesempatan itu memang tidak datang dua kali, tapi
SATU JUTA KALI. Dan ke depan, semoga kita bisa fokus agar bisa melihat apa-apa
yang sebenarnya yang kamu butuhkan.
Itulah mengapa aku kembali menyambangi
polresta Jayapura (bukan karena kasus kriminal ya! Haha) untuk mengurus (lagi)
surat keterangan catatan kepolisian. Beberapa jam sebelum wawancara final
dengan pihak A, saya sudah mendengar perihal penerimaan di salah satu institusi
bernama B. Saat itu ada pemikiran untuk melamar juga, tetapi tidak terlalu
besar.
Sebenarnya ada angin segar dimana sepertinya
pihak A akan menerimaku dan membuatku melepas gelar jobseeker ini segera. Aku bahkan sudah sujud syukur pada Allah
karena akhirnya mengabulkan doaku. Dan terharu bagaimana gitu. Padahal tujuan
pemanggilan pihak A belum jelas. Ini keterima
enggak sih? Haha.
Tetapi entah apa yang merasuki pikiranku.
Begitu aku di wawancarai, aku melakukan kebodohan itu. Jadi, sebenarnya aku ini
mau kerja enggak sih? Itu yang ada di benakku ketika menolak dengan tegas
penempatan yang diberikan oleh pihak A jika aku diterima dengan segala syarat
yang membuatku berpikir untuk 3 tahun ke depan. Sebagai manusia memang kita
tidak tahu apa yang akan terjadi di detik berikutnya, apalagi esok, esok dan
seterusnya. Tetapi kita dikaruniai banyak hal yang membuat kita bisa
mempertimbangkan. Saat itu aku berpikir keras untuk menentukan pilihanku dalam
sekesekian menit. Take it or leave it.
Aku dihadapkan pada dua pintu yang bernuansa
berbeda. Pintu A adalah pintu dimana terdapat aku yang sedang tersenyum ramah
melayani pengunjung yang datang. Itu bukan senyum palsu karena aslinya aku suka
tersenyum (masaa weeh?). Aura pintu A sangat nyaman dan sedikit sejuk. Sebagai presepsi
dari seseorang yang mulai berkurang kekhawatirannya akan pekerjaan. Sementara
pintu B sangat panas. Seperti panasnya mentari siang hari yang menyinari kota
Jayapura dengan penuh semangat. Dan serangkaian semangat bahwa kau harus
melakukan sendiri segala macam hal di luar sana untuk mencari nasibmu lagi.
LAGI. Kata itu seolah pergi jauh saat aku sedang
merenungkan jawabanku kemudian. Aku tidak berpikir tentang bagaimana susahnya
aku mencari pekerjaan selama ini. Bagaimana aku menyemangati diri sendiri untuk
bangun di tahun baru meskipun dengan status yang belum berganti. Aku tidak
ingat betapa panasnya kota Jayapura dimana aku berkeliling menyebarkan CV. Kata
itu pergi menjauh sementara yang teringat olehku hanyalah....
Aku telah memutuskan. Aku sudah memutuskan.
Keluar dari ruangan aku dipandangi seluruh
peserta. Aku bisa menebak semua pikiran mereka. Mereka mungkin berpikir aku ini
bodoh. Kenyataannya demikian. Aku sudah berpikir dimana aku bodoh adalah saat
aku gagal dalam tes pegawai berjuta umat, sementara ada beberapa temanku yang
berhasil. Tapi aku tidak sepenuhnya bodoh, karena aku berpikir itu adalah
rejeki mereka. Dan aku yakin rejeki kita tidak akan tertukar. Tapi aku bodoh,
ketika aku sudah diberi kesempatan dan aku menolaknya begitu saja.
Padahal sebelumnya aku seperti sudah diberi
petunjuk. Salah satu panitia yang juga mewawancaraiku (hingga aku meneteskan
air mata) berkata bahwa ketika ia akhirnya diterima kerja, ia tidak mencari
pekerjaan lain lagi (suka atau tidak suka) karena ia berpikir itu mungkin
adalah takdir tuhan untuknya.
Aku tidak menangkap sinyal itu karena aku
tidak terlalu setuju. Apabila kita diterima di salah satu tempat untuk bekerja,
sementara kita tidak terlalu suka dengan posisinya, tapi kita menerimanya saja.
Apakah saat itu kita berpikir itu adalah takdir tuhan atau karena kita sudah
lelah mengejar impian?
Inilah yang menjadi pemikiranku jauh-jauh
sebelumnya. Ketika banyak orang yang keluar dari jalan impian mereka. Aku
selalu bertanya-tanya. Apakah mereka saat itu yakin bahwa jalan itu adalah
takdir mereka atau mereka sudah lelah mengejar impian mereka?
Pertanyaannya aku kembalikan padaku? Apakah
aku masih sanggup mengejar impianku?
Impianku lah yang membuatku merubah keputusan
dan melupakan kata LAGI itu. Aku sebenarnya merasa menyesal. Setiap aku terjaga
selama beberapa hari hanya itu yang aku pikirkan. Ternyata jauh lebih
menyesakkan mengambil keputusan seperti itu dibanding gagal dalam tes. Aku
memang tidak menangis. Tetapi sepertinya semua semangatku jauh di bawa pergi.
Semangat yang coba aku kumpulkan ketika keluar ruangan karena aku akan kembali
lagi melakukan pencarian. Berhari-hari aku dihantui perasaan bersalah dan
kebingungan. Aku takut mengatakan pada orangtuaku yang sebenarnya. Aku sedih.
Tapi ada satu kata bijak: Banyak orang yang lelah dalam perjalananan dan
memilih untuk berhenti, padahal mereka tidak tahu apa yang menanti mereka di
depan. Bukankah jarak kemenangan hanya sebatas kening dan sejadah? Jadi, jangan
lelah dulu. Pasang kembali semangatmu. Peluk kembali impianmu.
Aku memang bodoh, tapi tidak sombong. Semoga.
Apa yang menjadi keputusanku akan membawaku pada nasib yang lebih baik.
Hehehe...
Semangat semuanya...
Comments