Urgenkah Masalah Narkoba di Indonesia?
Persahabatan dua negara yang begitu dekat
kini sedikit memanas ‘lagi’. Terutama menjelang eksekusi mati terpidana narkoba
di Indonesia. Dua warga negara Australia menjadi terpidana yang akan di
eksekusi. Sontak, sebagai Perdana Menteri yang ingin membela warganya, Abbot
pun geram dan kesal. Orang yang sedang kesal dan emosi terkadang mengucapkan
kalimat-kalimat yang tidak enak di dengar berasal dari pemikirannya yang tidak
rasional. Beliau mengungkit kembali bantuan dana yang sangat besar yang
dikucurkan Australia untuk membantu korban Tsunami Aceh sepuluh tahun silam.
Sungguh diluar dugaan, ya? Abbot meminta Indonesia untuk ‘balas budi’ atas
bantuan yang sudah diberikan.
Ucapan Abbot pun menuai banyak kecaman. Bukan
hanya dari Aceh dan sebagian besar rakyat Indonesia, juga dari warga Australia
yang menilai ucapan Abbot sangat tidak dewasa. Mengungkit kembali bantuan yang
telah diberikan Australia sebagai negara sahabat untuk membantu adalah perilaku
yang tidak baik. Masyarakat Australia juga tidak sedikit yang mengecam
perkataan Abbot.
Lucu sekali memang. Perihal mengungkit-ungkit
bantuan sebenarnya bukan fakta yang baru. Setiap orang, bahkan saya dan Anda
juga pasti pernah melakukannya atau mungkin baru memikirkan untuk mengungkit
apa-apa yang sudah pernah kita lakukan untuk seseorang. Namun, jika itu
dikatakan oleh seorang yang berada di pemerintahan yang ucapannya akan
terdengar sampai ke seluruh dunia, itu sangat lucu sekali. Sebagai orang
Indonesia, kita tentu merasa sakit hati. Apalagi, bantuan yang diberikan
Australia itu diberikan bukan pada masa kepemimpian Abbot. Sungguh terlalu.
Maka wajar jika warga Aceh marah dan menjalar ke seluruh rakyat nusantara.
Terbitlah pulak sebuah gerakan kemanusiaan yang bernama #KoinForAustralia.
Kemunculan gerakan ini memang bagus untuk
menunjukkan bahwa sebagai rakyat Indonesia kita sangat tersinggung dengan
ucapan perdana menterinya. Meskipun saya yakin banyak rakyat Australia yang
tulus ikhlas menyumbangkan uangnya untuk membantu korban Aceh dahulu.
Sayangnya, Abbot mengatakan sebagai Perdana Menteri. Seandainya ia mengatakan
itu atas dasar dari dirinya sendiri, mungkin nama gerakannya adalah Koin Untuk
Abbot.
Kata-kata itu keluar seiring dengan geramnya
Abbot pada pemerintah Indonesia yang akan mengeksekusi mati kedua warganya yang
tertangkap karena kasus narkoba. Narkoba adalah momok yang mengerikan untuk
kelangsungan hidup umat manusia di seluruh dunia. Narkoa tidak hanya terkenal
di kalangan anak muda, ia menyentuh semua kalangan. Mulai dari anak remaja
hingga lansia. Narkoba menyebabkan banyak kerugian hingga menyebabkan kematian.
Ia menjadi jalan masuk penyakit mematikan HIV/AIDS. Narkoba tidak hanya
berkaitan dengan masalah ekonomi namun juga masalah kepribadian. Indonesia
sebagai salah satu negara yang melarang keras peredaran narkoba membuat
pemerinta Indonesia mengambil langkah tegas untuk setiap yang tertangkap
membawa narkoba ke negeri ini. Meskipun pada kasus dua warga negara Ausy ini,
narkoba yang berada di tangannya akan diselundupkan ke Australia. Narkoa
menyebabkan kecanduan bagi penggunanya yang bisa dihilangkan dengan
rehabilitilasi. Namun, keberadaan balai rehabilitisi narkoba di Indonesia
belumlah banyak. Sehingga salah satu cara adalah menekan penyebaran narkoba di
Indonesia.
Menurut penelitian, memang tidak ada hubungan
yang kuat antara eksekusi mati dengan peredaran narkoba. Namun, Indonesia
mengambil sikap yang tegas agar barang haram itu tidak dibawa dari luar negeri
dan diedarkan di Indonesia pun di dalam negeri begitu. Ini langkah yang tegas
untuk membuat jera oknum-oknum yang melihat pertahanan masuk Indonesia sangat
mudah untuk ditembus.
Namun, menurut saya, hukuman mati untuk
pengedar narkoba terlalu berlebihan. Untuk negara seperti Amerika Latin yang
merupakan salah satu kawasan dengan angka pengedar narkoba yang sangat banyak
di dunia, menggunakan hukuman mati sebagai upaya membuat jera tidak begitu
berpengaruh. Menjual narkoba menjanjikan seseorang untuk kaya mendadak. Sulit
akan membuat jera jika tawaran untuk hidup enak yang dijanjikan narkoba.
Sama halnya dengan korupsi. Dibandingkan darurat
Narkoba, saya pikir Indonesia jauh lebih darurat dengan permasalahan korupsi.
Beranikan pemerintah Indonesia tegas untuk memberikan hukuman mati untuk mereka
yang terbukti mencuri uang rakyat milyaran hingga trilyunan rupiah. Beranikah
pemerintah Indonesia tegas untuk ‘membunuh’ saja mereka yang membuat rakyat
Indonesia terpaksa menjual narkoba karena mereka telah dimiskinan secara
sistematis oleh pejabat-pejabat dengan perut ‘gendut’?
Narkoba dan Korupsi memang dua hal yang
berbeda. Namun diantara keduanya ada kaitan sebab akibat. Korupsi memiskinan
rakyat. Rakyat butuh makan. Narkoba menawarkan ‘rasa nyaman’ dan ‘uang banyak
yang instan’. Meskipun tidak kuat hubungannya, sih.
Saya bukan membela pengedar narkoba. Namun
yang saya lihat Pemerintah Indonesia terlalu mengunjukkan gigi dengan sikap
tegasnya pada pengedar narkoba sementara untuk masalah yang jauh lebih urgent
terhadap kemashlatan bangsa dan negara, pemerintah bersikap seperti kerupuk.
Siapa tahu? Dengan sikap tegas pemerintah
terhadap aksi ‘curi mencuri uang rakyat’ membuat Indonesia bukan lagi menjadi pasar target
penjualan narkoba. Siapa tahu...

Comments