Long Story After Graduation (5)

October (1)
            Begini rasanya gagal jadi pegawai. Saya berani menangis, sedih sekali. Sakitnya tuh disinii (nunjuk jantung). Beda saat saya gagal lanjut s2. Air mata justru tidak keluar (saya tahan sih, soalnya malu dilihat ortu hehe).
            Setelah seminggu tes TPA, di akhir september keluar pengumuman peserta lulus tes TPA. Saya benar-benar deg-deg-deg-deg-an. Karena yakin lulus, dan saya pikir tidak terlalu sulit soalnya, maka ketika nama saya tertera pada daftar, saya benar-benar senang.
            Awal oktober dijadwalkan untuk tes psikologi. Nah, ini! Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus pelajari. Karena tidak pernah ikut, saya memanfaatkan om Google untuk membantu saya. Ternyata ada situs penyedia tes psikologi online. Tes psikologi ternyata banyak sekali. Sampai tengah malam saya mempelajarinya. Namun tidak semuanya.
            Saya hanya bisa pasrah dan percaya diri saja menjawab soalnya besok. Sambil saya ingat-ingat, di awal masuk universitas dulu saya pernah mengikuti tes psikologi. Soalnya yang saya ingat hanya disuruh menggambar pohon dan melanjutkan gambar dari titik atau kotak yang tersedia. Selebihnya, saya sudah lupa. Benar saja, tes pertama memang disuruh menggambar pohon, orang dan titik-titik itu. Namun rangkaian tes berikutnya yang membuat saya down. Benar-benar sulit, terutama untuk tes IQ-nya dengan disajikan soal matematika yang harus dijawab dalam waktu beberapa detik saja. Matilah saya. Dan tes psikologi di akhiri dengan wawancara dengan psikolog. Wawancara adalah kelemahan yang belum bisa saya atasi. Dan bodohnya, saya tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tes tersebut, malah asyik ketawa-ketiwi dengan peserta lain sambil menunggu nama dipanggil. Begitu saya masuk, saya hanya bisa menjawa seadanya. Setelah bersalaman dengan pewawancara saya sudah punya feeling tidak akan mudah untuk lulus, kecuali ada keajaiban.
            Malam harinya setelah pulang tes, saya disibukkan dengan mengikuti tes online dari Danone. Akhir september lalu, saya mengirim berkas saya untuk mendaftar di Danone. Saya diminta untuk ikut tes online dari tanggal 1 Oktober jam 3 sore WIB yang artinya jam 5 sore disini sampai 2 oktober. Karena tanggal 1 saya sibuk belajar psikotest, jadi saya memutuskan besoknya baru saya akan mengikuti tes karena saya pikir jam 12-an siang mungkin sudah pulang. Ternyata tes psikologinya sampai magrib, saya tiba di rumah sudah jam 7 malam. Selesai mandi, saya buka email untuk membaca persyaratannya. Ternyata dibutuhkan koneksi internet yang bagus untuk mengerjakan tes online ini. Saya was-was sekali. Koneksi internet di Jayapura ini sangat menyedihkan. Benar saja, baru mau login saja saya harus menunggu sejam. Saya sampai bertanya-tanya, apa ini koneksi internet Jayapura yang keterlaluan atau wesbite yang akan saya bukan terlalu berat.
            Mata saya sudah ngantuk lagi karena lelah dengan tes tadi. Pas terbuka halaman pertama, ternyata tes yang akan saya ikuti adalah tes psikologi, lagi! OMG. Dengan koneksi internet yang berjalan selambat kura-kura, dan deadline tesnya jam 12 malam ini. Saya sampai menangis karena kesal. Akhirnya, dengan berat hati, saya lepaskan kesempatan ini. Pertimbangan lainnya adalah karena kalau lulus  tanggal 6 oktober saya harus terbang ke Jakarta untuk ikut tes wawancaranya. Orang tua saya mungkin tidak akan mengizinkan, apalagi ini ada trainingnya dulu.
            Tanggal 4 Oktober, pengumuman kelulusan berkas dari Kemenkes. Alhamdulillah saya lolos. Jadi kemudian saya persiapkan diri untuk menghadapi tes PNS yang kata kakak saya sulit. Apalagi ada materi wawasan kebangsaan yang menurut saya sangat sulit untuk menghafal UU di usia sekarang (hehe).
            Besoknya, saya mencoba untuk mengirim CV saya di LSM Wahana Visi Indonesia, sebuah LSM yang bergerak di bidang kesejahteraan masyarakat. Teman saya juga mengatakan ada lowongan auditor di Bank BRI. Tanpa pikir panjang saya segera memasukan lamaran saya. Ternyata berkas yang dibutuhkan untuk mendaftar di Bank BRI berbeda dengan berkas yang masukkan di LSM. Jadi, saya mempersiapkan dulu berkasnya dan kemudian datang ke kantornya. Untungnya belum tertutup.
            Hari tes PNS tiba, meskipun takut karena ini pertama kalinya saya pergi tes sendirian, namun saya mencoba memberanikan diri. Tesnya menggunakan sistem CAT yang online dan setelah mengerjakan langsung terlihat skornya, sehingga kita bisa tahu apa skor kita melewati passing grade yang ditetapkan Kemenpan-RB atau tidak. Awalnya mata saya sampai sakit karena soal tentang kepribadian. Namun Alhamdulillah tes intelengsi umumnya tidak begitu susah. Dan seperti dugaan saya, wawasan kebangsaan saya memang menyedihkan. Alhamdulillah, skor saya melewati passing grade yang ditentukan. Walaupun saya tidak tahu apakah bisa lolos atau tidak karena lolos passing grade belum tentu lolos CPNS. Well, i hope the best lah.
            Lusanya, teman-teman saya mulai ribut tentang pengumuman BPJS. Apalagi saya. Saya benar-benar berharap bisa lolos tes ini. Teman saya mengatakan pada saya jangan terlalu berharap (setelah tahu tidak lulus) karena rasanya akan sakit sekali. Benar saja, begitu saya tahu nama saya sudah tidak ada lagi pada daftar yang lulus, saya menangis sekeras-kerasnya. Untung hujan deras dan sudah tengah malam. Rasanya sedih sekali. Mungkin itu yang dirasakan para konstentan ajang mencari bakat saat mereka tahu tidak bisa lagi melanjutkan ke tahap berikutnya. Hiks.. hikss...
            Ketika kita sudah berusaha, dan gagal, jangan langsung menyerah. Karena kalau kita menyerah maka semuanya selesai.
            Saya tidak ingin jatuh terpuruk karena kegagalan ini. Saya harus bangkit dan tidak menangis semalaman. Apalagi kita sudah besar. Cukup berpositif thingking saja maka semua kebahagiaan akan datang. Paginya saya tidak memberi tahu orang tua saya dan langsung pergi untuk menyebar CV lagi. Kalau saya berhenti berusaha karena ditolak satu perusahaan, maka saya bisa-bisa tidak akan bekerja. Dengan menguatkan hati untuk tidak menangis lagi, saya menjalani panasnya kota Jayapura, menyebar CV dari satu tempat ke tempat lainnya.
            Kita tidak tahu sukses itu berada dimana, namun saat kita berhenti di tengah jalan karena terlalu lelah dan belum menemukan keberhasilan, sesungguhnya kita telah kalah. Karena siapa tahu beberapa meter di depan sana kesuksesan tengah menunggu kita.

To be continued...

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y