Long Story After Graduation (6)


Oktober (2)
                Iya, bangkit dari keterpurukan. Masa baru ditolak satu perusahaan saja sudah down? Kata temen saya. Dalam hati saya bilang, iya kalau perusahaan lain yang nerima CV saya sudah manggil buat tes ya saya bisa tenang. Nah ini?? Hiks..
                Belum bisa dibilang banyak sih CV yang sebarkan di kota ini. Pun saya pertimbangkan dengan basic pendidikan saya. Kesehatan. Kesehatan bidang preventif lagi. Bukan kuratif seperti yang banyak dibutuhkan. Dilema juga sih, dimana kami lulusan ini bisa diterima tanpa meninggalkan pengetahuan kami yang sudah digeluti selama empat tahun. Satu-satunya harapan saya yang CPNS Kemenkes yang memang mewadahi kami. Saya yakin. Harus yakin lulus, kata kakak saya. Tetapi bukan berarti kita tinggal diam-diam aja sambil nunggu tes PNS. Tahun ini saja yang hanya menerima 100.000 pegawai baru, pendaftarannya sudah melewati angka dua juta orang. Weleh-weleh. Bukannya takut bersaing. Kita berusaha saja yang sebaiknya, biar Allah yang menentukan.
                Saya mencoba memasukkan CV di Bank Danamon. Meskipun tak ada penerimaan di sana. Terus lanjut ke salah satu LSM milik Clinton Foundation yang ada di Jayapura, CHAI. Lumayan memberikan moment lucu juga sih saat mencari kantor CHAI ini. Yang tidak akan saya lupa, juga teman saya. Setelah CV masuk, kita bergegas memanfaatkan waktu yang ada ke salah satu rumah sakit swasta di Jayapura. Modal nekat banget nih. Sampai-sampai kita tidak tahu kalau rumah sakit tersebut hanya menerima yang beragama Nasrani, soalnya memang yayasan kristen sih. Kita sempat syok mendengarnya. Sampai si petugas pun mengizinkan kita memasukkan lamaran. Siapa tahu aja sih, walaupun belum pernah ada dalam sejarah.
                Pulangnya, saya banyak berpikir. Bener-bener susah ya cari kerja tanpa link. Paman saya akhirnya mengusahakan saya untuk bisa mengajar di salah satu politeknik milik teman dekatnya. Sayang, yang sedang dibutuhkan adalah pengajar laboratorium. Sementara pengajar yang sesuai dengan basic pendidikan saya sudah terisi. Dua malah. Saya mencoba tersenyum lebar meskipun hati ini sedih dan bingung sekali.
                Teman saya lalu datang mengabarkan bahwa pamannya akan mengusahakan kita untuk masuk di rumah sakit daerah di kabupaten. Letaknya sangat jauh dari Jayapura. Bahkan tidak ada angkot yang bisa mengantar kita sampai pintu rumah sakit. Karena takut hilang, teman saya pun menawarkan untuk nebeng di salah satu trek pegawai pamannya yang akan pergi ke lokasi kerja yang kebetulan tak jauh dari rumah sakit. Hahaha.. Ya sudahlah, saya iyakan. Biarlah kita nge-trek daripada hilang di kota kecil.
                Benar saja. Letaknya sangat jauh dari jangkauan angkutan umum atau pusat kota kecil itu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya benar-benar bekerja di sini. Heran juga sih, kenapa rumah sakit letakknya sulit diakses seperti ini? Memang sih, keberadaan rumah sakit ini membantu masyarakat sekitar agar tidak perlu pergi jauh untuk berobat di Kota Jayapura. Namun dengan kondisi yang sulit diakses di kota sendiri, kecuali dengan kendaraan pribadi, yaa tidak efisien juga kan?
                Sebelumnya, saya memang sudah tidak percaya dengan situs pencaker online. Trauma. Namun bagaimana ya, di Era Telekomunikasi Modern ini rasanya tidak semua situs pencaker itu fake. Menurut teman saya, mungkin saya coba cari di kaskusloker atau jobstreet. Benar saja, cukup banyak lowongan kerja di sana yang kelihatannya sih beneran. Sebab di bagian bawah dicantumkan link perusahaannya sehingga kita pencaker bisa mengecek langsung kebenaran informasi tersebut.
                Setelah saya baca-baca ternyata tetap tidak mudah mencari lowongan kerja yang sesuai dengan basic saya. Rasanya matahari seperti menjauh dari bumi. Gelap. Gelaaap sekitarku. Yang bisa kulihat hanya mereka-mereka yang berjalan dengan sinar dari dalam dompetnya. Hahahaha. Oke, kembali ke topik. Akhinya saya pun banting setir ke hobby atau kesukaan saya yaitu dunia literasi. Saya mencari beberapa lowongan untuk menjadi editor. TERNYATA! Ternyata tidak mudah juga melamar menjadi seorang editor. Harus punya pengalaman menjadi editor. Fiuhhh~ keringat makin deras bercucuran, padahal matahari sudah menjauh tinggal kegelapan yang tertinggal.
                Ada satu temen saya yang suka berbagi info loker pada saya, dia mengatakan ada lowongan di PT. PERTAMINA. Langsung saja saya menuju TKP. Saya akui dan temen-temen saya juga akui bahwa saya ini cukup ahli dalam dunia komputer dan sistem per-online-an. Tapi ini aneh, setelah saya buka website yang teman saya berikan, saya kebingungan, dimana lowongan yang dikatakan temen saya? Padahal deadlinenya masih lama. Kok enggak ada sih? Bingung bangeeet. Temen saya menghibur, mungkin nanti setelah ganti bulan baru diposting karena deadline pun bulan depan.
                Alhamdulillah ada cahaya lagi. BPJS Ketenagakerjaan ternyata membuka lowongan reguler dan di situ ada basic pendidikan gue! Uyeee. Tanpa pikir panjang langsung saja saya serbu. Akhir Oktober di beri tahu kalau saya berhak ikut tes tahap 1 yaitu seleksi Online yang akan di laksanakan bulan depan.
                Okee, lupakan hitung bulan, siap-siap saja menyambut November. Semoga bulan depan memberiku kejutan menyenangkan. Amiiin J

               

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y