Long Story After Graduation—PART 1 Finish
Suatu waktu di sebuah antrian wawancara, aku
dan dua orang temanku berbincang mengenai sulitnya dapat mendapatkan pekerjaan.
Membicarakan teman-teman yang sudah mendapatkan rejekinya. Juga beberapa teman
yang sudah memiliki anak. Hadiah terindah dari Tuhan. Kadang membicarakan hal
itu membuat kita yang masih mencari bisa berpikir banyak sekaligus menyemangati
diri sendiri untuk terus berpikir positif.
Temanku itu pernah berkata ketika kita
melihat updetan teman-teman yang tampak bahagia memasang foto senyuman. Sementara
kita yang meskipun sudah tersenyum tapi hati masih agak mendung. Katanya
pekerjaan itu seperti jodoh. Ia akan datang di saat yang tepat. Yang perlu kita
lakukan hanya terus bergerak.
Iya benar. Satu bulan setelah ia mengatakan itu,
ia diterima di perusahaan tempat kita mengantri wawancara itu. Rejeki memang
tidak akan tertukar. Itu rejekinya dan aku bahagia karena ia telah menemukan
jodoh rejekinya.
Aku pernah bertanya-tanya mengapa aku harus
sedih dan pusing saat belum mendapatkan pekerjaan. Bukankah yang harus aku
lakukan hanya terus berusaha. Karena rejeki tidak akan tertukar. Ia seperti
jodoh dan maut yang sudah digariskan. Aku kesal kenapa aku harus membandingkan
hidupku dengan hidup orang lain sementara hidup masing-masing orang memiliki
jalan yang berbeda. Aku selalu berpikir dengan mendapatkan pekerjaan maka aku
akan bahagia. Padahal bahagian itu datang bisa kapan saja. Bukankah anak-anak
kecil yang menari di bawah hujan dengan kaki telanjang itu bahagia meskipun tidak
tahu setelah itu akan makan malam dengan apa?
Saat aku SMP aku memiliki teman sekelas yang
kelewat pelit dalam membagi jawaban pada teman-teman saat ujian. Ia menutup
setiap celah yang membuat teman sebangkunya bisa melihat jawabannya pada saat
ulangan. Ia begitu menyebalkan selagi kita sekelas bekerja sama dalam menjawab
ulangan (khas indonesia banget ya, nyontek). Lalu saat SMA, dia berubah seratus
delapan puluh derajat. Ia mau berbagi jawaban juga ingin diberi jawaban saat
ulangan. Suatu hari dia pernah berkata bahwa kita tidak seharusnya pelit dalam
berbagi jawaban saat ujian sekolah maupun ujian nasional. Kita harus sama-sama
lulus. Dan kemana kita akan pergi setelah lulus SMA tidak ada hubungannya
dengan bagaimana kita bisa melewati ujian. Kita memiliki impian dan jalan hidup
masing-masing.
Aku tertawa mendengar itu. Seharusnya ia
menyadari itu sejak dulu, saat ia menutupi lembar jawabannya dengan buku
sebagai sekat-sekatnya. Kekanakan sekali. Tapi dia benar. Saat itu kita tidak
perlu egois. Kita harus berjuang bersama agar bisa lulus. Toh kita akan pergi
ke universitas yang berbeda dan melewati jalan hidup kita masing-masing.
Sudah hampir tiga bulan sejak tahun 2015
berawal. Dan impianku untuk tidak memiliki tanggal merah di tahun ini belum
bisa terlaksana. Aku sudah pernah memposting tulisan berjudul Long Story After
Graduation sebelumnya dimana aku berharapa tulisan itu bisa selesai dengan
akhir yang aku impikan. Yaitu get a job.
Awalnya aku berpikir tujuan untuk menulis itu adalah ingin memberikan semacam
inspirasi pada pejuang pencari kerja di luar sana agar tidak menyerah karena
suatu hari kau pasti akan mendapatkannya. Tapi aku sadar bahwa sebenarnya bukan
get a job yang tertuang di sana. Melainkan
banyak pelajaran hidup yang bisa aku ambil selama mencari pekerjaan. Dan aku
sadar bahwa inspirasi itu bukan untuk orang lain, tetapi untukku yang hampir
kehilangan arah.
Stay Fool
and Stay Hungry
Semakin sering aku gagal, semakin aku
berpikir bahwa aku bodoh. Ya, aku begitu bodoh sampai tidak bisa mendapatkan
pekerjaan. Berkali-kali aku menggagalkannya. Entah dengan mengisi soal tes yang
tidak becus bahkan mengeluarkan air mata saat wawancara. Mengingat semua itu
aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh.
Aku memiliki seorang idola. Suatu hari ia
menulis status seperti ini : stay fool
and stay hungry. Aku bertanya-tanya apa maksud dari kalimat itu sampai aku
tahu bahwa itu adalah salah satu kutipan dari kata-kata Bill Gates, penemu
Microsoft yang sangat terkenal di dunia. Dia mengatakan bahwa dalam hidup kita
harus merasa bodoh dan merasa lapar. Dengan begitu kita tidak akan berhenti
berusaha dan bekerja. Berusaha untuk menjadi lebih baik dan bekerja agar perut
tidak merasa lapar.
Ada satu kutipan dari Iman Syafii yaitu setiap kali ilmuku bertambah maka bertambah
pula kefahamanku bahwa ternyata aku masih bodoh.
Masih soal bodoh, sewaktu menunggu wawancara
pada salah satu pemberi beasiswa s2, salah satu rekan sesama peserta berkata
dengan mengutip kata-kata Mario Teguh. Jadilah
orang bodoh di antara orang-orang pintar, dan janganlah menjadi orang pintar di
antara orang-orang bodoh.
Awalnya, aku masih tidak mengerti maksud dari
Mario Teguh itu padahal awalnya aku telah membaca kutipan dari Iman Syafii.
Sampai kemudian aku membaca kutipan dari Bill Gates, aku sadar bahwa aku telah
melakukan kesalahan besar. Aku memang merasa bodoh setiap aku mengetahui akan
suatu hal. Tapi aku terlalu sombong untuk terus merasa bodoh. Aku terlalu
sombong sampai merasa aku begitu pintar. Nyatanya.. aku adalah orang yang
sangat bodoh.
Menyadari hal itu, aku mencoba untuk mengubah
mindsetku dengan selalu ingin tahu, banyak bertanya, karena aku masih bodoh. Dan
sungguh aku tidak ingin merasa bahwa aku ini pintar dengan selalu merasa rendah
hati dan tidak bersikap cuek pada apapun yang ingin aku ketahui.
Aku terlalu percaya diri dan merasa pintar. Sampai
aku mengacaukan ujian psikotes, sampai aku mengacaukan ujian online TPA, sampai
aku mengacaukan ujian TKB. Dan aku mengacaukan setiap kesempatan yang datang
padaku.
Aku hampir gila saat sebelum menyadari
kesalahanku. Di awal tahun 2015, aku mencoba untuk bangun dan memohon
dimudahkan segala urusanku hari itu. Tuhan menjawabnya dan membuatku bisa
mengikuti tes di salah satu rumah sakit pemerintah. Tesnya lumayan gampang dan
aku (lagi-lagi) merasa terlalu mudah. Dan tidak percaya ketika pihak rumah
sakit mengatakan bahwa nilai tes tertulis kami begitu rendah. Di titik ini, aku
merasa seperti aku akan mendapatkan pekerjaan ini. Namun yang terjadi adalah
aku menolaknya. Dengan tindakan bodoh itu aku tidak bisa tidur nyenyak selama
beberapa hari.
Sekuat
apapun kamu berusaha, kalau itu bukan untukmu maka itu tidak akan menjadi
milikmu.
Aku lupa membaca kalimat ini dimana. Setelah
tidak ikut wawancara terakhir dengan pihak rumah sakit. Aku mencoba
keberuntungan dengan mendaftar di salah satu bank. Aku sudah bertekad untuk
tidak terlalu cuek dan sombong. Aku ini bodoh dan aku ini lapar. Tapi aku akan
melakukannya dengan cara yang elegan. Sambil menunggu giliran tes, hatiku
berdebar dengan begitu keras. Aku mencoba menenangkan diri dengan berpikir
bahwa ini hanya tentang bertanya dan menjawab. Giliranku tiba dan aku menjawab
dengan setengah gugup. Setelah itu, aku kembali menyerahkan pada Tuhan. Aku
sudah berusaha sekuat tenaga. Seminggu kemudian aku dipanggil untuk tes
selanjutnya. Alhamdulillah aku bisa tiba pada wawancara akhir (lagi). Aku sudah
berjanji tidak akan mengacaukannya dan berjanji akan ikhlas apapun yang Tuhan
putuskan nanti.
Allahuma
Qoni’ni bimaa razaktani wabariklifihii wakluf alaa kuliqoibatin libii khairii..
Dua hari
kemudian, aku tahu bahwa aku tidak lulus. Bahwa aku kembali menemui kegagalan.
Awalnya aku tidak ingin menangis. Tapi air mataku mengalir begitu deras. Dibanding
semua tes yang pernah aku lalui, tes kali ini aku mempersiapkannya dengan
sangat baik. Aku mempelajari hal-hal yang dulu membuatku gagal di psikotes dan
wawancara. Aku berhasil mengatasi rasa gugupku setiap wawancara. Aku bisa
menjawab dengan sangat tenang. Dan hasilnya.. menyedihkan.
Aku percaya bahwa dibalik kesulitan itu ada
kemudahan. Dan aku percaya bahwa sekuat apapun kita berusaha kalau itu bukan
untuk kita maka tidak akan terjadi. Yang bisa kita lakukan mengambil hikmah
dari perjalanan panjang dan melelahkan yang sudah kita lakukan.
Jangan membandingkan hidup kita dengan hidup
orang lain.
Sudah
Dikabulkan
Karena kecewa. Aku mencoba mencari-cari
tulisan tentang rejeki yang tidak akan tertukar. Aku lupa mencatat nama
blognya. Yang aku ingat hanya isi dan pekerjaan si penulis. Beliau adalah
motivator. Ia mengatakan bahwa yang namanya rejeki itu memang tidak akan
tertukar. Allah sudah memporsinya masing-masing pada kita. Ia mengatakan bahwa
rejeki itu terbagi dua, yaitu rejeki yang memang rejeki kita dan rejeki yang
datang dari kemurahan hati Allah pada hambanya yang taat. Aku mengerti
sekarang, mungkin Allah sedang menyiapkan rejeki yang tidak akan tertukar dan
untuk mendapatkan rejeki dari kemurahan hati Allah istilahnya bonus, maka aku
harus lebih menyanyangi-Nya, Allah SWT.
Tapi sebelum dari semua itu, ia mengatakan
bahwa seharusnya kita selalu bersyukur. Karena tanpa kita sadari sebenarnya
Allah telah mengabulkan doa-doa kita. Mungkin bukan doa-doa yang besar seperti
ingin punya mobil atau rumah atau naik haji. Tapi Allah mengabulkan doa-doa
kita yang sangat kita butuhkan. Misalnya ketika meminta keberanian maka Allah
kabulkan dan tanpa kita sadari kita menjadi lebih berani. Pun seperti kita
meminta ketenangan hati dan kesabaran. Allah langsung mengabulkannya. Terbukti setelah
kita berdoa padaNya, kita menjadi lebih tenang dan sabar dari sebelum kita
berdoa.
Allah SWT tidak hanya mendengar doa kita yang
keluar dari bibir, Allah juga mendengar suara hati kita. Allah tahu mana yang
baik untuk kita sementara kita tidak tahu, karena Allah Maha Mengetahui. Maka
ketika kita tidak diberi yang kita inginkan percayalah Allah akan memberi yang
kita butuhkan.
Dan Allah menggenggam semua doa yang satu per
satu akan Allah kabulkan di waktu yang tepat. Percayalah...
Believe Than
Seeing It’s Amazing
Aku selalu percaya bahwa perempuan yang
sholehah akan mendapatkan laki-laki shaleh. Awalnya aku hanya melihat di
televisi seperti kisah Oki Setiana Dewi dan suaminya yang bertemu lewat jalan
Allah, Ta’aruf. Lalu kemudian aku melihat sesuatu yang lebih nyata lagi. Tetanggaku
yang sejak kecil selalu menjadi teman main mendapatkan seorang suami yang
shaleh lewat jalan Ta’aruf dan teman dekatku yang sholehah juga mendapatkan
seorang suami lewat jalan Ta’aruf.
Ini kutipan dari Ust. Felix Siauw dari akun
twitternya, bahwa mempercayai kemudian menyaksikan itu sangat istimewa
dibandingkan menyaksikan kemudian mempercayai.
Sama seperti kemudian aku percaya bahwa
pertolongan Allah itu amat dekat. Aku percaya bahwa suatu saat Allah akan
memberikan yang terbaik untukku. Seperti kata Ali Bin Abi Thalib Radiallahu anhu : Yakinlah ada sesuatu yang
menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuatmu
terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit.
Ya, percayalah pada Allah. Allah Maha
Mengetahui dan Allah Maha Pemurah.
Alhamdulillah. Meskipun belum mendapatkan
pekerjaan. Allah telah membukakan satu jalan yang sejak awal lulus kuliah aku
perjuangkan. Yaitu kesempatan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Ini
bukan akhir dari rasa sabar dan penantian yang panjang. Ke depannya mungkin
akan lebih berat karena aku harus kembali belajar lagi. Tapi Insya Allah ini
adalah jalan terbaik yang dipilihkan oleh Allah. Semangat!! Keep Believe in
ALLAH SWT.

Comments