Sepenggal Kisah Horor Kamar Kos (2)
![]() |
| salah satu hantu di film horor jepang Juon |
Dua—Anak Kecil Di Kamar Mandi
Masih dengan kisah serupa. Cerita mistis yang
digemari seseorang yang belajar ilmu kesehatan. Hidup di masa kini namun
pikiran masih mistis. Ahahah...
Saat pertengahan semester, tugas kuliah
menjadi sebuah makanan wajib yang tidak bisa ditinggalkan. Ibaratnya seperti
orang indonesia yang belum kenyang sebelum makan nasi. Mahasiswa bukanlah
mahasiswa tanpa tugas kuliah yang menumpuk. Sebenarnya tidak terlalu banyak
kalau tidak kita tunggu sampai deadline. Kebanyakan dari kita selalu
mengerjakannya satu hari sebelum di kumpul. Jadi ya, gitu deh. Kita bisa
begadang sampai larut malam.
Dan seperti isi begadangnya mahasiswa,
kebanyakan diisi dengan bengong di depan laptop yang sebagian besar tahu bahwa
itu terdiri 80% internetan dan sisanya buat nyari tugas. Atau mungkin hanya
memegang gadget sambil berselancar di media sosial. Lalu saya? Mm.. sebagai
orang yang tidak bisa hidup tanpa wifi dan laptop tentu saja saya bisa berada
di depan laptop dengan wifi aktif sampai lupa waktu.
Sudah lama saya tidak menggunakan kipas angin
di dalam kamar, jadinya untuk membuat udara kamar tidak terlalu panas saya
selalu membuka pintu dan jendela lebar-lebar. Biar sudah malam sekalipun. Toh
saya berpikir kos ini aman. Koridor di luar kamar selalu tampak gelap karena
tidak ada lampu. Dulu sebelum bangunan sebelah meninggikan gedungnya, tanpa
lampu pun koridor tidak terlihat gelap karena langsung disinari oleh sinar
rembulan. Namun setelah pondokan sebelah meninggikan gedungnya menjadi dua
lantai, koridor depan kamar segelap dunia hitam. Yang meneranginya adalah bias
sinar lampu dari masing-masing kamar yang membuka pintunya.
Kadang saat sedang lelah mengerjakan tugas
saya bisa tertidur dengan lupa menutup pintu atau tidak menutup rapat. Pernah teman
saya menegur sikap burukku itu. Karena bagaimanapun kejahatan itu terjadi bukan
hanya karena ada niat pelakunya tetapi karena ada kesempatan (haha!). Jadi saya
disarankan untuk lebih berhati-hati.
Suatu malam, saya lupa di tahun keberapa saya
kuliah. Saya tertidur dengan lupa menutup pintu. Pintu kamar saya masih
setengah terbuka. Saat saya terjaga dan mungkin masih dalam keadaan antara
sadar dan terlelap, saya melihat sesosok anak kecil yang berlari masuk ke dalam
kamar mandi saya. Ia berlari dengan baju putihnya dari pintu kemar terus ke
arah kamar mandi kecil yang ada di dalam kamarku. Sejujurnya saya takut, tapi
anehnya saya hanya menatap dinding putih sambil memikirkan apa yang saya lihat
tadi adalah kenyataan atau hanya efek baru bangun. Cukup lama saya memikirkan
hal itu sembari mengumpulkan keberanian untuk melihat ke dalam kamar mandi. Sebelum
mengintip ke dalam kamar mandi, saya ke luar ke koridor untuk melihat kamar
siapa yang masih terbuka pintunya. Buat jaga-jaga kalau tiba-tiba keberanian
saya luntur sehingga saya bisa berlari meminta pertolongan.
Rupanya tetangga saya masih membuka pintunya.
Saya melirik jam beker di atas meja yang menunjukan pukul setengah dua belas
malam. Masih terdengar tawa dan celoteh dari penghuni kos di depan. Mereka sepertinya
tidak pernah tidur. Baru saja saya hendak melihat ke dalam kamar mandi, telepon
saya berbunyi. Ada sms masuk dari teman yang menanyakan tugas. saya lupa kalau
tugas saya belum selesai karena diganggu oleh rasa kantuk. Akhirnya saya
memilih untuk mengerjakan tugas saja dibandingkan melihat ke kamar mandi. Apakah
benar ada anak kecil di sana? Atau itu hanya halusinasiku saja.
Sambil mengerjakan tugas saya menarik
kesimpulan bahwa itu hanyalah halusinasiku belaka. Tahulah saya orang yang
sedikit parno. Lagipula saya tidak berharap bisa melihat sesosok anak kecil di
dalam kamarku. Itu artinya saya harus segera mengangkat koper karena siapa sih
yang mau tinggal di kamar berhantu. Jadi saya buang jauh-jauh pemikiran bahwa
saya melihat sesosok anak kecil.
Kira-kira sewaktu saya semester dua. Saat itu
saya masih tinggal di asrama. Selain punya kamar di asrama, saya juga sudah
menyewa kamar kos di belakang asrama. Sekitar bulan mei adik saya datang untuk
mengikuti tes. Masa sewa saya di asrama juga hampir berakhir. Jadi saya dan
adik saya tinggal di kamar kos saya. Kamar kos saya itu terletak di belakang
asrama. Untuk menuju kesana dari jalan utama bisa melalui asrama blok 1 yang
bagian belakangnya belum tertutup. Atau yang lebih ekstrim adalah lewat samping
asrama yang disisi jalannya ada pohon mangga yang amat besar. di sebelah kiri
jalan itu adalah asrama unit 2 yang tidak ditinggali. Kalau malam jalan setapak
itu sangat gelap. Meskipun jika terus ke dalam ada banyak pondokan mahasiswa.
Suatu malam, saya dan adik saya berkunjung ke
pondokan kakak sepupu yang ada di luar kampus.. Kami ngobrol sampai lupa hari
sudah malam. Bukannya langsung pulang, kami malah mengobrol hal lainnya. Sampai
akhirnya kakak itu menceritakan sesuatu yang membuatku tidak berani pulang.
“Udah jam berapa nih?” tanyanya. Saya melirik
jam di hape yang sudah menunjukan pukul delapan malam.
“Baru jam delapan.”
“Mau pulang jam berapa emang? Nanti gak ada
angkot masuk situ loh.”
“Ada kok kak.” Ini kakak kayak ngusir ya? Haha
“Oh masih ada. Baguslah. Jangan pulang
cepat-cepat.”
Kami tertawa.
“Dulu saya pernah kos disitu juga loh.”
“Oh ya kak? Di dekat mana?”
“Bukan di gang tempat kos mu itu. Tapi yang
disebelahnya,” jelasnya. “Di dekat pohon mangga besar itu kan ada jalan masuk
yang ada danau. Disitu.”
Saya mencoba mengingat-ingat lokasi itu. Tapi
karena belum pernah ke gang sebelah jadi bayanganku hanya sampai pada pohon
mangga.
“Terus kenapa pindah kak?”
Kakak itu kemudian menatap kami dengan
serius. Saya mulai merasakan bahwa ia akan bercerita hal-hal yang aneh. Benar saja,
ia mulai berkisah tentang pengalamannya selama tinggal di salah satu pondokan
di sana. Kakakku itu ternyata punya indra keenam. Ia tidak seperti manusia
normal. Ia terlahir dengan bisa melihat hal-hal yang gaib. Makluk halus.
Dia bercerita tentang pengalamannya melihat
sesosok anak kecil yang duduk di depan pintu kamarnya. Sebenarnya sejak pertama
tinggal di situ, ia sudah merasakan aura-aura mistis. Lalu suatu hari, saat ia
sedang mengetik tugas di mesin ketik ia melihat sesosok anak kecil dengan
kepala botak duduk di depan pintu kamarnya, menyaksikan bagaimana kakak itu
mengetik tuts-tuts mesin ketik yang menghasilkan suara bising itu. Sontak saja
kakak itu kaget. Ia segera keluar dan mengetuk pintu kamar sebelahnya. Malam itu
ia nginap di sebelah.
Bukan satu kali saja ia melihat sosok anak
kecil berkepala botak itu. Beberapa kali ia juga melihat anak kecil itu. Hingga
ia tidak berani membuka pintu di malam hari. Selain sosok anak kecil, ia juga
sering mendengar tangis perempuan. Itu salah satu alasan ia memutuskan untuk
pindah. Selain satu alasan lain yang belum ia ceritakan.
Baru cerita pertama, saya sudah menarik
tangan adikku untuk pulang. Tapi ceritanya belum selesai.
Seingatku, karena kisah anak kecil di depan
pintu itu, saya terlalu terbayang melihat anak kecil yang duduk di koridor
depan pintu kamarku. Tapi itu hanya imajinasi. Anehnya kenapa saya saya harus
melihat anak kecil perempuan yang berlari ke dalam kamar mandiku. Ah, cerita
kakakku itu sebenarnya masih banyak. Dan salah satunya membuatku sering
berhalusinasi melihat anak kecil di depan pintu.

Comments