Sepenggal Kisah Horor Kamar Kos (3)

TIGA—Yang Membuatku Pindah Kos

Sebelum tinggal di pondok ilmu. Saya tinggal di pondok Oranye yang letaknya di belakang asrama. Harganya lumayan murah dengan air bersih yang mengalir terus sampai tertumpah-tumpah. Dari segi harga sebenarnya cocok sekali untuk kantong keluargaku. Tapi karena letaknya yang jauh dari kampusku membuat saya mempertimbangkan untuk pindah. Hanya saja kakakku yang saat itu berkisah tentang anak kecil di depan kamar kosnya memberikanku dorongan untuk segera pindah.

“Eh.. jangan pulang dulu. Baru juga setengah sembilan. Masih pagi,” cegahnya saat selesai berkisah tentang anak kecil.
Saya mengurungkan niatku untuk pulang. Bukan karena setuju dengannya. Tapi karena saya mulai takut untuk pulang. Apalagi mengingat gelapnya jalanan yang dekat pohon mangga itu.
Ia kemudian bercerita tentang rahasia lokasi pondokanku itu.
“Kamu tidak pernah cerita tentang daerah itu, ya?”
“Apaan kak?”
Saya pernah mendengar tentang hantu khas sulawesi selatan. Mereka menyebutnya poppo. Bentuknya hanya pernah saya lihat pada film-film horor thailan. Yaitu hantu yang terbang dengan hanya kepala dan isi perut saja. (duh, sambil nulis ini saya sampai merinding).
“Menurut cerita orang-orang di sekitar situ. Ada bapak-bapak yang tinggal di situ yang sebenarnya adalah seorang poppo.
Saya dan adikku mengerutkan kening. “Apa itu kak?”
“Ituloh hantu yang bisa terbang-terbang. Ia bisa memakan manusia. Organ dalam manusia.”
Oke, sampai di situ sebenarnya takut tapi juga ingin tertawa. Saya tidak percaya sama hantu-hantu seperti itu.
“Masa sih kak?” tanya adikku gemetaran. Mungkin ia agak menyesal datang ke sini dan tinggal bersamaku dilingkungan seperti itu.
Kakakku itu menangguk. Ia melanjutkan kisahnya. Menurutnya bapak-bapak itu sering terlihat sore-sore hari di dekat jembatan kecil sebelum masuk daerah pondokan. Saya tahu jembatan itu. Lebih tepatnya jembatan kecil di atas parit besar yang memisahkan tanah kampus dan tanah warga. Saya tidak begitu tertarik dengan cerita poppo. Di daerahku ada hantu yang juga bisa terbang dan bisa menjelma sebagai manusia. Mereka menyebutnya suanggi. Saya takut juga sih sama itu dan berharap tidak pernah melihat itu.
Daerah pondokanku itu memang lebih banyak ditinggali sama warga dibandingkan mahasiswa. Berbeda dengan pondokan baruku. Jalanan ke sana pun masih berbatu dan seperti pedesaan. Untuk sampai ke pondokanku saja kalau malam sangat menyeramkan. Saya harus melewati pondokan yang terbuat dari kayu dan papan yang tidak berpenghuni. Untuk saja pemilik pondokanku selalu ada di kos jadi saya tidak takut kalau sendirian. Kalau takutpun saya memilih untuk tidur di asrama yang ‘agak’ ramai.
Kakakku melanjutkan ceritanya. Kali ini ia menyinggung pohon mangga yang ada di tepi jalan setapak dari jalan utama. Bagian ini yang membuatku sangat takut. Sebagai penggemar film horor, menurut saya film horor yang menakutkan itu adalah film horor indonesia. Bukan dari segi ceritanya sih karena hanya beberapa film horor yang menurutku menyajikan cerita yang bagus dengan hantu yang menyeramkan. Tapi dari segi hantu yang ditampilkan. Kalau film horor barat maupun asia saya tidak terlalu takut, karena menurutku hantu jenis itu hanya ada di daerah mereka. Berbeda hal nya dengan hantu indonesia, they here man! Hiiiiiy!
Dulu saya pernah nonton film Pocong 2 di siang bolong sendirian. Karena takut saya menontonnya dari ruang tamu dengan pintu terbuka lebar. Sementara televisi ada di ruang tengah. How i’m scared!. Bagiku film horor indonesia yang paling menyeramkan itu adalah “Kuntilanak” yang diperankan oleh Julie Estelle dan Evan Sanders (lupa). Meskipun sosok kuntilanaknya jauh berbeda dengan apa yang mereka bilang tentang kuntilanak. Yaitu berbaju putih dan berambut panjang sih. Tetep aja menyeramkan. Yeah! Saya sebenarnya takut sama itu...
Dan kakakku mengisahkan kisah terakhirnya tentang “itu”. Saya langsung memutuskan untuk tidak pulang dan menginap saja malam ini. Tapi adikku menolak. Ia memaksaku untuk pulang. Tidak enak juga menginap di rumah kakak. Jadi kami memberanikan diri untuk menembus malam. Berhubung bagian belakang blok 1 belum dipagar jadi kami bisa lewat asrama malam itu. Setidaknya kami tidak harus melewati jalan setapak yang ada pohon mangganya dan ada...

gambarnya kecil aja yaa.. soalnya saya takut
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Saya mengurungkan niatku untuk pindah dengan berat hati. Pertama karena belum mendapatkan kos baru, kedua karena saya males ngangkutin barang. Jadilah saya berada di kampung halaman, berlibur.
Selama berlibur, pikiranku tidak tenang. Masih ada satu bulan sebelum waktu membayar kos. Saya ragu sekali untuk tetap tinggal di situ. Itu semua karena cerita kakakku. Yang mengatakan bahwa di pohon mangga itu tinggal sesosok hantu berbaju putih dan berambut panjang. Malam-malamku di kampung kuhabiskan dengan memikirkan bagaimana kelanjutan hidupku kalau saya tetap tinggal di kos itu. Saya membayangkan ketika harus pulang malam atau keluar malam dan pagar di belakang asrama sudah tertutup sehingga satu-satunya jalanku masuk dan keluar adalah melewati jalan setapak dan pohon mangga itu.
Itu semua karena cerita kakakku itu. Ia mengatakan bahwa sosok hantu berambut panjang dan berbaju putih itu sudah diketahui oleh sebagian penduduk di sana. Kerap kali saat ada penduduk yang melaju dengan motor sendirian, tiba-tiba saja ia merasa bagian jok belakangnya berat. Saat ia berbalik, ternyata ada sesosok perempuan berbaju putih dan berambut panjang yang duduk di sana.
Mungkin saya yang terlalu lebay. Toh masih banyak penduduk daerah situ yang tidak pindah. Tapi saya yang terlalu takut. Akhirnya satu minggu sebelum masa kos berakhir, saya memutuskan kembali ke sana dengan memboyong adikku. Memilih untuk pindah dari sana sebelum saya tidak akan pernah keluar pada malam hari. 



Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y