Sepenggal Kisah Horor Kamar Kos (4)
EMPAT—Raungan
Dari Bawah Tangga
![]() |
| hantu pada drama korea The Master Sun |
Kami menempati rumah itu selama enam minggu
sejak praktek lapangan yang pertama. Dua minggu yang pertama dan kedua kami
lalui dengan baik-baik saja. Sebenarnya dua minggu terakhir juga baik-baik
saja. Tapi ada satu kejadian yang agak seram di hari-hari terakhir kami di
sana.
Saya tidak akan pernah lupa. Rumah besar yang
kami tempati ini cukup besar untuk dua orang tua yang tinggal di dalamnya.
Sepasang kakek-nenek. Bagian lantai dua yang diberikan pada kami juga tampak
berdebu karena tidak ditinggali. Selama praktek lapangan kami tinggal di lantai
dua rumahnya. Dulu tempat itu adalah tempat tinggal anak-anaknya yang kini
sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri.
Rumah ini punya tiga kamar mandi kayaknya.
Satu di dalam kamar utama, satu di lantai satu, dan satunya di lantai dua.
Karena kami cukup banyak, jadi kami juga sering menggunakan kamar mandi di
lantai satu. Kami tidak pernah merasa takut tinggal di rumah itu. Apalagi pemilik
rumah setiap subuh selalu bangun membaca ayat-ayat suci. Saya juga tidak tahu
kenapa di hari-hari terakhir saya harus mengalami hal-hal yang menyeramkan itu.
Ceritanya begini. Malam itu sebagian anggota
kami keluar untuk mencari udara segar. Sebagian lainnya bermain game sampai
larut malam. Dan yang lainnya yaa melakukan hal-hal lain yang mereka senangi.
Saya memilih untuk tidur setelah menonton drama. Sebelum tidur ada pesan masuk
dari temanku yang sedang keluar. Ia mengatakan untuk jangan mematikan hape agar
mendengar telepon mereka saat sudah di depan rumah. Untuk membuka pagar. Mungkin
mereka akan pulang larut malam.
Kira-kira pukul tiga subuh. Saya terbangun
sejenak. Saya melihat teman-teman yang tadinya bermain game mulai merapikan
laptopnya. Mencuci kaki, mematikan lampu dan menarik selimut. Namun baru
beberapa menit telepon berbunyi. Ternyata teman kami baru akan pulang. Karena
takut sendirian jadi saya meminta teman saya yang baru selesai main game untuk
menemani.
“Temani ke bawah donk,” kataku padanya. Ia
membuka mata ngantuknya pelan lalu bangkit untuk mengikutiku. Kami tidak
menyalakan lampu karena itu akan mengganggu kenyenyakan tidur yang lainnya.
Jadi bermodalkan senter di hape, kami menyusuri tangga menuju ke lantai satu.
Kami berpegangan tangan pelan-pelan menuruni
tangga. Tidak memiliki firasat apapun. Lalu saat tinggal dua tangga lagi, tiba-tiba
kami mendengar suara raungan yang amat keras dari bawah tangga. Tidak tahu dari
mana raungan itu. Yang kami tahu raungan itu membuat kami naik kembali dengan
tergesa-gesa. Saking takutnya, teman saya sampai tertinggal di belakang. Ia
terduduk di bawah tangga seperti kakinya sulit untuk digerakkan. Saya menarik
tangannya agar ia terus bergerak. Udara dingin seketika menyentuh tengkuk leher
kami. Dari tangga aku melihat sesosok orang yang berlari di lantai atas. Bukan
hantu. Itu teman kami yang baru selesai shalat tahajud. Ia masih mengenakan
mukena, berlari ke arah saklar di dekat tangga. Lalu bertanya pada kami.
“Ada apa?” tanyanya juga panik.
Saya masih menarik tangan temanku. “Kamu gak
dengar?”
Ia bergegas turun dan membantu kami untuk
naik ke atas. Tatapannya menyiratkan bahwa ia juga mendengar suara itu.
Beberapa teman kami membuka mata pelan, lalu tertidur kembali. Teleponku
berdering lagi.
“Itu tadi apaan ya?” tanyaku. Tidak kugubris
dulu telepon itu.
Temanku menggeleng. Masih syok.
“Kamu dengar juga kan?” tanyaku pada temanku
yang masih bermukena.
Ia mengangguk tapi tidak yakin.
Teleponku berdering lagi.
“Saya nggak berani ke bawah nih. Gimana donk?”
Kami saling berpandangan. Bingung. Mau membangunkan
yang lain tapi tidak enak. Mau memberanikan diri tapi takut.
Kami berdiri dari lantai dua, melihat
gelapnya lantai satu yang harus kami lewati. Apalagi raungan bak macan itu
terngiang terus di kepalaku. Tidak akan saya lupakan. Kami masih takut untuk
turun. Tapi teman kami akan terkunci di luar. Akhirnya kami bertiga
memberanikan diri turun bersama-sama.
Sejak hari itu, saya tidak pernah lagi mandi
di kamar mandi di lantai satu. Dan untungnya itu terjadi dua hari sebelum kami
selesai praktik. Mungkin saja itu adalah salam perpisahan dari seseorang yang
tidak bisa kami lihat di dalam rumah itu.

Comments