Sepenggal Kisah Horor Kamar Kos (5)

sumber :

LIMA—Mereka Mengetuk Dinding Di Malam Hari

Cukup satu saja saya mengenal orang dengan indra keenam. Kakak sepupuku. Namun saat mengikuti praktek lapangan di suatu desa, salah satu anggota kelompok kami adalah seseorang yang bisa melihat “itu”.

Malam itu kami masih asyik menonton televisi sekaligus bersenda gurau. Lalu dari pintu depan kami mendengar suara ayat al-quran yang diputar melalui hape. Makin lama makin besar suara itu, juga suara langkah kaki yang semakin terburu-buru.
Dua orang temanku muncul. Dengan wajah datar yang tidak bisa ditebak. Mereka hanya diam sambil pelan-pelan mematikan suara ayat al-quran itu.
“Ada apa?” tanya kami. Mereka masih diam.
“Suruh temanmu datangnya rame-rame. Jangan sendirian,” kata temanku yang satu pada temanku yang memegang hape.
“Ada apa?” tanya kami lagi. Masih belum mengerti. Temanku mengeluarkan sebuah ponsel blackberry.
“Kami menemukan hape jatuh di jalan.”
Kami mencoba mencerna penjelasan singkat itu. Namun tidak mengerti mengapa keduanya tampak ketakutan. Tidak mungkin kan mereka mencuri hape? Haha
Beberapa menit kemudian, beberapa orang dari tim sebelah datang untuk menjemput salah satu rekannya yang tadi bersama-sama temanku. Setelah mereka pergi, barulah temanku membuka suara. Meskipun agak tidak enak dengan kami. Yang tentunya ceritanya itu akan membuat kami ketakutan.
“Tadi di jalan pulang kami diikuti,” katanya pelan.
“Sama siapa?”
Dia diam. Kami mengerti maksudnya. Dia sebelumnya sudah mengatakan di malam pertama kami di posko. Bahwa dia punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Itulah mengapa malam ini mereka datang dengan ketakutan. Siapa yang tidak takut ketika di dalam mobil yang hanya diisi oleh dua orang ternyata ada seorang lagi yang duduk di kursi belakang. Malam hari saat membelah jalanan desa yang sunyi senyap. Mungkin kalau aku yang berada di atas mobil saat itu sudah berteriak ketakutan.
Siang hari tadi, ia dan teman dari tim sebelah mengikuti rapat di pusat kabupaten. Mereka berdua pulang sudah malam. Di tengah jalan menuju desa, mereka melihat sebuah ponsel yang jatuh dari atas motor. Pemiliknya tidak sadar. Melihat itu, temanku langsung berhenti dan memanggil si pemilik motor. Namun motornya terus melaju tanpa perasaan. Di sisi lain ada sebuah truk yang hendak melintas di atas hape itu. Kontan saja temanku turun dari mobil dan membuat sedikit keributan. Ia mencoba mengambil handphone itu sebelum tamat digilas roda truk. Malangnya, keributan itu terjadi di depan sebuah lahan pohon bambu. Dimana kita tahu bahwa banyak makhluk asing yang memiliki rumah di pohon bambu. Maka, keributan itu sedikit mengusik salah satu penghuninya. Dengan tampang iseng, salah satu penghuninya naik dan duduk di kursi belakang mobil.
Mungkin ya, mungkin, kalau temanku tidak bisa melihat ‘itu’ dan salah satu dari keduanya tiba-tiba diam dan merenung bisa berakhir dengan kegilaan yang mengerikan. Kerasukan misalnya. Si penghuni bambu pun menyadari bahwa matanya bertemu dengan mata temanku yang artinya you uninvisible nek! Hehe..
“Kamu ngomong terus ya, jangan diam. Tuh muter surat Yasiin dari ipad,” kata temanku yang langsung dipahami oleh rekannya bahwa ada hal-hal aneh yang tengah mengikuti keduanya.

Oh man! Mendengar itu saya langsung tidak berani ke kamar mandi. Takutnya yang ngikutin mereka juga masuk ke dalam rumah.
“Nggak kok. Aneh sih, tapi kayaknya rumah ini sudah di doa-doa. Soalnya dia nggak berani deket-deket.” Temanku mencoba menenangkan kami. Entahlah itu benar atau hanya alasan supaya kami tidak takut. Dan saya lebih memilih untuk mempercayai bahwa itu benar. Toh saya nggak bisa lihat dia. Haha

Ternyata hidup dengan kelebihan seperti itu tidak enak ya. Saya yang parno sebenarnya ingin sekali bisa melihat makluk ghaib. Misalnya makluk yang paling saya takutin, mbak Kunti. Hiiy. Tapi ternyata enggak enak.
Suatu malam kami bertiga yang sekamar dengannya lumayan kepo tentang pengalamannya dengan hal-hal ‘itu’. Dia pun membagi kisah duka nya tentang kelebihannya itu. Yang salah satu kisahnya membuat terdiam cukup lama. Antara takut dan bersyukur tidak punya kelebihan seperti itu.
Ia pernah pindah ke rumah baru. Sebelum dibayar, ia menemani mamanya untuk cek lokasi. Rumahnya besar. Pas pintu depan di buka, yang dilihat mamanya adalah rumah layaknya rumah. Namun yang dilihatnya adalah beberapa dari penghuni rumah yang adalah makluk-makluk gaib berdiri menyambut mereka. Awalnya dia sudah menolak untuk tinggal di situ, tapi saya lupa karena apa akhirnya mereka sekeluarga pindah ke rumah itu.
Dia mendapat satu kamar yang udaranya tetap panas meskipun sedang mendung. Tau dong maksudku? Hahah... lalu suatu malam, di tengah-tengah terlelapnya ia tidur. Terdengar suara palu yang diketuk-ketukkan ke dinding. Awalnya dia mengira papanya atau siapalah tengah membutuhkan paku di dinding. Ia kembali tidur. Namun ketukan itu selalu terdengar setiap malam.
“Tok.. tok.. tok...”
Karena terus mendengar itu, ia akhirnya membuka matanya. Berjalan ke arah saklar dan menyalakan lampu. Namun betapa kagetnya dia ketika lampu menyala. Di salah satu dinding kamarnya tengah berdiri sesosok makluk gaib. Mata mereka bertemu yang membuat makluk gaib itu sadar bahwa ia terlihat oleh anak gadis itu. Lalu tangan makluk gaib itu diketukkan ke dinding hingga menghasilkan suara mirip ketukan palu.
Saat itu dia sadar bahwa yang didengarnya bukan ketukan palu biasa. Itu adalah ulah sesosok hantu. Saat itu saya juga sadar, bahwa mungkin saja suara yang saya dengar setiap malam di kos maupun asrama adalah....
Ya Tuhan.. sampai merinding saya mengingat malam-malam saya cuekkan suara ketukan palu itu. Saya bersyukur tidak tahu kebenaran itu dan bersyukur tidak punya kemampuan seperti temanku itu. Kalau tidak, mungkin tidurku tidak akan pernah nyenyak.
Seingatku temanku akhirnya pindah karena ia terus menerus sakit sejak tinggal di rumah itu. Saat saya kembali ke kos, sebenarnya sudah saya lupakan tentang itu. Cukup memberanikan diri saja. Karena bagaimanapun kamu harus berani. Dan ketika malam-malam tiba-tiba kudengar suara ketuka palu, saya menyalakan handphone, memasang headset di telinga, menutup mata dan telinga dengan bantal. Lalu tertidur nyenyak setelah berkata riang dalam hati, “I can’t hear you!! Uhuhuu...”  Hahahahaaha

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y