Sepenggal Kisah Horor Kamar Kos (6) (udeeh)
ENAM—Farewell
Ada sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa
kita baru akan menyadari keberadaan seseorang ketika seseorang itu telah pergi. Dimana kita baru akan sadar
bahwa selama ini orang tersebut sangat berarti ketika berada di sekitar itu.
Di dunia manusia, mungkin kalimat ini akan
menjadi kalimat penyesalan yang harus dicegah sejak awal. Berbeda dengan dunia
lain. Nampaknya kalimat itu sudah di antisipasi oleh mereka. mereka yang
tinggal di dunia lain menjadi potret nyata untuk sebuah kata invisble. Itulah
mengapa mereka sering kzl kzl KZL (alay dikit) ketika kita sebagai manusia
tidak menyadari kehadiran mereka atau tidak peduli. Sudah gitu, kita yang tidak
menyadari keberadaan mereka sebagai makluk yang bisa mengganggu kententraman
dan kenyamanan ini akan segera pergi. Misalnya meninggalkan suatu tempat dimana
makluk dunia lain telah bersusah payah memberikan gangguan kenyamanan namun tak
dipedulikan oleh kita manusia.
Maka muncullah semacam pesta perpisahan dari
mereka untuk kita. Seperti di cerita sebelumnya tentang raungan dari bawah
tangga di hari-hari terakhirku di tempat praktek lapangan. Kisah seperti itu
muncul juga di hari-hari terakhirku di kamar kos.
Aneh juga sih. Katanya kalau ruangan yang
selalu diisi dengan doa-doa akan kebal dari yang ‘begituan’. Saya jadi berpikir
bahwa seharusnya setiap orang yang akan memasuki kamar kos baru sebaiknya
menggelar semacam acara pindah rumah gitu. Apalagi untuk ruangan yang sudah
lama kosong. Biar yang tinggal pergi dulu nyari tempat lain.
Ceritanya gini. Siang menjelang sore lah saya
dan temen lagi nongkrong sambil ngomongin apa saja yang bisa buat tertawa. Ceritanya
kita semua sudah pada lulus. Jadi semua akan kembali ke tempat masing-masing.
Maklum anak rantau. Ini bukan semacam perpisahan sih. Soalnya kita memang suka
ngumpul untuk curhat baik itu di tempat saya ataupun di tempat lain.
Sambil baringan di lantai kita berbicara
mulai dari artis sampai masalah-masalah kampus yang dulu bikin nyeleneh. Tak
jarang kita semacam menyesal tidak melakukan suatu hal di masa lalu. Dan yang
paling sering dicurhatin cewek-cewek ya apalagi kalau bukan tentang cowok.
Hahahah
Pas lagi asyik-asyiknya cerita di tengah
kamar yang ‘agak’ berantakan. Dimana kabel cas-an dari gadget sampai laptop
yang berserakan. Terus bungkus camilan dari teh gelas (haha) dan
keripik-kerupuk sampai mangkok bekas bakso turut memperindah berantakannya
kamar ini. Kami masih asyik mengunyah dan berceloteh ketika ponselku berdering.
Hari sudah mulai sore dan matahari mulai
pulang. Kamar kosku mulai agak gelap. Dan ponsel yang berdering tentu bukan
suatu hal yang ‘wow’ atau membuat kita sampai takut. Yang membuat takut adalah
nama pemanggil yang tertera di layar ponselku itu.
![]() |
| ilustrasi |
![]() |
| dari one miss called. Panggilang tidak terjawab dari nomor mereka sendiri. Aiish.. serem nee |
“Hah?” Saya terkejut membaca namaku di layar
ponsel. Maksudnya apa nih? Kok saya nelepon ponsel sendiri? Saya melihat ke
arah temen saya yang masih bersikap biasa aja.
“Kenapa?” tanyanya.
“Ini kok saya manggil ponsel sendiri.” Saya
memperlihatkan layar itu padanya.
“Mungkin hape mu yang satu kali.”
Saya tersadar bahwa masih ada satu ponselku.
Tapi sadar bahwa masih ada satu ponsel itu yang membuat kita berdua bergidik.
“Lha terus? Kok bisa manggil sendiri?” tanya
kita berdua berbarengan. Dengan wajah panik saya mencari ponsel yang satu
ditumpukan barang-barang yang berserakan. Buru-buru sebelum panggilan ini mati.
Dan saya mendapatkan ponsel saya agak tersudut di bawah rak buku yang jauh dari
jangkau kami berdua.
![]() |
| salah satu scene serem di one missed call. meski tak ada hubungannya dg tulisan ini sih Hahaha |
Dengan hati berdetak saya membuka ponsel yang
bentuknya flip buka tutup. Dan betapa kagetnya kami ketika di layar ponsel
terlihat bahwa ponsel ini menelepon ‘sendiri’ ponselku yang satunya.
Oh My God! Sebagai manusia di zaman modern
dan mungkin yeah berintelektual mungkin masalah ini bis dijelaskan secara
ilmiah. namun otak kita memaksa untuk bingung dan mempercayai bahwa ada sesuatu
yang tidak beres di ruangan ini.
Bagaimana bisa ponsel flip jenis lipat dalam
keadaan ‘off’ bisa memanggil atau menelepon sendirian??
“Kamu kan?” tanyaku memilih untuk berlogika
ilmiah. “Ngerjain deh. Kamu kan yang nelpon?”
“Yaampun! Kamu juga lihat tuh ponsel ada
dimana,” temenku mengelak. “Tuh di bawah meja sana. Jauh dari saya!”
Iya juga sih. Walaupun temenku pelakunya itu
tidak akan berhasil kalau ponselnya dilipat kembali. Sebab ponsel jenis itu
sudah saya rubah pengaturannya dimana kalau dilipat berarti otomatis off
kecuali untuk lagu.
Jadi, siapa yang menelepon donk?
===
Sejujurnya saya sudah tidak takut lagi sama
hal-hal seperti itu. Saya seperti tahu bahwa ada makluk lain selain kita dan
hewan-hewan serta tumbuhan yang hidup di bumi ini. Yang saya tahu adalah saya
bersikap tidak peduli. Toh mereka gak kelihatan. Haha
Masalahnya mungkin kadang kita tidak sadar
telah mengusik keberadaan mereka. entah apa itu. Seperti cerita saya dimana
temen saya diikuti karena telah ribut di depan kediaman mereka. yeah, kali aja
ya kita tidak sadar telah mengusik mereka sehingga mereka sedikit berulah.
Yang jelas sampai saat ini saya belum
mengerti mengapa ponsel A saya bisa menelepon sendiri ke ponsel B saya.
Mengerikan? Yeah, sedikit. Tidak sampai membuatku langsung mempercepat waktu
pulang saya sih. Hanya membuatku sedikit merenung, mungkin saja saya kurang
membaca banyak doa di dalam ruangan ini sehingga mereka yang seharusnya merasa
panas dan terusir mulai tidak kepanasan dan mulai menetap di dalamnya.
Atau bisa juga itu semacam ‘farewell’ dari
mereka yang sudah saya usir dari dalam ruangan ini dengan doa-doa sejak saya
tinggal.
Atau bisa juga itu semacam ‘peringatan’ bahwa
setelah saya pergi mereka akan masuk kembali ke ruangan itu.
===
Sekianlah.
![]() |
| dapet salam dari samara |
![]() |
| and from mimiko |





Comments