Hujan Bulan Juni : Juni Yang Tabah




Dan diawali dengan melihat salah satu postingan teman dunia maya yang sama-sama menyukai dunia sastra, mataku terpana pada satu judul puisi, Hujan Bulan Juni. Ada apa dengan hujan bulan juni? Bukankah Juni sekarang adalah musim kemarau? Lalu, aku tahu bahwa penulisnya adalah orang sama dengan penulis puisi “Aku ingin”.

Meskipun tidak terlalu tertarik dengan dunia puisi (karena puisi buatanku sangat-sangat tidak bagus, haha), tapi ada beberapa puisi dan penulis yang membuatku klepek-klepek dengan kata-katanya. Misalnya Kahlil Gibran dan Sapardi Djoko Damono. Salah satu puisi SDD yang kusuka adalah “Aku Ingin” itu. Awalnya aku kira itu adalah puisi Kahlil Gibran, ternyata bukan. Tapi tak menyurutkan rasa sukaku pada tulisan penyair hebat itu.

Nah, setelah membaca puisi Hujan Bulan Juni dan belum tahu artinya apa. Biasanya arti sebuah puisi memang hanya dimengerti oleh si penulis. Sementara pembaca hanya bisa menginterpretasi dengan pengertian mereka sendiri. Seperti aku memaknai Hujan Bulan Juni sebagai sebuah kesedihan yang hanya terjadi di bulan Juni. Dan persis dengan kesedihan yang aku alami saat ini.

Di awal Juni yang seharusnya indah, aku mengalami kecelakaan yang kata temenku dari Makassar itu adalah “jatuh bodo-bodo” atau jatuh dari motor karena akibat yang sepertinya konyol. Dan memang sih. Bahkan para dokter yang datang melihat kondisiku akan tertawa ketika kukatakan sebab aku terluka dan akhirnya terbaring di rumah sakit.

Sedih. Akhirnya kutahu perasaanku tentang keadaanku yang awalnya tertawa-tawa saja mendengar lelucon teman-teman yang ingin menghibur bahwa sebenarnya aku sangat sangat sangat sedih. Truly heartlesslah. Dan di malam pertama aku di rumah sakit, air mataku jatuh berderai diam-diam membasahi selimut. Ya Allah... Tapi ada saja hal-hal yang perlu kita syukuri.
Aku masih hidup. Iya. Itu hal pertama yang perlu disyukuri. Allah masih memberikanku waktu untuk mengumpulkan bekal amal untuk di akhirat nanti. Kedua, kata dokter fraktur di kakiku tidak terlalu parah. Yeah walaupun itu adalah fraktur atau patah. Patah : ( But, aku percaya pada Allah. Allah tidak akan meninggalkanku. Dia akan menolongku. Ketiga, bertemu dengan orang-orang hebat yang sudah diseleksi dengan ketat oleh negara menjadi orang-orang pilihan generasi penerus bangsa yang selalu membantuku dalam kesusahanku saat ini adalah hal yang juga patut aku syukuri. Aku tidak tahu harus berterimakasih pada mereka dengan cara bagaimana atas semua yang sudah mereka lakukan untukku. Terima kasih banyaaak *ditulis dengan berderai air mata (di dalam hati) hehehe*. Juga buat temen SD yang setelah lima tahun baru ketemu lagi yang sudah mau meluangkan waktunya untuk menemaniku di RS dan aku repotkan. Thankyuu :* Keempat, memiliki orang tua dan sanak saudara yang selalu ada untukku. Meskipun aku belum bisa menjadi anak yang berbakti dan terus menyebabkan masalah, mereka tidak meninggalkanku (yeah namanya juga keluarga). Kelima, mungkin yeah, di balik musibah dan air mata yang aku keluarkan dan rasa sakit yang aku tahan adalah bertemu dokter-dokter cakep (huahahahahahah :D) Ini menjadi pertanyaanku dan teman-teman “Kenapa dokter ortopedi cowo semua?” Hahaha

Kecelakaan ini, musibah ini, adalah teguran dari Allah untukku. Kayaknya aku memang kurang bersyukur selama ini. Kayaknya memang begitu. Dan aku menerima dengan lapang dada apa yang sudah Allah tetapkan kepadaku. Karena aku yakin (selalu yakin) semua akan indah pada waktunya. Sebab sakit itu menggugurkan dosa. Dan apa yang sudah Allah tetapkan adalah baik untuk kita.

Di tengah-tengah kesedihanku, aku menyadari bahwa judul Hujan Bulan Juni dan sepenggal bait pertamanya adalah seperti yang aku rasakan saat ini. Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Yang aku artikan sebagai aku sangat tabah dengan air mata dan rasa sakit yang aku rasakan di bulan Juni ini.

Ternyata...
Apa yang aku interpretasikan sepenuhnya salah. Haha. Iya. Actually, aku sudah tahu bahwa puisi Hujan Bulan Juni adalah tentang cinta. Dan, berikut adalah penjelasan yang aku dapatkan dari sebuah blog.
Bait Pertama
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Makna : 

Menggambarkan seseorang yang dengan tabahnya menanti seseorang yang ia cintai. Ia memuji penantianya tidak ada yang lebih tabah dari penantiannya. Di bait pertama ini juga menggambarkan bahwa ia menyembunyikan rasa rindunya kepada seseorang yang indah yang ia cintai. Pohon berbunga itu diartikan sebagai seseorang yang indah yang dinanti.
Bait Kedua
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Makna : 

Menggambarkan penantian seseorang tersebut sangat bijak dan tak ada yang melebihi kebijakan penantiannya. Ia pun menghapus segala keraguannya dalam menanti dan mencintai seseorang tersebut.
Bait Ketiga
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Makna :

Menggambarkan pemujian kembali terhadap penantiannya. Ia mengatakan kembali bahwa tidak ada yang lebih arif dari panantiannya. Di bait ketiga pula digambarkan bahwa pada akhirnya penantiannya berbuah hasil manis. Cintanya diterima oleh seseorang yang ia cintai, dapat dilihat dari kalimat diserap akar pohon bunga itu. Dan ia membiarkan tidak terucap segala apa yang ia rasakan selama penantian.
Makna Keseluruhan atau Abstraksi Puisi "Hujan Bulan Juni"
Puisi "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi Djoko Damono menggambarkan tentang penantian seseorang kepada seseorang yang dinantinya. Dengan sangat tabah, bijak, dan arif ia menanti. Dengan merahasiakan segala rindunya, menghapus segala keraguannya dalam menanti. Akhirnya penantiannya berbuah manis. Ia mendapatkan seseorang yang dinantinya tersebut. Karena begitu tulusnya perasaan seseorang tersebut ia membiarkan tak terucapkan segala apa yang ia rasa selama menanti.

Suatu pesan yang tersirat setelah memaknai puisi "Hujan Bulan Juni" adalah bahwa :

"Sesungguhnya kekuatan cinta itu nyata"

Sumber penjelasan tentang puisi : http://www.smansax1-edu.com/2014/11/makna-puisi-hujan-bulan-juni.html

next : ulasan tentang puisi aku ingin :)

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y