JOGJA, semoga pilihanku untuk menghilang di sini, di restui...
Rasanya ada yang aneh dengan perjalananku
kali ini. Meskipun tetap di awali dengan antuasiasme dan tanpa rasa takut, tapi
aku merasa bahwa aku benar-benar percaya diri untuk hidup sendirian di sini.
Jogja yang ramai ternyata tidak seperti bayanganku. Keinginanku untuk hidup
bebas terhambat masalah kendaraan. Sesulit-sulitnya aku kesana kemari di
Jayapura, tetap tidak sesulit di Jogja. Di sini semua orang melaluinya dengan
berkendara. Public transportasi yang ada hanyalah Trans Jogja.
Yeah, rasa percaya diri yang kupupuk sejak
aku merasa sangat jatuh dalam lubang kegagalan, kembali sirna. Mungkin aku
telah berdosa. Yeah, memang aku telah berdosa. Melupakan visi dan misiku untuk
larut dalam kesenangan melihat dunia baru.
Tahukah, jatuh yang aku alami dulu membuat
enggan untuk berlama-lama di dalam kamar sekarang. Aku merasakan kesepian
mencengkeramku begitu mencium udara kamar kos. dinding-dinding yang membisu
membuatku ingin berlari. Suaraku, suaraku ingin kuteriakkan di dalam ruangan
tiga kali empat yang sempit. Semuanya lalu berubah dalam sehari. Rasa percaya
diriku sirna, suaraku hilang, senyumku pudar dan hatiku menangis. Allah Maha
Besar.
Ada satu hal yang aku herankan. Di saat aku
berjuang untuk tidak bergantung pada orang lain lagi, Allah malah menuntunku
untuk tetap bergantung pada orang-orang. Di dalam kamar rumah sakit yang penuh
aura kepasrahan pada segala bentuk cobaan dari Allah, aku berpikir bahwa
hidupku akan menyusahkan banyak orang sejak hari itu.
Aku ingin menghilang di keramaian Jogja.
Berbaur dengan orang-orang pekerja keras. Berbaur dengan anak-anak muda yang
penuh semangat. Berbaur dengan seniman jalanan yang penuh percaya diri. Berbaur
dengan nyamannya Jogja.
Masih bisakah aku menghilang di tengah
kehidupanku yang menyusahkan banyak orang ini? Sungguh, aku tidak berniat
menyusahkan banyak orang. Namun aku dituntun ke arah itu. Mungkinkah ini
teguran untukku yang selalu merasa hebat ‘sendiri’. Selalu merasa bisa
melakukan apapun sendirian tanpa bantuan orang lain. yang selalu membantu namun
tak ingin dibantu.
Sungguh, aku ingin menghilang di sini. Dari
hiruk pikuk dunia yang penuh wajah-wajah palsu. Penuh kemunafikan. Penuh tipu
daya.
Sungguh, aku ingin menghilang di sini. Dan semoga
Engkau (menengadah) merestuinya...

Comments