Pegawai RS* yang tidak paham penggunaan BPJS, salah siapa?
Untuk pertama kalinya dalam hidupku untuk di
rawat inap di RS karena masalah kesehatan yang cukup serius. Karena mengalami
fraktur cruris tibia fibula, aku harus di operasi. Namun, fatalnya, aku belum
membuat jaminan kesehatan sehingga mau tidak mau aku harus membayar sebagai
pasien umum sembari keluargaku menguruskan jaminan di BPJS kesehatan. Berharap
kelak kartu itu bisa aku gunakan untuk kontrol setelah operasi.
Dua minggu setelah operasi kartuku sudah jadi
dan aktif menurut peraturan baru BPJS. Dimana peraturan lamanya adalah kartu
aktif setelah 7 hari dari waktu pembayaran dan peraturan barunya adalah kartu
aktif setelah 14 hari dari waktu pendaftaran dan bisa langsung aktif tanpa
menghitung lagi 14 hari dari waktu pembayaran. Juga, BPJS telah meluncurkan
program e-ID untuk peserta BPJS untuk memudahkan peserta tanpa perlu mengantri
lebih lama di kantor BPJS.
Penjelasan itu aku dapatkan langsung dari
teman yang bekerja di BPJS. Maka dengan percaya diri aku berani ke rumah sakit
untuk melakukan pendaftaran dengan e-ID yang diprintkan oleh temanku dari
Surabaya. Saat di loket pendaftaran, pegawai rumah sakit mengatakan pada kami
untuk memfotokopi dahulu e-ID sebelum didaftarkan di bagian poli di lantai 2.
Setelah di fotokopi, kami segera ke loket poli lantai 2. Di sana pegawai
loketnya menyuruh kami fotokopi lagi berkas-berkas lain seperti rujukan dan
surat kontrol serta ktp. Setelah di fotokopi, setelah naik turun tangga,
petugasnya malah bilang kalau kartu ini belum aktif. Sebab, di bagian barcode
tertera tanggal 29 juni 2015 dan dinterpretasikan oleh petugas sebagai tanggal
bayar jadi kami harus menunggu 14 hari lagi. Padahal sesuai peraturan baru,
tanggal tersebut adalah tanggal aktif kartu. Dan alasan kedua adalah karena
e-ID hanyalah kartu sementara padahal sesuai peraturan BPJS kegunaan e-ID sama
saja dengan kartu BPJS yang fisik.
Mengalami pelayanan semena-mena dengan
menggunakan jaminan adalah hal yang sudah saya bayangkan, namun mengalami
langsung kejadian tersebut ternyata terasa sangat menyebalkan. Lebih menyebalkan ketika minggu depan di
loket yang sama (setelah menanyakan kepastian di BPJS center RS) kartu saya
ternyata sudah aktif sejak tanggal tertera (itu artinya minggu lalu sudah bisa
dipakai) dan sudah bisa digunakan. Sayangnya si bapak-bapak yang menolak kami
itu tidak ada. Biar dia melihat dan menyadari kalau dia keliru dan sepertinya
sengaja agar kami membayar sebagai pasien umum.
Terkadang, kita sebagai pasien yang tidak
tahu menahu prosedur pendaftaran dengan menggunakan jaminana kesehatan akan
menjadi kesal bila pelayananannya ternyata membuat kita harus naik turun tangga
berkali-kali, parahnya bila akhirnya ditolak. Pelayanan kesehatan di
tempat-tempat pelayanan kesehatan juga seharusnya menomorsatukan keramahan.
Bukankah kita yang menggunakan BPJS itu juga membayar setiap bulan, tidak sepenuhnya
gratis, yang ujung-ujungnya juga dinikmati para pekerja di pelayanan kesehatan.
Bahkan saat kita tidak sedang sakit, kita tetap membayar iuran. Lalu mengapa
para pelayan kesehatan di pelayanan kesehatan masih suka bersikap jutek dan
semena-mena?
Seandainya saja mereka ramah dan santun
seperti yang di wajibkan pada pelayan kesehatan, biarpun disuruh bolak-balik
kita tidak akan merasa kesal sebab disambut dengan senyum dan kemurahan hati.
Namun, jika pelayan kesehatan berkata dengan ketus dengan tatapan sini dan
senyum yang tak tampak sebab ditutupi dengan masker, siapa yang tidak kesal?
Saya pernah mengikuti tes pegawai di rumah
sakit, namun saya ditempatkan di loket. Saat itu saya menolak karena saya tahu
bekerja di loket tidak semudah menyambut tamu di pintu depan (dan tidak sesuai
keinginan saya). Loket tempat para pasien mengumpatkan kebingungan dan
kekesalannya. Namun, saat mengalami kejadian ini saya sadar bahwa kesalahan
bukan hanya ada pada pasien yang kurang mengerti alur pendaftaran, tapi juga
terletak pada para pegawai di loket yang tidak ramah, ketus, dan tidak up to
date terhadap informasi terbaru.
*kejadian di RSUP di Jogja

Comments