Jogja Nol Kilometer--2

Mata Najwa dan Anies Baswedan

Puas bermain uji nyali, kami bertiga pun mengisi perut di angkringan samping Alun-alun. Lumayan satu piring siomay dan es jeruk mengisi perut. Setelah anggota keempat kami datang, kami mendapat sebuah kabar menggembirakan dan mengesalkan. Ternyata, usut punya usut, penyebab macetnya Malioboro malam itu adalah karena acaranya Mata Najwa untuk Hari Pendidikan Nasional. Kami pun berpikir daripada menghabiskan waktu tak jelas di angkringan, ada baiknya kami segera meluncur ke Benteng Vrederbug tempat acara Mata Najwa digelar.

Dengan bermodalkan satu motor dan bonceng tiga, akhirnya kami berpindah dari Alun-alun Kidul ke Benteng Vrederburg. Jalan kami dipercepat dari lokasi parkir di depan Bank BNI. Buru-buru karena kami memiliki satu feeling tidak enak, yaitu acaranya sudah bubar. Begitu berada di depan Benteng, ramai para penonton mata najwa keluar dari tempat acara di helat. Lucunya, mereka pulang kami baru datang. Tapi tak apa, sebab sponsor acara ini masih menyajikan kopi panas dan sebungkus kota kue (hahaha). Meskipun sedih dan kecewa karena acaranya sudah berakhir. Lampu-lampu panggung mulai dimatikan dan penonton berjalan keluar, kami tak mau kalah. Foto besar Najwa Shihab yang terpapang di dalam menjadi sasaran orang untuk foto-foto.

Setelah puas berfoto-foto ria, kami duduk di pinggiran. Sembari merenungi nasib. Malam minggu yang salah jalan. Kami berpikir mungkin Mbak Najwanya masih di dalam. Atau bintang tamu yang tadi kami dengar suaranya membahana dari luar, yaitu Katon Bagaskara, masih berada di dalam. Lalu, kejadian lucu dan gila itu bermula dari situ.

Di seberang sana, ramai orang bersorak ria. Tampak seperti panitia-panitia yang senang acarnya sukses. Namun, dari kejauhan dan kondisi yang agak gelap, saya seperti mengenal sosok yang tengah berdiri diantara panitia itu. kayak pak Anies Baswedan, pikirku. Tapi mengapa dia berada di sini tidak aku pikirkan lebih jauh. Sejujurnya saya lelah hahaha. 

Tiba-tiba temenku berseru, Sinta, “Itu Katon!!” Dan serempak kita semua berlari meninggalkan bungkusan kue yang masih penuh, dan jaket, berlari ke gerombolan muda-mudi yang ingin berfoto dengan sosok pria mirip artis, berambut gondrong, berbadan gempal, yang kata Sinta adalah Katon Bagaskara. Sembari menunggu antrian untuk foto. Pikiranku melayang mencoba mengingat bagaimana sosok Katon Bagaskara yang saya lihat di televisi. Kayak bukan. Dan benar saja, begitu kami mendekat. Ternyata itu bukan Katon Bagaskara. Penonton kecewa. Dan kami tidak jadi foto.

Lalu, tiba-tiba, mata kami menangkap jelas sosok yang tadi dikerumuni. Feeling-ku benar. Itu bapak menteri, bapak Anies Baswedan. Tak tanggung-tanggung, kami segera menerobos dan berebut minta foto atau minimal salamanlah. Dan seperti artis ataupun orang terkenal, meminta foto dengan bapak Menteri, meskipun seramah dan sebaik Anies Baswedan itu tidak mudah. Berikut adalah foto-foto blur yang berhasil di dapatkan Itha (kasian Itha) fotografer kami malam itu selagi mendekat pak Anies Baswedan. Ah, bener-benar malam lucu. Meskipun tidak selucu saat Kak April menyeletuk setelah Pak Anies sudah berjalan mendekati pintu keluar.

“Itu siapa sih?” kata Kak April. “Kenapa kita ngejar-ngejar dia?”
Aku sama Sinta langsung menatap heran, aneh, dan tidak mengerti. “Itu Anies Baswedan, Menteri Pendidikan.”
“Oh yaa?” spontan Kak April langsung bergerak lagi mendekati Pak Anies, dan menjabat tangannya, diiringin oleh tawa kami. Jadi sejak tadi Kak April belum tahu siapa yang dia minta foto bareng? *nepok jidat*

Capek. Pak Anies sudah pergi. Kami mengikutinya sampai pintu keluar. Lalu balik kembali karena kami melupakan kotak kue kami di dalam. Lumayan kan, tidak ikut acaranya tapi bisa ketemu pak Menterinya. Namun, di saat kami kembali untuk mengambil kotak kue, betapa terkejutnya kami karena tiga orang pemuda tengan duduk sambil menghabiskan satu kotak kue. Dan dengan polosnya, lupa siapa yang bertanya pada tiga pemuda itu, “Kamu makan kuenya?”. Salah satu diantaranya, yang mulutnya tampak penuh makanan itu, menggeleng, sambil menyerahkan dua kotak kue yang masih kosong. Kami bergerak meninggalkan mereka sambil menahan tawa. 

Benar-benar malam yang lucu. Dan, di saat kami duduk sambil merenung (lagi) dan tertawa puas. Kami melihat salah satu sosok yang tampak familiar. Mukanya sering di layar kaca dan beberapa orang berfoto dengannya. Tak mau kalah, kami pun bergerak mendekatinya. Meskipun kami belum ingat namanya, dia adalah satu-satunya bintang tamu yang kami bisa berfoto dengannya dengan gambar yang jelas, tidak blur, dan berlari-lari mengejar. Setelah berfoto barulah kami sadar dan ingat namanya. Dia adalah Cah Lontong.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Yang kita lakukan hanya memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan. Dan keputusan itu adalah bagian dari takdir. Kami memutuskan untuk pergi ke acara Mata Najwa meskipun kami tahu akan terlambat. Tapi takdir sudah berkata bahwa meskipun terlambat setidaknya kita bisa memperkenalkan diri pada Pak Anies Baswedan bahwa kami Awardee LPDP dari daerah timur. Hahahah





Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y